Regenerasi Petani Mendesak Dilakukan
📅 Kamis, 07 Des 2023, 09:29 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Regenerasi petani menjadi masalah krusial di sektor pertanian yang harus segera diatasi saat ini. Jika tidak, sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian di Tanah Air hanya akan diisi para petani berusia tua yang sudah tak lagi produktif. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengganggu upaya penciptaan kemandirian pangan.
Direktur Program Indef, Esther Sri Asuti, mengatakan jumlah tenaga kerja pertanian terus turun dari tahun ke tahun. Selama 10 tahun, jumlah pekerja di sektor pertanian hanya bertambah kurang dari 20 persen.
Sensus pertanian pada 2003 menunjukkan jumlah pekerja di sektor pertanian tercatat sebanyak 31 juta orang. Angka tersebut naik lima juta orang dibandingkan catatan pada 2013 sebanyak 26 juta orang. "Saya yakin ada penurunan lagi di sensus pertanian pada 2023. Hal ini disebabkan oleh pertama, jumlah lahan juga menurun karena alih fungsi lahan," tegasnya di Jakarta, Rabu (6/12).
Kedua, lanjutnya, pendapatan dari sektor pertanian tidak mencukupi kebutuhan hidupnya. Ketiga, normalnya petani tidak mau anaknya menjadi petani karena sebagian besar miskin. Keempat, petani selalu diasosiasikan becek, dekil, hitam, dan kotor.
Dari Yogyakarta, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan ada sejumlah hal yang bisa membuat pemilih muda itu bergeser. "Edukasi tentang nilai strategis dan peluang usaha pertanian, aplikasi model usaha pertanian modern berbasis teknologi tepat guna dan teknologi digital, berikan tantangan dan insentif bagi petani milenial dan petani Z," tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendidikan Rendah
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tantangan pengembangan sektor pertanian di Indonesia adalah rendahnya pendidikan petani dan banyaknya petani berusia tua. Hal itu berpengaruh pada rendahnya produktivitas di sektor pertanian.
Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti menyebut petani di Indonesia mayoritas hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar (SD). "Rendahnya produktivitas di sektor pertanian salah satunya juga dikontribusikan karena tenaga kerja pertanian atau mayoritas hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar," kata Amalia, awal pekan ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
BPS mencatat, kata Amalia, total petani yang menamatkan pendidikan hingga SD berjumlah 75 persen dari total tenaga kerja pertanian. Selain tingkat pendidikan, Amalia menyebut tantangan selanjutnya di sektor pertanian adalah usia petani yang mayoritas lebih dari 45 tahun. Berdasarkan catatan BPS, 58 persen petani di Indonesia berusia lebih dari 45 tahun.
"Ada tren pekerja di sektor pertanian cenderung menua dan ini merupakan perhatian kita bersama," ucap Amalia.
Amalia menyebut pihaknya mendorong berbagai pihak untuk mengupayakan adanya regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian. Hal ini perlu dilakukan untuk menggenjot produktivitas di sektor pertanian.
Di sisi lain, Amalia menyebut pertanian di Indonesia relatif tangguh di tengah ketidakpastian global. "Sektor pertanian terus tumbuh positif, meski di tengah pandemi Covid-19. Pada 2020, Indonesia pertumbuhannya mengalami kontraksi, tapi sektor pertanian mampu tetap tumbuh positif kepada kisaran 1,8 persen dan sampai saat ini terus tumbuh," kata Amalia.
Pada 2022, ujar Amalia, pertumbuhan sektor pertanian di Indonesia mengalami penguatan sebesar 2,25 persen dan hingga kuartal III-2023, pertumbuhan tersebut tetap positif dengan angka sekitar 1,34 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!