Panas Ekstrem Menyebabkan Telur Ayam Menjadi Lebih Kecil

Jumat, 26 Apr 2024, 00:00 WIB

Studi dengan judul Pengaruh Stres Panas terhadap Fisiologi, Metabolisme, dan Kualitas Daging Hewan, di Science Direct, baru-bari ini menyebutkan stres panas adalah salah satu kejadian paling menegangkan dalam kehidupan ternak dengan konsekuensi berbahaya bagi kesehatan hewan, produktivitas, dan kualitas produk.

Dikutip dari The Straits Times, panas ekstrem yang diperkirakan akan melampaui tingkat berbahaya di Filipina pada bulan Mei, tidak hanya menimbulkan banyak korban jiwa, namun juga hewan.

Ket. Foto: Seorang peternak membawa baki berisi telur ayam ke dalam inkubator, di Willgotheim, Prancis, beberapa waktu lalu. Ketebalan cangkang telur pun dipengaruhi oleh panas yang ekstrem. — Sumber: AFP/FREDERICK FLORIN

Penelitian yang ditulis oleh Paula Gonzales-Rivas, Surinder Chauhan, Minh Ha, Narelle Fegan, Fran Dunshea, dan Robyn Warner menyebutkan hewan ruminansia, babi, dan unggas rentan terhadap tekanan panas karena laju metabolisme dan pertumbuhannya yang cepat.

Bahkan, tingkat produksi yang tinggi dan karakteristik spesifik spesies seperti fermentasi rumen, gangguan keringat, dan isolasi kulit juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan.

Pekan lalu, Presiden Asosiasi Dewan Telur Filipina, Francis Uyehara, mengatakan kepada Teleradyo Serbisyo bahwa produsen peternakan sudah mengalami masalah karena panas yang ekstrem, dan menunjukkan produksi telur terpengaruh akibat pengurangan konsumsi pakan. "Masalahnya, telurnya semakin mengecil," kata dia.

Menurut penelitian Dampak Stres Panas pada Produksi Unggas yang diterbitkan oleh Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat, periode stres panas selama 12 hari menyebabkan pengurangan asupan pakan harian sebesar 28,58 gram per unggas sehingga mengakibatkan penurunan produksi telur sebesar 28,8 persen.

Penurunan Produksi

Para peneliti, Lucas Lara dan Marcos Rostango, mengacu pada penelitian sebelumnya, mengatakan penurunan konversi pakan sebesar 31 persen mengakibatkan penurunan produksi telur dan berat telur masing-masing sebesar 36,4 persen dan 3,41 persen. Bahkan, ketebalan cangkang telur pun dipengaruhi oleh panas yang ekstrem.

Adapun untuk daging, studi Pengaruh Stres Panas terhadap Fisiologi, Metabolisme, dan Kualitas Daging Hewan: Suatu Tinjauan, menyatakan tekanan panas akut sesaat sebelum penyembelihan dapat mengakibatkan daging pucat, lunak, dan eksudatif yang ditandai dengan rendahnya kapasitas menahan air.

Sementara itu, tekanan panas yang kronis dapat menyebabkan daging berwarna gelap, keras, dan kering. Stres panas juga menyebabkan stres oksidatif, oksidasi lipid dan protein, serta berkurangnya umur simpan dan keamanan pangan karena pertumbuhan dan pelepasan bakteri.

Berdasarkan Rencana Aksi Nasional El Nino tahun 2023 pemerintah, fenomena tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap pertanian, seperti penurunan produksi pangan, kenaikan harga pangan, dan penurunan pendapatan pertanian.

Sebagaimana dinyatakan oleh Departemen Pertanian dalam buletinnya pada tanggal 16 April, kerugian dan kerusakan pada pertanian telah mencapai empat miliar peso, termasuk 6,95 juta peso di sektor peternakan dan unggas.

Berdasarkan data dari Veterinaria Digital dan Departemen Pertanian AS, yang dikumpulkan oleh merek kesehatan Dr Shiba, di AS, tekanan panas menyebabkan penurunan produksi telur sebesar 0,5 hingga 7,2 persen dan merugikan industri susu sebesar 1,2 miliar dollar AS setiap tahun.

Seperti yang dikatakan Dr Shiba, mengingat indeks panas sering kali melampaui ambang batas aman, penting untuk menjelaskan dampak panas ekstrem pada makhluk hidup, yang sebenarnya tidak berdaya melawan gelombang panas.

Pendiri Pet Partner Philippines, Glenn Albert Almera, mengatakan kepada Inquirer.net, pada tanggal 22 April, bahwa tekanan panas pada hewan terlihat dalam bentuk yang berbeda-beda, bergantung pada tahap stresnya.

"Awalnya, hal ini terlihat dengan peningkatan air liur dan pernapasan yang lebih cepat, dan seiring perkembangannya tanpa intervensi medis, hewan menjadi lesu dan tidak bisa bergerak. Mereka juga bisa muntah, dan dalam kasus ekstrem, hewan yang mengalami stres akibat panas bisa mengalami serangan kejang," katanya.

Berdasarkan situs pemerintah Australia, Agriculture Victoria, peningkatan laju pernapasan, hilangnya nafsu makan, peningkatan asupan air, dan hilangnya kesadaran juga merupakan tanda-tanda stres panas pada hewan.

Penelitian yang dilakukan oleh Rivas R dan tim menyatakan babi dan unggas secara khusus rentan terhadap tekanan panas karena kurangnya fungsi kelenjar keringat dan insulasi kulit yang disediakan oleh lemak subkutan pada babi dan bulu pada burung.

Namun, Almera mengatakan hewan lain juga rentan, dan amfibi dan reptil dianggap memiliki risiko terbesar. "Tetapi, jika kita fokus pada hewan kecil seperti anjing dan kucing, ras tua, berbulu tebal, dan berhidung pendek adalah yang paling rentan terhadap panas ekstrem," katanya.

"Hal ini terjadi karena hewan peliharaan yang sudah tua memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk melakukan termoregulasi, sedangkan ras yang memiliki bulu yang tebal mengumpulkan lebih banyak panas tetapi memiliki kemampuan yang lebih kecil untuk mengeluarkannya dari tubuh," katanya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.