Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani Belum Dapat Keuntungan

📅 Jumat, 29 Sep 2023, 11:36 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Petani Belum Dapat Keuntungan Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Petani belum mendapat keuntungan dari usaha tani yang dijalankan. Kemudian tidak ada jaminan bahwa usahanya juga untung.

Hal ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan tidak terjadinya regenerasi petani. Anak muda enggan menjadi petani.

"Tidak akan ada generasi muda yang akan tertarik terjun ke dunia usaha yang tidak menguntungkan seperti usaha pertanian. Ini mengkhawatirkan, karena rata-rata usia petani kita di atas 50 tahun. Muaranya dengan tidak adanya regenerasi akan berdampak pada produksi dan ketersediaan pangan nasional," kata Ketua Umum HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) Fadli Zon di Jakarta, Selasa (26/9).

Fadli yang adalah Anggota DPR RI itu memandang kondisi ini sebagai bahaya besar yang harus diantisipasi. Dia menilai solusi dari masalah tersebut adalah usaha tani harus dijamin untung.

Rumus dasarnya ialah biaya pokok produksi harus diturunkan dan hasil produksi dijamin dibeli dengan minimal 30 persen dari biaya pokok produksi.

"Tersedianya pupuk yang murah menjadi hal utama untuk menekan biaya pokok produksi usaha tani. Tentunya selain murah juga ketersediaannya dijamin saar dibutuhkan. Minimal pupuk murah dan selalu tersedia ini untuk jenis urea," katanya.

Selanjutnya, biaya sewa lahan yang tinggi yang ditentukan oleh pemilik lahan harus diturunkan dan diatur oleh regulasi yang jelas. Hal ini penting, karena sewa lahan salah satu biaya pokok produksi yang signifikan. Selain itu, sebagian besar petani adalah hanya penggarap, bukan pemilik lahan.

"Dengan biaya pokok produksi yang turun dan HPP gabah yang menjamin keuntungan 30 persen untuk petani yang disesuaikan setiap tahun akan meningkatkan kesejahteraan petani dan menjadi daya tarik generasi muda untuk terjun ke sektor usaha pertanian," pungkasnya.

Anomali Harga

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Yadi Sofyan Noor menegaskan pada tahun ini cukup anomali sebab harga bergejolak sementara produksi beras lebih dari cukup dan aman-aman saja.

"Justru anomali pasar ini yang perlu ditelusuri karena faktor pembentuk harga itu ya terkait juga sistem logistik, sistem distribusi, transportasi, juga struktur pasar dan perilaku pasar, terjadinya dinamika harga juga efek psikologi pasar dari pengaruh bias informasi krisis ekonomi global, iklim ekstrim, pasca covid dan lainnya," tutur Yadi.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Indef, Rusli Abdullah mengatakan kenaikan harga beras saat ini tidak berarti di tingkat petani harganya naik. "Justru petani tidak mendapat untung, yang untung hanya pedagang besar," ucap Rusli.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Pameran Batik Jadi Pilihan ...
Luar Negeri
Ilmuwan Ungkap Gletser Swis...
Advertisement
Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

Rocky Gerung Ungkap Tugas Wantimpres: Harus Kritis terhadap Kebijakan Presiden Prabowo

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.