Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Filipina Prihatin Meningkatnya Ketegangan di LTS

📅 Kamis, 14 Mar 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Filipina Prihatin Meningkatnya Ketegangan di LTS Doc: AFP/Tobias SCHWARZ
Ket. Kunjungi Jerman l Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr (kiri), dan Kanselir Jerman, Olaf Scholz, saat berbicara pada konferensi pers bersama di kantor Kanselir Jerman di Berlin, Selasa (12/3). Salah satu agenda kunjungan Presiden Marcos Jr ke Jerman yaitu untuk membahas sengketa LTS.

BERLIN - Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, kembali menyatakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Laut Tiongkok Selatan (LTS) saat berkunjung ke Berlin, Jerman. Ia menyampaikan keprihatinan itu setelah bertemu dengan Kanselir Jerman, Olaf Scholz, pada Selasa (12/3), ketika kedua pemimpin negara itu membahas berbagai masalah termasuk konflik di Ukraina, serta hubungan dengan Tiongkok.

"Kita semua menginginkan situasi yang lebih damai di Ukraina dan juga di LTS. Meskipun sengketa di LTS bukan perang secara langsung, yang kami khawatirkan adalah meningkatnya ketegangan yang terjadi," kata Presiden Marcos Jr.

Presiden Filipina itu berharap agar Kanselir Scholz bisa ikut mengatasi ketegangan di LTS saat kunjungan Scholz mendatang ke Tiongkok.

"Kita tentu harus membahas konflik ini, seperti juga banyak lainnya yang berperan. Kami juga melakukan diskusi sangat intensif hari ini tentang situasi di Pasifik, di LTS, dan di Selat Taiwan. Dan semua ini, tentu merupakan isu-isu yang penting disana. Kalau ada hal lain itu mengejutkan," ucap Kanselir Scholz seraya mengatakan dia dan Marcos Jr telah mengadakan diskusi yang sangat intensif mengenai topik tersebut.

Kanselir Scholz juga meminta Tiongkok dan negara-negara di kawasan untuk menyelesaikan ketegangan di wilayah LTS yang disengketakan secara damai.

"Ini tentang mematuhi hukum internasional, menjamin kebebasan navigasi. Kami berupaya memastikan bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dipatuhi oleh semua pihak," kata Kanselir Scholz. "Kami ingin melakukan apa pun yang kami bisa untuk membantu menyelesaikan ketegangan dengan cara damai," tegas dia.

Oleh karena itu, menurut Kanselir Scholz, perundingan Asean mengenai tata perilaku (Code of Conduct/CoC) di LTS adalah hal yang paling penting dan deeskalasi harus selalu menjadi prioritas.

"Kita memiliki UNCLOS, kita memiliki pengadilan arbitrase yang berada di Hamburg. Keputusan penting telah diambil sepanjang tahun ini. Saya yakin sangat penting bagi setiap orang untuk mematuhi peraturan undang-undang yang berlaku," kata Kanselir Scholz.

Sementara itu, Presiden Marcos Jr mengatakan bahwa Filipina berkomitmen terhadap tatanan internasional berbasis aturan, ingin menyelesaikan masalah melalui dialog, namun juga bertekad untuk mempertahankan hak kedaulatannya.

"Kami tidak menolak usulan apa pun yang diajukan Tiongkok kepada kami, namun alasan (Tiongkok) tersebut adalah sesuatu yang kami pertanyakan," kata Presiden Marcos Jr ketika ditanya mengenai tanggapan Filipina terhadap usulan Beijing terkait persoalan maritim itu baru-baru ini.

Reaksi Beijing

Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin, pada Selasa juga menyampaikan komentarnya yang menuduh justru Filipinalah yang menolak bekerja sama dan melakukan tindakan provokatif.

"Tiongkok telah mengusulkan kepada Filipina untuk mengelola situasi maritim dan melakukan kerja sama kelautan dari perspektif hubungan bilateral serta menjaga perdamaian dan stabilitas di LTS. Hal ini sepenuhnya menunjukkan ketulusan dan niat baik Tiongkok dalam menyelesaikan perbedaan melalui negosiasi dan konsultasi," kata Wang. Ant/Anadolu/AP/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

27 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.