- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan Berhasil Mengatasi...
Ilmuwan Berhasil Mengatasi Resistensi Antibiotik oleh Bakteri
Senin, 25 Mar 2024, 00:00 WIBSINGAPURA - Sebanyak dua penelitian yang dilakukan di Singapura baru-baru ini telah memecahkan masalah resistensi antibiotik, yang diperkirakan akan membunuh 10 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya pada tahun 2050 jika tidak ditangani. Demikian laporan yang diterbitkan oleh Kelompok Koordinasi Antar Lembaga tentang Resistensi Antimikroba PBB.
Dalam studi pertama, para peneliti dari Institute for Functional Intelligent Materials (I-FIM) di National University of Singapore (NUS) telah menciptakan senyawa yang berpotensi mengobati infeksi mikobakteri non-tuberkulosis.
Dikutip dari The Straits Times, bakteri yang menyebabkan infeksi itu resisten terhadap pengobatan konvensional karena selubung selnya yang tebal dan kedap air.
Namun, oligoelektrolit terkonjugasi, sejenis antimikroba sintetik, diketahui dapat mencegah dan menghindari resistensi antimikroba dan dapat direkayasa menjadi berbagai agen terapeutik untuk melawan berbagai macam infeksi.
"Struktur unik mereka, yang memfasilitasi interaksi spontan dengan lapisan ganda lipid, memungkinkan mereka menembus pertahanan bakteri yang sering kali menggagalkan obat-obatan yang ada," kata peneliti utama I-FIM, Guillermo Bazan, yang merupakan penulis studi itu.
COE-PNH2, molekul yang dirancang oleh para peneliti I-FIM, telah menunjukkan kemanjuran tinggi melawan Mycobacterium abscessus, salah satu spesies mikobakteri yang paling umum. Senyawa ini menyerang bentuk mikobakteri yang bereplikasi dan tidak aktif, memberantasnya dan mengurangi kemungkinan resistensi atau kambuh.
"COE-PNH2 menunjukkan frekuensi resistensi yang rendah dalam penelitian kami, yang menunjukkan bahwa COE-PNH2 mungkin tetap efektif lebih lama dibandingkan pengobatan yang ada, sehingga memberikan solusi yang lebih tahan lama bagi pasien," kata Bazan.
Masa Pengobatan
Menurut Kevin Pethe dari Nanyang Technological University's (NTU) Lee Kong Chian School of Medicine (LKCMedicine), dengan kombinasi antibiotik konvensional, penggunaan COE-PNH2 pada akhirnya dapat mengurangi masa pengobatan untuk infeksi mikobakteri non-tuberkulosis menjadi dua hingga tiga bulan dari 12 hingga 18 bulan saat ini.
"Karena COE adalah platform antibiotik yang relatif baru, fase selanjutnya dari penelitian ini mengharuskan kita untuk memahami mekanisme kerja obat secara lebih rinci," tambah Pethe, penulis studi lainnya.
Penelitian ini, yang sebagian didanai oleh Inisiatif Kickstart Fakultas Kedokteran NUS Yong Loo Lin, diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science Translational Medicine pada 21 Februari.
Berita Terkait:
-
Sinergi Asean: Filipina dan Singapura Resmikan Kerangka Kerja Pengurangan Emisi Karbon
-
Malaysia Tetapkan Awal Ramadan pada 19 Februari
-
Kabupaten Penajam Komitmen Perkuat Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat, Prioritaskan Pelayanan
-
Panglima TNI Pimpin Prosesi Pemakaman Mayor Zulmi di TMP Cikutra Bandung
-
52 Rumah Warga di Banyuwangi Terdampak Puting Beliung
-
Prediksi Arus Penumpang Bandara Bali pada Libur Akhir Tahun
-
Gigi Mumi Bolivia Tulis Ulang Asal-usul Demam Scarlet
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.