• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Direlokasi dari Ancaman K...

Direlokasi dari Ancaman Kerusakan

Selasa, 09 Apr 2024, 06:25 WIB

Museum Pergamon di Berlin, Jerman, menampilkan Gerbang Ishtar dari era Babilonia. Sebuah mahakarya arsitektur dengan tinggi 14 meter dihiasi dengan relief batu bata mengkilap berwarna biru, merah, dan kuning.

Di Museum Pergamon Berlin, mungkin banyak orang bertanya bagaimana keajaiban Babilonia ini bisa ada di sana padahal jarak tempat aslinya mencapai 6.000 kilometer di bagian tengah negara Irak, sebuah kawasan subur yang diapit oleh Sungai Tigris dan Eufrat tempat peradaban modern berasal.

Ket. Foto: — Sumber: afp/ JUSTIN TALLIS

Perjalanan mustahil dari pasir Mesopotamia ke aula museum Eropa adalah bagian dari kisah aneh yang menghubungkan sejarah kuno dengan penjarahan institusional di zaman modern. Terinspirasi oleh kisah Menara Babel dan Taman Gantung Babilonia, arkeolog Robert Koldewey dan arsitek Walter Andrae bekerja dengan German Oriental Society berharap mendapatkan artefak untuk dibawa kembali ke museum di Jerman.

Bercita-cita untuk mengungkap kota Babilonia dalam dongeng yang dibangun kembali oleh Nebukadnezar II (604 hingga 562 SM) pada abad keenam SM, apa yang mereka temukan adalah impian seorang arkeolog yang menjadi kenyataan. Penemuan mereka yang paling mengesankan adalah penggalian Gerbang Ishtar pada 1902, dihiasi dengan relief batu bata mengkilap berwarna biru, merah, dan kuning.

Berfungsi sebagai pintu masuk seremonial ke kota kuno Babilonia, salah satu kota metropolitan terbesar di dunia kuno, gebang ini menandai dimulainya Jalan Prosesi Babilonia. Setelah kekalahan Raja Persia Darius III pada 331 SM, Babel secara bertahap ditinggalkan, dan Gerbang Ishtar tersembunyi di bawah lanskap gurun Irak modern.

Selama 15 tahun penggalian, tim Jerman mengumpulkan sejumlah besar artefak, termasuk ratusan kotak berisi ribuan pecahan Gerbang Ishtar yang disusun berdasarkan sistem penomoran yang rumit. Dengan pecahnya Perang Dunia I pada 1914, penggalian ditinggalkan, namun Jerman berhasil menyelundupkan temuannya.

Setelah perang, Andrae yang saat itu menjabat sebagai direktur Museum Timur Dekat Kuno melakukan tugas besar untuk merekonstruksi bagian luar Gerbang Ishtar mulai tahun 1928. Selama dua tahun, tim-tim profesional yang terampil berkumpul dengan cermat. 72 relief binatang, menyerupaipuzzleyang rumit.

Merekonstruksi struktur kolosal, yang tingginya mencapai 15 meter dan lebar 10 meter, memerlukan perencanaan yang cermat dan ketelitian yang sempurna. Mereka juga menugaskan bengkel keramik untuk meniru warna glasir Babilonia kuno yang ditemukan pada pecahan tertentu. Sekitar 80 persen fasadnya terdiri dari batu bata replika modern.

Gerbang yang direkonstruksi ini diselesaikan pada tahun 1930 dan diresmikan di samping Museum Pergamon yang baru didirikan di Berlin. Tempat ini tetap terbuka untuk pengunjung hingga saat ini, menawarkan wawasan tentang kemegahan Babel milik Nebukadnezar lebih dari 2.600 tahun yang lalu.

Meskipun termasuk dalam rekonstruksi arsitektur paling rumit dalam sejarah, kehadiran Gerbang Ishtar di dalam Museum Pergamon telah memicu perdebatan dan kontroversi mengenai warisan budaya dan restitusi. Beberapa suara dalam komunitas internasional menganjurkan pengembalian Gerbang Ishtar ke negara asalnya yang telah menuntut repatriasi yang sah atas peninggalan ikonik ini. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.