• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Landasan Satelit Lepas Pan...

Landasan Satelit Lepas Pantai Jadi Solusi Kepadatan Jadwal Peluncuran

Selasa, 12 Des 2023, 06:10 WIB

Kebutuhan akan satelit kecil pada orbit rendah untuk memenuhi kebutuhan komunikasi seluler saat ini sangat tinggi. Namun saat ini jadwal peluncuran antariksa berbasis darat begitu padat sehingga peluncuran antariksa lepas pantai bisa menjadi alternatif.

Perusahaan satelit kecil mengatakan landasan antariksa di daratan telah gagal memenuhi permintaan jasa peluncuran dari luar angkasa. Oleh karena itu landasan peluncuran lepas pantai (offshore launchpad) mungkin membantu walau memiliki tantangan.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Saya tidak ingin kembali ke dunia di mana kita tidak memiliki komunikasi satelit karena ini akan menjadi dunia yang lebih miskin, lebih lapar, lebih kotor, dan tercemar," kata Tom Marotta dari The Spaceport Company pada lamanDW.

Tapi dunia memiliki masalah, kata Marotta, dan ini disebut "kemacetan" peluncuran antariksa. Peluncuran antariksa di darat di Amerika Serikat (AS) saat ini dianggap sangat padat sehingga tidak dapat meluncurkan satelit terutama satelit kecil.

Satelit kecil berguna untuk melayani permintaan komunikasi seluler yang semakin meningkat saat ini secepat orang-orang menginginkan atau membutuhkannya. Jika peluncuran antariksa begitu padat, muncul pertanyaan apakah sebaiknya mengatasi peningkatan permintaan terlebih dahulu dan meluncurkannya dalam jumlah lebih sedikit?

Ketika jalanan menjadi padat dan udara tercemar, bukankah caranya dengan menganjurkan masyarakat untuk mengurangi berkendara dan lebih memilih bersepeda, atau berjalan kaki. Namun kemacetan di luar angkasa berbeda. Saat ini satelit terus diluncurkan, dan bukan hanya landasan peluncurannya yang padat, namun ruang angkasa itu sendiri.

Orbit Bumi Rendah (low-Earth orbit/LEO), seperti yang banyak dihuni oleh Satelit Starlink milik Elon Musk misalnya. Pada kisaran sekitar 160-2.000 kilometer di atas permukaan tanah, merupakan tempat tujuan sebagian besar satelit.

Satelit pengamatan Bumi yang memantau keadaan lingkungan juga berada di LEO. Orbit rendah ini juga merupakan rumah bagi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), sebuah stasiun yang berfungsi sebagai laboratorium penelitian gaya berat mikro dan lingkungan luar angkasa tempat penelitian ilmiah dilakukan di bidang astrobiologi, astronomi, meteorologi, fisika, dan bidang lainnya.

Di LEO diperkirakan jumlah satelit di luar angkasa berada pada angka antara 58.000 atau hampir 100.000 unit baru pada tahun 2030. Jumlah tersebut naik dari jumlah saat ini yang baru mencapai 5.500 - 6.700 unit.

"Sekarang adalah waktunya untuk membangun lebih banyak landasan peluncuran karena permintaan jasa dari luar angkasa lebih besar dibandingkan sebelumnya," kata Marotta. "Tetapi di AS, hanya empat peluncuran antariksa yang secara rutin mengirimkan satelit ke orbit. Dan seperti yang Anda tahu, Eropa tidak memilikinya," imbuh dia.

Faktanya, Eropa memiliki satu peluncuran antariksa di Kourou di Guyana Prancis, di benua Amerika, alias tidak ada satu pun peluncuran antariksa di benua Eropa. Inggris cukup maju dengan rencananya untuk memilikinya di darat di Sutherland, Snowdonia, dan Cornwall, yang terakhir memiliki lisensi dan operasional. Sedangkan Norwegia memiliki rencana di Andoya.

Peluncuran Bergerak

Ide dasar di balik peluncuran antariksa lepas pantai bergerak terletak pada namanya. Ini adalah landasan peluncuran yang terletak relatif dekat dengan garis pantai tetapi berada di laut, sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi manusia, hewan lain, atau lingkungan darat.

Peluncuran antariksa ini juga bersifatmobile, dioperasikan dari tongkang terbuka, mirip dengan kapal kargo, atauliftboat(juga dikenal sebagai platformjack-up) yang terlihat seperti anjungan minyak.

Karena bersifatmobile, peluncuran antariksa lepas pantai (secara teoritis) dapat bergerak jika kondisi cuaca berubah buruk, dan memungkinkan peluncuran untuk dilanjutkan.

Landasan peluncuran di darat tidak dapat melakukan hal tersebut, dan cenderung bergantung pada kondisi cuaca yang baik. Pakar peluncuran antariksa lepas pantai seperti Marotta atau Alain Pajonk, manajer proyek Aliansi Peluncuran Antariksa Lepas Pantai Jerman (German Offshore Spaceport Alliance/GOSA), mengatakan peluncuran laut tidak memerlukan parit pembuangan asap dan itu membuatnya lebihmobile.

Peluncuran antariksa lepas pantai memang membuat orang bertanya-tanya apakah roket yang diluncurkan di laut akan mendidihkan lautan atau membahayakan kehidupan laut. Mesin roket menghasilkan panas ribuan Kelvin (1.000 Kelvin = 726,85 derajat Celsius, atau sekitar 1.340 Fahrenheit).

Pajonk mengatakan pertimbangan itu tidak relevan. "Kita berbicara tentang beberapa detik, setelah itu kendaraan peluncuran Anda sudah berada pada jarak 700 meter. Hampir tidak ada interaksi dengan air laut. Akan ada sejumlah gas buang dan bahan kimia dari pembakaran, tetapi jumlahnya tidak relevan bagi lingkungan," tutur dia.

Menurut Pajonk, peluncuran antariksa lepas pantai juga harus melayani lebih dari satu jenis roket. Landasan peluncuran di darat cenderung dibangun untuk satu kendaraan peluncur yang spesifik dan seringkali berat, seperti Falcon 9 milik SpaceX, New Glenn milik Blue Origin, atau Ariane 5 dan 6 milik Eropa.

"Anda memerlukan landasan baru untuk kendaraan peluncuran baru dan kami tidak melihat landasan yang dibuat untuk beberapa jenis kendaraan peluncuran," kata Pajonk, yang merencanakan pembangunan peluncuran antariksa di Laut Utara.

Baik Pajonk maupun Marotta mengatakan sebagian besar permintaan komersial saat ini adalah peluncuran satelit kecil dengan roket yang lebih kecil, seperti Vega milik Eropa, Electron milik Rocket Lab, atau Alpha Firefly. Namun memperbaiki berbagai jenis roket di satu tempat mungkin lebih sulit daripada kedengarannya.

"Gagasan bahwa setiap landasan peluncuran, di laut atau di darat, dapat menampung beberapa wahana peluncur yang berbeda secara teori baik-baik saja, namun kenyataannya tidak berhasil," kata Malcolm Macdonald, seorang profesor teknik satelit di Universitas Strathclyde, Glasgow.

"Itu adalah rencana untuk Shetland dan Sutherland (peluncuran antariksa di Inggris), namun keduanya akhirnya mengembangkan landasan untuk setiap kendaraan yang berbeda karena masing-masing memiliki persyaratan yang sedikit berbeda, jadi saya perkirakan sistem peluncuran laut di masa depan akan berakhir pada posisi yang sama," kata dia. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.