Penurunan Produksi Padi Lebih Buruk dari Perkiraan Pemerintah
Sabtu, 14 Okt 2023, 00:04 WIB» Sisa stok beras yang dilansir Bapanas 600 ribu ton hanya bisa mencukupi hingga akhir tahun.
» Kementerian Pertanian memperkirakan El Nino tahun ini bisa menurunkan produksi beras hingga 1,2 juta ton.
JAKARTA - Penurunan produksi padi nasional tahun ini akibat el nino akan lebih buruk dari perkiraan pemerintah. Sebab, beberapa daerah produsen padi yang sedang panen dengan hasil yang masih cukup baik ditopang oleh infrastruktur irigasi yang baik seperti di Subang dan Indramayu. Sedangkan, di banyak daerah lainnya, jaringan irigasinya sudah rusak.
Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gajah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto di Yogyakarta, Jumat (13/10) mengatakan untuk mengetahui situasi nyata dari produksi pangan nasional, Presiden semestinya mengecek langsung ke daerah-daerah dengan kondisi irigasinya kurang baik yang tentu kekurangan air dan dipastikan produksinya menurun.
"Semestinya Presiden tidak hanya mengunjungi Indramayu, karena daerah tersebut irigasi teknisnya relatif baik. Data dari Badan Pusat Statistik menyebutkan jaringan irigasi kita rusak hingga 60 persen, sehingga Presiden akan tahu bahwa perkiraan penurunan produksi pasti lebih besar dari sekadar 1,2 juta ton atau 4 persen," kata Dwijono.
Saluran irigasi jelas Dwijono berkontribusi sekitar 20 persen terhadap produktivitas padi sehingga dapat dipastikan akan terjadi penurunan produksi minimal 6 persen.
"Kalau melihat harga beras yang tak kunjung turun kita bisa lebih percaya penurunan produksi lebih dari 1,2 juta ton," kata Dwijono.
Dia juga menyoroti sisa stok beras yang dilansir Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang hanya tersisa 600 ribu ton. Padahal setiap bulan Indonesia membutuhkan pasokan 200 ribu ton dari Bulog untuk bantuan langsung. Dengan demikian, stok beras yang ada hanya bisa mencukupi hingga akhir tahun. Sementara, panen raya tahun depan diperkirakan baru berlangsung pada Maret hingga April.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau panen raya di Indramayu, Jawa Barat, Jumat (13/10) mengatakan produksi pangan nasional dengan adanya El Nino ini telah memicu kekeringan dan menurunkan kapasitas produksi.
"Saya melihat ke bawah itu untuk memastikan bahwa produksi itu masih baik, tetapi memang turun karena super El-Nino," kata Jokowi.
Presiden mengatakan produksi padi secara nasional masih dalam kategori baik meskipun terjadi penurunan karena El Nino.
Kendati demikian, dampak El Nino kata Presiden tidak perlu dipersepsikan bisa menimbulkan kengerian bagi ketahanan pangan Indonesia karena produksi pangan masih terus terjadi.
"Jangan nanti kita terkondisikan wah keliatan ngeri sekali, enggak. Produksi masih baik, tetapi memang terganggu sedikit oleh super El-Nino," kata Presiden.
Di Indramayu, produksi panen kata Presiden terbilang masih baik karena irigasi yang berjalan optimal. Dari 1 hektare lahan pertanian, dapat menghasilkan 8-9 ton gabah atau rata-rata 8,6 ton per hektare.
"Harga gabahnya sekarang membuat semua petani senang, di kisaran 7.200- 7.400 rupiah per kilogram, semua petani senang, tetapi ada yang enggak senang, konsumennya," kata Presiden.
Untuk mengendalikan harga beras di tingkat konsumen, Kepala Negara meminta Bulog segera menggelontorkan pasokan ke pasar. Di Bulog, terdapat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 1,7 juta ton. Jadi pasokan yang akan segera masuk ke pasar sebanyak 500-600 ribu ton beras.
"Cadangan pangan kita kondisinya aman, tetapi memang kita butuh beras ini juga untuk masuk ke pasar harga bisa turun sedikit demi sedikit," kata Presiden.
Menurut data Kementerian Pertanian, El Nino pada tahun ini bisa menurunkan produksi beras hingga 1,2 juta ton. Adapun target produksi beras pada tahun ini mencapai 30 juta ton.
Intervensi Teknologi
Pengamat Ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan harus ada intervensi teknologi untuk mengatasi super El Niño salah satunya dengan rekayasa cuaca yaitu mengusahakan hujan buatan secara berkala.
Selain itu harus membangun dan memperbaiki jaringan irigasi serta memantau debit airnya agar selalu cukup. Hal yang tidak kalah penting adalah penyediaan bibit unggul yang tahan hama dan produktivitasnya tinggi serta menjamin ketersediaan pupuk di tingkat petani dengan harga yang terjangkau.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Jepang Sita Kapal Nelayan Tiongkok di Lepas Pantai Nagasaki, Kapten Kapal Ditangkap
-
Nepal Gelar Pemilu Penting Pasca Gelombang Demo Gen Z yang Menggulingkan Pemerintahan
-
Musim Parsel Tiba, Pedagang Dadakan Bermunculan di Palu
-
Stok Beras Dipastikan Aman! Mentan Klaim CBP 4,6 Juta Ton Cukup Antisipasi Krisis Global dan Kekeringan
-
17 Hektare Hutan Lindung dan Cagar Alam Diurus Izin untuk Perbaikan Jalan Malalak di Sumbar
-
Pemprov Babel Pastikan Stok Beras Cukup Selama Ramadan
-
Stok Cadangan Beras 4,5 Juta Ton, Kementerian Pertanian Pastikan Pangan Aman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.