Pemilu 2024 Jadi Momentum Positif Bagi Ekonomi Indonesia

Jumat, 26 Jan 2024, 00:01 WIB

JAKARTA - Pemilihan Umum (Pemilu 2024) dapat menjadi momentum positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini didukung dengan kondisi perekonomian Indonesia selama 8 kuartal berturut-turut berhasil tumbuh di atas 5 persen hingga kuartal III 2023.

"Pertumbuhan ekonomi di 2023 sudah cukup kuat, dan kita optimis di 2024 akan lebih baik lagi. Apalagi pada kuartal I 2024 ini kita akan menyambut hajatan Pemilu, tepatnya pada 14 Februari 2024. Tentunya hal ini akan menjadi momentum positif bagi Indonesia," kata Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam Investortrust Economic Outlook 2024 di Jakarta, Kamis (25/1).

Ket. Foto: Warga mencoblos surat suara saat simulasi pemungutan dan penghitungan suara Pemilu 2024 di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (24/1). Pemilu 2024 dapat menjadi momentum positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. — Sumber: ANTARA/DEDHEZ ANGGARA

Seperti dikutip dari Antara, Susiwijono mengatakan secara historis periode Pemilu cenderung mendorong aktivitas ekonomi dalam negeri melalui belanja pemerintah dan belanja konsumsi lainnya terutama Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga.

Selain itu, tambah dia, aktivitas Pemilu juga akan menumbuhkan PDB riil dan meningkatkan perputaran jumlah uang beredar. Agenda pembangunan di 2024 juga didukung dengan fokus kebijakan APBN. Kebijakan fiskal dirancang dengan tujuan mengakselerasi target dan prioritas pembangunan nasional.

Agenda transformasi ekonomi seperti hilirisasi sumber daya alam (SDA) baik hasil tambang maupun pangan, juga akan terus dilanjutkan.

"Semangat dan optimisme yang sudah dimiliki harus dilengkapi dengan strategi dan implementasi kebijakan yang didukung semua pihak. Oleh karena itu, sinergi dan kolaborasi para pihak harus dijaga dan diperkuat karena akan menjadi kunci utama mencapai tujuan bersama yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat," ujarnya.

Relatif Kuat

Susiwijono menjelaskan kinerja perekonomian Indonesia menjadi salah satu yang relatif kuat di antara negara sepantaran (peers country) dengan tingkat inflasi yang terkendali dan jauh di bawah rata-rata inflasi di negara berkembang.

Dia menilai, solidaritas perekonomian nasional terutama sekali ditopang oleh konsumsi dan investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto yang terus tumbuh positif.

Kinerja sektor eksternal juga resilien di tengah kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Rasio utang luar negeri terhadap PDB masih terjaga sebesar 28,92 persen, dan kinerja neraca perdagangan juga mampu mempertahankan tren surplus selama 44 bulan secara berturut-turut.

Pemerintah mencatat aktivitas manufaktur Indonesia di level 52,5 dan terus di level ekspansif selama 28 bulan berturut-turut.

"Kita ingin mendorong pertumbuhan industri manufaktur yang menjadi andalan. Di berbagai program, utamanya kita dorong industri manufaktur pengolahan, yang share-nya terhadap PDB di 2023 adalah 19,72 persen," tutur Susiwijono.

Adapun, realisasi investasi di akhir tahun 2023 tercatat mencapai sebesar 1.418,9 triliun rupiah dan melampaui target 1.400 triliun rupiah yang dicanangkan di awal 2023.

"Kemenko Perekonomian juga mengoordinasikan tentang KEK dan PSN, jadi kami tahu persis saat ini banyak investor yang menanyakan peluang berinvestasi di Indonesia. Mereka memang wait and see dengan hasil Pemilu nanti, tapi mereka sudah punya rencana konkret. Sepanjang stabilitas politik nanti terjaga, investasi di tahun ini juga akan lebih baik," jelasnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.