Indonesia Tidak Ingin Melihat Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Jumat, 19 Apr 2024, 00:11 WIBJAKARTA - Indonesia tidak ingin melihat eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul permusuhan terbaru antara Iran dan Israel. Dalam menjalankan langkah diplomasinya untuk membantu meredakan ketegangan, Indonesia telah berbicara dengan sejumlah pihak, termasuk Menlu Hongaria, Peter Szijjarto, yang cukup dekat dengan Israel.
"Kita tahu, perlu kerja keras semua pihak untuk menghindari terjadinya eskalasi konflik. Oleh sebab itu, kita gunakan pengaruh kita agar deeskalasi terjadi," ujar Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, usai mendampingi Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kehormatan Menlu Tiongkok, Wang Yi, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/4).
Dalam menjalankan langkah diplomasinya untuk membantu meredakan ketegangan, seperti dikutip dari Antara, Menlu Retno mengaku telah berbicara dengan Menlu Hongaria, Peter Szijjarto, yang disebutnya cukup dekat dengan Israel.
Pembicaraan melalui telepon tersebut semakin menegaskan peran Indonesia yang ingin membawa pesan perdamaian, setelah sebelumnya Menlu Retno juga telah berbicara langsung dengan Menlu Iran, dan sejumlah negara lain yang dianggap berpengaruh untuk meredakan konflik, seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara-negara Arab.
"Prinsipnya sama, semua pihak yang saya hubungi sama bahwa kita tidak ingin melihat adanya eskalasi," tutur dia.
Pada Sabtu (14/4), Iran menembakkan lebih dari 300 pesawat nirawak dan rudal ke arah Israel, sebagai balasan atas serangan Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus yang menewaskan sedikitnya tujuh anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada 1 April 2024.
Namun, Israel menyebut hampir seluruh drone dan rudal balistik Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Israel dan sekutunya yakni Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Israel mengaku serangan itu hanya mengenai salah satu pangkalan udara militernya, tetapi tidak menimbulkan kerusakan serius.
Mengutuk Serangan
Menyusul perseteruan terbaru itu, hampir 50 negara mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan Iran terhadap Israel dan menyerukan pihak-pihak di kawasan untuk berupaya mencegah eskalasi konflik.
Pernyataan tersebut disampaikan, antara lain oleh perwakilan tetap PBB dari Albania, Argentina, Australia, Austria, Belgia, Inggris, Bulgaria, Kanada, Kroasia, Denmark, Ekuador, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman, Yunani, Hongaria, Islandia, Irlandia, Israel, Italia, Jepang, Latvia, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Mikronesia, Palau, Papua Nugini, Polandia, Portugal, Korea Selatan, Romania, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, Ukraina, dan Amerika Serikat.
"Kami mencatat peningkatan serangan Iran adalah yang terbaru dari pola tindakan berbahaya dan destabilisasi yang dilakukan Iran dan mitra militannya yang menimbulkan ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan internasional," kata negara-negara itu, dalam pernyataan bersama yang dirilis Rabu malam (17/4).
AS, Uni Eropa, dan kelompok negara-negara industri G7 juga mengumumkan rencana untuk mempertimbangkan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran.
Langkah ini bertujuan guna mendukung Israel, dan saat yang sama membujuk Israel menahan niatnya untuk melakukan pembalasan terhadap Iran.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
Indonesia Usul Sidang Darurat DK PBB Gandeng Prancis Terkait Gugurnya Pasukan UNIFIL
-
PDIP: Gugurnya 8 Prajurit TNI di Lebanon Momentum PBB untuk Bersikap Lebih Tegas
-
Potensi Terjadi Hujan Deras di Jakarta Saat Idul Fitri
-
Gandeng Kemenhub, GoTo Fasilitasi Mitra Driver dan Keluarga Mudik Gratis lewat GoMudik
-
Trump: Operasi Militer Iran Lebih Enteng, seperti Sebuah Ekspedisi Singkat
-
Alarm Pangan Berbunyi! Perpres Penyelamatan Segera Diterbitkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.