Apakah Kendaraan Otonom Lebih Aman?
Selasa, 31 Okt 2023, 06:25 WIBMeskipun memiliki sistem otomatis yang sempurna, tidak diragukan lagi kendaraan otonom akan menjadi pengemudi yang lebih baik daripada manusia. Menurut Ramanarayan Vasudevan, seorang insinyur yang meneliti kendaraan otonom di Universitas Michigan, menyatakan bahwa sistem yang sempurna seperti itu tidak ada. Kemampuan sebagai manusia untuk membuat jutaan baris kode dengan cara yang 100 persen benar hampir mustahil karena alasan yang sama bahwa manusia tidak sempurna dalam mengemudi.
Ketika ditanya apakah menurut dia kendaraan otonom lebih aman daripada dengan pengemudi manusia, Vasudevan umumnya setuju dengan Shladover. "Saya rasa cerita tersebut tidak sejelas yang diharapkan oleh para penggemar mobilself-driving," kata Vasudevan.
Selain keselamatan, salah satu keunggulan kendaraan otonom yang sering dipuji adalah bahwa mobil tanpa pengemudi akan meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan transportasi sekaligus mengurangi kebutuhan akan kepemilikan mobil. Alasan lainnya adalah bahwa lebih banyak kendaraan jenis ini dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan memudahkan perencanaan kota.
Kendaraan otonom memungkinkan berkomunikasi satu sama lain dan memastikan bahwa kendaraan tersebut mengikuti rute terbaik pada waktu yang tepat dengan benar. "Namun kemungkinan-kemungkinan ini belum menjadi kenyataan dan mencapainya bukanlah suatu jaminan," kata Dan Chatman, peneliti perencanaan kota dan transit di UC Berkeley.
Meskipun dia optimis terhadap AV dan bersemangat dengan potensinya di San Francisco, Chatman mengakui bahwa ada versi masa depan di mana taksi robot menyebabkan lebih banyak masalah daripada penyelesaiannya. Hal-hal tersebut dapat memperburuk perluasan wilayah perkotaan, menyumbat jalan alih-alih meringankan lalu lintas, dan menghalangi masyarakat untuk menggunakan bentuk transportasi yang paling ramah lingkungan seperti bersepeda, berjalan kaki, dan angkutan umum.
"Banyak hal bergantung pada sejauh mana peraturan tersebut diatur," kata dia.
Ada kebijakan yang dapat mendorong masyarakat untuk meninggalkan mobil, sepertiroad pricing, yang akan memastikan bahwa biaya lingkungan dan sosial yang sebenarnya dari pengoperasian kendaraan, baik yang digerakkan oleh manusia atau robot, ditanggung oleh operatornya.
"Kami belum melakukan pekerjaan yang baik dalam mengatur mobilitas mobil secara umum. Jadi ini adalah kesempatan bagi kita untuk mengkalibrasi ulang cara kita menangani mobil," kata Chatman.
Ada dua kemungkinan jalan yang ada di hadapan jalan pertama dengan peraturan yang tepat, kehati-hatian dan transparansi, dan jalan lainnya tanpa peraturan tersebut. Taksi robot mungkin bisa menyetir sendiri, tapi tetaplah manusia yang bisa memilih rute mana yang akan diambil. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Jasamarga Pantau Terus Jalan Berlubang di Tol Jakarta–Cikampek
-
Tingkatkan Pelayanan Penyebrangan, Ditjen Hubdat Gelar Bimtek Pemeriksaan SPM Kapal
-
Gubernur NTB Hubungi Dubes RI untuk Pastikan Warganya Aman di Timur Tengah
-
Tinjau Terminal BBM Plumpang, Badan Perlindungan Konsumen Nasional Pastikan Cek Kualitas Dilaksanakan Berlapis
-
Tingkat Polusi Udara di Laos Memprihatinkan
-
Lestari Moerdijat Dorong Aksi Nyata untuk Atasi Krisis Pembelajaran dan Jawab Tantangan Pendidikan di 2026
-
ROSA (Robot Sampah): Solusi Inovatif Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.