Diet Atlantik Dapat Kurangi Risiko Sindrom Metabolik
Minggu, 18 Feb 2024, 19:00 WIBPara peneliti telah menemukan bahwa Diet Atlantik, sebuah pola diet tradisional di Portugal dan Galicia, sebuah wilayah di barat laut Spanyol, dapat membantu mengurangi risiko sindrom metabolik. Sindrom metabolik, juga dikenal sebagai sindrom X atau sindrom resistensi insulin, terdiri dari sekelompok lima elemen risiko, yang jika tidak ditangani, akan meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.
Faktor-faktor risiko tersebut meliputi peningkatan tekanan darah, gula darah, trigliserida, penumpukan lemak perut yang berlebihan, dan penurunan kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL). Konsumsi ikan dan makanan laut yang tinggi, dilengkapi dengan makanan berbahan dasar tepung, buah-buahan kering, keju, susu, serta asupan daging dan anggur dalam jumlah sedang, merupakan ciri khas diet Atlantik.
Temuan studi baru ini didasarkan pada uji klinis acak selama 6 bulan yang dilakukan antara tahun 2014 dan 2015 di A Estrada, Spanyol. Para peneliti bertujuan untuk menyelidiki efek diet Atlantik tradisional terhadap kesehatan manusia, khususnya sindrom metabolik (MetS) dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Jama Network.
Sebanyak 574 partisipan berusia 3 hingga 85 tahun terlibat dalam penelitian ini. Dengan menggunakan tabel angka acak yang dibuat oleh komputer, para partisipan secara acak ditugaskan dengan rasio 1:1 untuk kelompok intervensi dan kontrol.
Percobaan ini menekankan penggunaan diet Atlantik dengan makanan musiman yang segar, lokal, dan diproses secara minimal, termasuk buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun. Semua peserta dinilai asupan makanan, aktivitas fisik, penggunaan obat, dan variabel lainnya pada awal dan setelah enam bulan.
"Dari 457 peserta tanpa MetS (Sindrom metabolik) pada awal percobaan, 23 orang mengalami MetS selama masa tindak lanjut 6 bulan pada kelompok intervensi; 17 orang pada kelompok kontrol). Ada penurunan yang signifikan dalam kasus MetS yang terjadi pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol," tulis para peneliti, dikutip dari Medical Daily, Jumat (16/2).
Namun, penelitian ini mencatat bahwa kelompok kontrol dan intervensi memiliki penurunan skor jejak karbon tanpa perbedaan yang signifikan.
"Temuan kami memberikan bukti penting tentang potensi diet tradisional untuk mempercepat kemajuan dalam mencapai SDG (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB). Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami secara menyeluruh mekanisme yang mendasari di balik hasil yang diamati dan untuk menentukan generalisasi temuan ini ke populasi lain, dengan mempertimbangkan variasi budaya dan pola makan di setiap wilayah," para peneliti menyimpulkan.
Berita Terkait:
-
OpenAI Rilis Fitur Health di ChatGPT, Terhubung ke Apple Health dan Rekam Medis
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
-
Apa Itu "Tai Chi Walking", Apa Manfaatnya Bagi Tubuh?
-
Sinner Hentikan Langkah Djokovic, Tantang Zverev di Final Wimbledon 2026
-
Yura Yunita Hadirkan Series “Main ke Rumah”
-
Waspada, Penyakit Katup Jantung Berkembang Perlahan, Kenali Gejalanya Sejak Dini!
-
TNI Dorong Pelestarian Pesisir di Ambon Melalui Aksi Tanam Pohon dan Mangrove.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.