BRIN Sebut Teknologi Ozon Jadi Solusi Kurangi Sampah Makanan
Sabtu, 25 Nov 2023, 00:20 WIBJakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan teknologi ozon yang dipakai untuk pengawetan bisa menjadi solusi untuk mengurangifood lossatau sampah makanan terutama dari pasca panen.
Periset Teknologi Tepat Guna BRIN Anto Tri Sugiarto dalam keterangan di Jakarta, Jumat, mengatakan ozon lebih baik dari ultraviolet dalam membunuh mikroba, virus, jamur hingga bakteri, sehingga hasil pertanian bisa disimpan lebih lama.
"Gas ozon merupakanallotropesebagai bentuk lain dari gas oksigen dan dari prosesnya secara alami terbentuk di alam," kata Anton.
Komoditas hortikultura mengalami kehilangan hasil pertanian sekitar 35 persen, bahkan bisa mencapai 50 persen. Pada masa penyimpanan produk pertanian mengalami penurunan mutu berkaitan langsung dengan perubahan sifat fisik, kimia maupun mikrobiologi.
Oleh karena itu, teknologi penanganan produk pertanian untuk mempertahankan mutu, kesegaran, dan keamanan menjadi sangat penting mengingat adanya peningkatan tuntutan konsumen yang ingin produk pertanian lebih berkualitas, kondisi segar serta aman.
Anto menjelaskan bahwa ozon memiliki efek bakterisida kuat yang mampu menghancurkan mikroorganisme, seperti virus dan bakteri. Bahkan, ozon dalam bentuk nano dapat meningkatkan transfer massa ozon dan efektivitas dalam oksidasi serta penghilangan patogen berbahaya.
"Teknologi airnanobubbleozon dapat mengurangi residu pestisida dan memperpanjang umur simpan," ucapnya.
Lebih lanjut Anto mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk negara produsen pertanian, tetapi banyak membuang produk pertanian yang mengakibatkan impor pangan.
Setiap penduduk Indonesia menghasilkanfood loss300 kilogram per tahun. Kondisi itu lantas menempatkan Indonesia berada pada urutan ketigafood lossdanfood waste. terbesar dunia setelah Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Aplikasi ozon gas maupun cair mampu menghilangkan kontaminasi pestisida dan menginaktivasi mikroorganisme. Kontribusi teknologi ozon terhadapfood lossdanfood wastemulai dari penanaman (pupuk), pasca panen, penyimpanan, distribusi sampai ke tempat konsumen mencapai 5 hingga 20 persen.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemerintah Aceh Dorong Revisi UUPA demi Stabilitas Daerah dan Keberlanjutan Dana Otsus
-
Inovasi BRIN Dorong Energi Hidrogen Bersih
-
Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Begal Terbanyak di Wilayah Penyangga dan Jakbar
-
BPJS Ketenagakerjaan dan Jasa Raharja Luncurkan Integrasi Aplikasi Penjaminan Kecelakaan.
-
Gubernur Sulsel Sebut Kopdes Merah Putih Jadi Pusat Ekonomi Desa
-
41% Kebun Rakyat Jadi Kunci Produksi Nasional, Tapi Legalitasnya Masih Jadi Tantangan
-
Festival Humanoid Kota Tua 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.