Indonesia Miliki Potensi Sangat Besar untuk Kembangkan Energi Surya Terapung

Sabtu, 28 Okt 2023, 00:00 WIB

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan Indonesia memiliki potensi sangat besar dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung atau floating photovoltaic untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

"Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki lautan luas sebenarnya bisa menempatkan lokasi itu untuk panel surya," kata Periset Metalurgi BRIN, Aga Ridhova, dalam acara Kolokium Metalurgi yang dipantau di Jakarta, Jumat (27/10).

Ket. Foto: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) — Sumber: ISTIMEWA

Di Pulau Sumatera, potensi energi surya mencapai 48.000 terawatt hours (TWh) per tahun dengan potensi PLTS terapung sebanyak 94,7 persen, Pulau Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil punya potensi 11.500 TWh dengan potensi PLTS terapung 53,8 persen, dan Kalimantan memiliki potensi energi surya 29.400 TWh dengan potensi PLTS terapung sebesar 97,3 persen.

Seperti dikutip dari Antara, di Sulawesi ada 50.200 TWh dengan potensi PLTS terapung mencapai 96,9 persen serta Maluku dan Papua yang memiliki potensi energi surya sebanyak 51.200 TWh dengan potensi PLTS terapung mencapai 99,7 persen.

"Potensi sel surya di Indonesia sangat besar tidak hanya bisa digunakan di daratan, tetapi juga floating photovoltaic yang lokasinya sangat strategis. Sekarang yang baru digunakan baru ada satu lokasi, yaitu Waduk Cirata di Jawa Barat," ujar Aga.

Permintaan energi di Indonesia saat ini sekitar 300 TWh, sedangkan permintaan energi diperkirakan bisa mencapai angka 9.000 TWh pada tahun 2050.

Tantangan Berat

Aga menyampaikan bila Indonesia hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga batu bara saja yang sumber dayanya terbatas dan tidak bisa dibuat kembali, pemenuhan kebutuhan energi Indonesia di masa depan dapat menghadapi tantangan berat.

"Kita membutuhkan energi baru terbarukan yang bisa terus ada dan dimanfaatkan secara berkepanjangan, salah satunya air, gelombang laut, angin, biomassa, ataupun panas bumi yang bisa mencapai 1.240 TWh. Sementara kalau kita bandingkan dengan potensi floating photovoltaic bisa mencapai ratusan ribu terawatt hours kalau dimanfaatkan secara baik," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBT) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), A Feby Misna, menilai penggunaan PLTS Atap menghemat 20-30 persen biaya beban pengeluaran listrik rumah tangga per bulan.

"Menurut data pelanggan Kementerian ESDM, keberadaan PLTS Atap dapat menghemat tagihan listrik masyarakat sekitar 20-30 persen," kata Feby.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.