Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

3 Langkah Mengenali Balita Stunting Menurut Dokter Anak

📅 Kamis, 28 Mar 2024, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
3 Langkah Mengenali Balita Stunting Menurut Dokter Anak Doc: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Ket. Ilustrasi - Petugas mengukur lingkar kepala balita di Posyandu Banjar Gelogor Carik, Denpasar, Bali, Rabu (18/1/2023).

JAKARTA - Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Damayanti Rusli Sjarif memaparkan tiga langkah mengenali balita stunting (gagal tumbuh) yang perlu diperhatikan oleh kader posyandu.

"Pertama, anak itu harus diukur dengan alat ukur dan cara yang benar, jangan diterawang saja, jangan juga dibandingkan dengan anak-anak tetangganya, enggak boleh itu," kata Damayanti dalam diskusi yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (28/3).

Diskusi Kelas Orang Tua Hebat (Kerabat) kembali diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) secara daring dengan tema "Terdiagnosa stunting, bagaimana perawatannya?"

Damayanti menegaskan alat ukur untuk balita sudah dibagikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di setiap posyandu.

"Ada yang namanya infantometer untuk usia 0-2 tahun dia harus diukur tidur, kalau di atas dua tahun dia harus diukur berdiri, namanya stadiometer," ujarnya.

Cara kedua untuk mengenali balita stunting, lanjutnya, mencatat atauplottingberat dan tinggi badannya dalam pengukuran grafik buku Kartu Ibu dan Anak (KIA).

"Ketiga, kalau sudah terbukti pendek atau sangat pendek, segera dilaporkan ke dokter atau puskesmas, kalau memang ternyata pendek, segera dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)," ucapnya.

Ia menjelaskan balita yang berisiko stunting memiliki tinggi badan di bawah standar 2,1 deviasi yang tertera pada buku KIA. Apabila balita ketika diukur terbukti pendek, maka setelah dirujuk ke RSUD, hanya dokter spesialis anak yang boleh menyatakan balita tersebut terbukti stunting atau tidak.

"Di RSUD, dokter spesialis anak akan membedakan, pendeknya apakah karena kelainan bawaan atau genetik, atau memang karena stunting. Kalau stunting, kita harus perbaiki dengan makanannya," katanya.

"Tetapi kalau pendek karena keturunan, terus kita kasih makanan, hasilnya bisa lain, malah akan gendut atau obesitas, bisa muncul penyakit yang lain," imbuhnya.

Balita berperawakan pendek, lanjut dia, dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan, baik memang terlahir pendek karena genetik, atau disebabkan karena kekurangan gizi jangka panjang.

"Anak kurang gizi itu sering sakit, penyebabnya bisa jadi karena tidak punya jamban dan sumber air bersih, jadi bolak-balik diare. atau sakit melulu, misalnya batuk sampai 100 hari, sebenarnya ini bisa dicegah dengan imunisasi," ujar dia.

Dokter spesialis anak ini juga mengingatkan, yang seringkali tidak terdeteksi yakni bayi lahir di bawah 2,5 kg, atau bayi dengan berat lahir rendah (BBLR).

"Bayi lahir di bawah 2.500 gram itu risiko menjadi stunting 51 persen, kalau tidak segera ditangani oleh dokter spesialis anak, bisa berbahaya, maka segera ditangani agar nanti bisa dilihat apakah ASI-nya kurang, ada alergi, dan mengapa berat badannya tidak naik," tuturnya.

Untuk itu ia menekankan agar balita yang terdeteksi pendek segera dirujuk ke puskesmas atau RS terdekat, karena balita yang stunting otaknya tidak dapat berkembang dengan sempurna.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pelaksanaan program penghapusan bentor

9 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.