Paratethys, Danau Terluas yang Pernah Ada
Jumat, 05 Jan 2024, 06:10 WIBSebelas juta tahun yang lalu terbentang perairan mulai dari Pegunungan Alpen hingga Asia tengah. Perairan itu adalah sebuah danau dengan nama Paratethys.
Untuk pertama kalinya, penelitian yang dipimpin oleh salah satu ilmuwan bumi Universitas Utrecht, Dr Dan Palcu, mendapat tempat di Guinness Book of World Records. Penelitiannya yang menakjubkan menunjukkan betapa besarnya danau terbesar yang pernah ada di Bumi dengan nama Paratethys.
Guinness World Records menerbitkan satu halaman penuh tentang danau terbesar yang pernah ada di situs web mereka, serta sorotannya di edisi cetak. Temuan ini diperoleh atas kerja sama Dr Dan Palcu dan Laboratorium Paleomagnetik Fort Hoofddijk dari Fakultas Ilmu Bumi Universitas Utrecht.
Mereka memainkan peran penting dalam menentukan dimensi pasti Danau Paratethys. Tim Universitas Utrecht menggunakan teknik yang disebut magnetostratigrafi yaitu menggunakan pembalikan medan magnet bumi untuk menentukan umur lapisan sedimen dari masa lalu agar bisa menentukan ukuran dan volumenya.
Teknik magnetostratigrafi dinilai menjadi kontribusi mereka yag sangat penting bagi kisah menarik danau ini. Dilaporkan sekitar 11 juta tahun yang lalu atau pada masa periode Jura Akhir, benua Eropa terlihat sangat berbeda dengan saat ini. Fitur yang paling mengesankan mungkin adalah Paratethys, sebuah perairan yang membentang dari Pegunungan Alpen di Swiss hingga Asia tengah di negara yang kini disebut dengan Kazakhstan.
Danau besar ini terbentuk melalui peninggian pegunungan di Eropa tengah karena tenaga endogen, sehingga memisahkan lautan kuno dan membentuk danau besar Paratethys. Danau ini kemudian disimpulkan menjadi danau terbesar yang pernah ada di dunia.
Palcu dan rekan-rekannya menentukan proporsi danau besar dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada Juni 2021, seperti dilaporkan laman Universitas Utrecht pada 18 Desember 2023. Pada puncaknya, Paratethys membentang di area seluas sekitar 2,8 juta kilometer persegi, berisi lebih dari 1,8 juta kilometer kubik air payau.
Volume ini lebih dari sepuluh kali lipat dari gabungan semua danau air asin dan air tawar saat ini. Paratethys dicirikan oleh fauna endemik yang unik termasuk Cetotherium riabinini, paus terkecil yang pernah ditemukan dalam catatan fosil.
Krisis Hidrologi
Palcu dan rekan-rekannya mengungkap sejarah penuh gejolak Paratethys, yang ditandai dengan berbagai krisis hidrologi dan periode kekeringan. Selama krisis yang paling parah, danau besar tersebut kehilangan lebih dari dua pertiga permukaan dan sepertiga volumenya, sehingga permukaan air anjlok hingga 250 meter.
Hal tersebut berdampak buruk bagi fauna endemik dan banyak spesies punah. Pada titik tertentu, danau tersebut terisi kembali, menghubungkannya dengan Laut Mediterania dan dengan demikian menjadikannya danau terbesar yang pernah ada ini berakhir.
"Eksplorasi kami terhadap Paratethys lebih dari sekadar rasa ingin tahu. Hal ini mengungkap ekosistem yang sangat responsif terhadap fluktuasi iklim. Dengan mengeksplorasi bencana alam yang dialami danau besar kuno ini sebagai akibat dari perubahan iklim, kami memperoleh wawasan berharga yang dapat menjelaskan jalan untuk mengatasi krisis laut beracun saat ini dan di masa depan seperti Laut Hitam," kata Palcu.
Ia pun menjelaskan bahwa Laut Hitam modern mencerminkan kondisi berbahaya pada zaman dahulu pada era Paratethys. Sebagian besar tidak memiliki oksigen yang menunjang kehidupan, kedalamannya menampung hidrogen sulfida, gas beracun yang berbahaya bagi manusia dan sebagian besar spesies hewan.
Selain itu, sedimennya menyimpan metana yang beku, sebuah gas rumah kaca yang sangat kuat yang dapat dilepaskan ke atmosfer sebagai respons terhadap pemanasan global. Kondisi ini memicu bencana lingkungan.
Palcu, yang saat ini sedang meneliti ketahanan daerah-daerah yang rentan terhadap perubahan iklim dan perubahan yang disebabkan oleh manusia melalui proyek yang didanai Veni, menekankan bahwa memahami Paratethys bukan hanya sebuah perjalanan ke masa lalu yang tragis, tetapi juga sebuah mercusuar harapan untuk masa depan.
"Laut Hitam modern mempunyai potensi untuk menjadi salah satu kawasan penyimpanan karbon alami terbesar di dunia. Stabilitasnya sangat penting dalam membuka kapasitasnya sebagai pelopor inisiatif penyimpanan karbon di masa depan," kata dia.
Penelitian yang dipimpin oleh Palcu dan diterbitkan pada tahun 2021 ini merupakan kolaborasi antara Universitas Utrecht (Belanda), Universitas São Paulo (Brasil), Akademi Sains Russia, Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati dan Iklim Senckenberg (Jerman) dan Pusat Penelitian Iklim dan Keanekaragaman Hayati Senckenberg (Jerman), Universitas Bukares (Rumania). hay/I-1
Berita Terkait:
-
Pemkot Surabaya Hentikan Layanan Kependudukan bagi Ayah yang Terlantarkan Anak dan Hak Mantan Istri
-
Distribusi Pupuk Subsidi Kian Ketat, Pemerintah Libatkan Gapoktan dan Kopdes Merah Putih
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Prabowo: Ini Pertama Kali dalam Sejarah Bangsa Indonesia
-
Inter Milan Masih di Puncak Klasemen walau Main Imbang dengan Napoli 2-2
-
Sejarah Hari Pahlawan Nasional: Dari Pertempuran Surabaya Hingga Simbol Semangat Kebangsaan
-
Mengenang 100 Jam Penataran P4 Pancasila
-
Ngeri! Perusahaan Orang Terkaya Dunia Siap Guyur Investasi ke Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.