Rupiah Kian Terpuruk karena Kekhawatiran Defisit Transaksi Berjalan Melebar

Kamis, 04 Apr 2024, 01:01 WIB

» Tercatat total net capital outflow dari pasar saham dan obligasi dalam negeri mencapai 27,9 triliun rupiah.

» Melemahnya perekonomian global memaksa pelaku pasar menempatkan dananya pada instrumen yang dianggap aman.

Ket. Foto: RENY EKA PUTRI Ekonom Bank Mandiri - Keluarnya modal asing dari pasar dalam negeri juga menjadi penyebab pelemahan rupiah. — Sumber: ANTARA

JAKARTA - Kombinasi faktor eksternal dan internal membuat nilai tukar rupiah terus terpuruk. Meningkatnya risiko itu membuat para pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio dengan mengalihkan investasinya ke aset-aset save haven seperti dollar Amerika Serikat (AS) yang lebih aman.

Mencermati pergerakan rupiah yang dalam beberapa hari terakhir terus terdepresiasi, otoritas moneter yaitu Bank Indonesia (BI) diminta mengambil kebijak yang lebih agresif untuk mencegah rupiah tidak jatuh ke level yang lebih dalam.

Pada pembukaan perdagangan Rabu (3/4) pagi, rupiah tergelincir 36 poin atau 0,22 persen ke level 15.933 per dollar AS dari sebelumnya di level 15.897 per dollar AS.

Ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri, kepada Antara mengatakan pelaku pasar melakukan aksi ambil untung menjelang Hari Raya Idul Fitri 2024 sehingga mempengaruhi volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

"Keluarnya modal asing dari pasar dalam negeri juga menjadi penyebab pelemahan rupiah," kata Reny.

Sentimen dalam negeri, katanya, turut mempengaruhi pelemahan rupiah saat ini. Depresiasi rupiah dari sisi domestik antara lain dipengaruhi oleh repatriasi dividen pada kuartal I-2024 yang cenderung meningkatkan permintaan dollar AS.

Tercatat total net capital outflow dari pasar saham dan obligasi dalam negeri mencapai 27,9 triliun rupiah month to date (mtd) atau 6,6 triliun rupiah secara year to date (ytd).

Dari dalam negeri terdapat kekhawatiran akan melebarnya Defisit Neraca Transaksi Berjalan pada tahun 2024 menjadi -1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari sebelumnya -0,11 persen PDB. Hal itu, terutama disebabkan oleh menurunnya kinerja ekspor akibat melemahnya perekonomian global.

Nilai ekspor Indonesia pada Februari 2024 mencapai 19,31 miliar dollar AS, turun sebesar 9,45 persen (year-on-year/ yoy). Penurunan terutama bersumber dari ekspor nonmigas sebesar 10,15 persen (yoy), akibat penurunan ekspor batu bara, besi, dan baja, serta minyak sawit. Moderasi harga komoditas dan penurunan volume perdagangan global menjadi penyebab menurunnya ekspor nonmigas Indonesia.

Secara sektoral, penurunan terjadi pada ekspor produk industri pengolahan sebesar 11,49 persen (yoy) serta sektor pertambangan dan lainnya sebesar 7,54 persen (yoy), sementara sektor pertanian tumbuh 16,91 persen (yoy). Secara kumulatif, total ekspor pada periode Januari-Februari 2024 mencapai 39,80 miliar dollar AS.

Untuk neraca perdagangan RI pada Februari 2024 masih melanjutkan surplus sebesar 0,87 miliar dollar AS. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Februari 2024 mencapai 2,87 miliar dollar AS.

Dari eksternal, dia melihat ketidakpastian perekonomian global mendorong aliran dana ke aset safe haven seperti dollar AS dan emas sehingga turut berdampak pada volatilitas rupiah saat ini.

"Ketidakpastian perekonomian global mendorong aliran dana ke aset-aset safe haven. Melemahnya perekonomian global dan meningkatnya ketegangan geopolitik memaksa pelaku pasar untuk menempatkan dananya pada instrumen yang dianggap aman (safe haven), seperti dollar AS dan komoditas emas," katanya.

Lebih Berfluktuasi

Diminta terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan perubahan kondisi makroekonomi akan berpengaruh pada nilai tukar, tingkat suku bunga, harga, dan output (Gross Domestic Product/GDP).

Perubahan nilai tukar akan mempengaruhi current account, baik dalam nilai maupun kuantitasnya. "Perubahan nilai tukar juga berpengaruh pada ekuilibrium pasar aset melalui tingkat suku bunga," jelas Esther.

Faktor yang berpengaruh pada keseimbangan pasar aset adalah jumlah uang beredar, tingkat harga domestik, ekspektasi terhadap nilai tukar, lalu tingkat suku bunga luar negeri dan terakhir, pergeseran permintaan uang.

Maka tidak heran, jika nilai tukar berfluktuasi dan distabilkan dengan tingkat suku bunga yang tinggi maka masyarakat biasanya lebih suka menyimpan emas di mana harganya stabil.

"Pemerintah jika ingin mengendalikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS seharusnya mempertimbangkan beberapa faktor ini," kata Esther.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.