Filipina Tuding Kapal Tiongkok Coba Halangi Ilmuwan

Sabtu, 23 Mar 2024, 02:50 WIB

MANILA - Penjaga Pantai Filipina pada Jumat (22/3) menuduh kapal Tiongkok melakukan manuver berbahaya ketika berusaha menghalangi ilmuwan Filipina mencapai terumbu karang di Laut Tiongkok Selatan (LTS).

Insiden itu terjadi pada Kamis (21/3) di dekat terumbu karang Sandy Cay, beberapa kilometer dari Pulau Thitu yang dikuasai Filipina di Kepulauan Spratly yang disengketakan, tempat kedua negara berulang kali bentrok dalam beberapa bulan terakhir.

Ket. Foto: Amati Terumbu Karang | Foto udara yang dibagikan oleh pihak Penjaga Pantai Filipina pada Jumat (22/3) memperlihatkan tim ilmuwan Filipina mendarat di terumbu karang Sandy Cay dekat Pulau Thitu di Kepulauan Spratly, LTS. Para ilmuwan Filipina itu mendarat di Sandy Cay untuk misi penilaian awal terhadap kondisi terumbu karang dan kehidupan laut sekitarnya.  — Sumber: AFP/Philippine Coast Guard

Konfrontasi antara kapal Tiongkok dan Filipina, termasuk tabrakan, di jalur perairan strategis tersebut telah memperburuk hubungan antara Manila dan Beijing, yang memiliki sejarah panjang sengketa wilayah maritim.

Dalam insiden terbaru, sebuah kapal milik Biro Perikanan dan Sumber Daya Perairan Filipina sedang membawa ilmuwan kelautan ke terumbu karang ketika sebuah kapal Penjaga Pantai Tiongkok melintasi jalurnya dan berada pada jarak 100 meter dari kapal tersebut, kata juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Komodor Jay Tarriela.

Tarriela mengatakan kapal Penjaga Pantai Tiongkok membunyikan sirene selama lebih dari 30 menit untuk menarik perhatian kapal-kapal milisi maritim Tiongkok di daerah tersebut. Namun, Penjaga Pantai Tiongkok mengatakan pada Kamis bahwa 34 warga Filipina telah mendarat secara ilegal di terumbu karang yang mereka sebut sebagai Tiexian Jiao dan Filipina menyebutnya Pagasa Cay 2.

"Petugas penegak hukum Tiongkok mendarat di sana, di mana mereka menyelidiki dan menangani (situasi)," kata juru bicara Penjaga Pantai Tiongkok, Gan Yu, dalam sebuah pernyataan pada Kamis. "Tiongkok dengan tegas menentang tindakan Filipina yang melanggar kedaulatan wilayah Tiongkok dan merusak perdamaian dan stabilitas di LTS. Kami pun mendesak pihak Filipina untuk segera menghentikan pelanggaran tersebut," imbuh dia.

"Itu adalah kebohongan lain yang datang dari Penjaga Pantai Tiongkok," timpal Tarriela pada Jumat.

Tarriela mengatakan tim ilmiah menghabiskan empat jam di dua terumbu karang dan mampu menyelesaikan misinya, meskipun ada kapal dan helikopter militer Tiongkok yang berputar-putar di atasnya.

Tumpukan Puing

Tiongkok mengklaim hampir seluruh LTS, termasuk Kepulauan Spratly, mengabaikan klaim saingan dari negara-negara termasuk Filipina dan keputusan internasional yang menyatakan bahwa pernyataan Tiongkok tidak memiliki dasar hukum.

Penilaian awal terhadap Sandy Cay dan terumbu kedua di dekat Pulau Thitu menunjukkan bahwa ikan dan karang berada dalam kondisi sangat memprihatinkan, kata ahli biologi kelautan Universitas Filipina, Jonathan Anticamara, pada konferensi pers.

Anticamara, yang memimpin misi ilmiah, mengatakan timnya mengamati tumpukan puing yang tidak wajar dan lebar yang lebih tinggi dari manusia di Sandy Cay. "Kami tidak tahu siapa yang menaruhnya di sana," kata Anticamara.

Beberapa negara yang memiliki klaim tumpang tindih atas Kepulauan Spratly, termasuk Tiongkok dan Vietnam, telah mengubah terumbu karang menjadi pulau buatan tempat mereka membangun pelabuhan, landasan udara, dan fasilitas militer.

Reklamasi lahan yang dilakukan Tiongkok telah melampaui reklamasi lahan yang dilakukan negara lain, menurut Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI) yang berbasis di AS. AMTI memperkirakan Tiongkok telah melakukan pengerukan dan pembangunan pulau buatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Kepulauan Spratly sejak tahun 2013, sehingga menciptakan sekitar 1.300 hektare lahan baru. AFP/ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.