Masyarakat Harus Ubah Pola Pikir untuk Cegah 'Stunting'
Sabtu, 23 Sep 2023, 01:01 WIBJAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan dengan menggencarkan makan telur dan ikan lele, sebagai bahan pangan lokal dengan kandungan protein hewani tinggi dapat memenuhi gizi anak dalam rangka mencegah stunting.
"Yang harus kita lakukan secara serius adalah mengubah pola pikir, bagaimana agar masyarakat mau mengkonsumsi makanan yang bisa betul-betul signifikan bisa mengatasi stunting, telur mengandung DHA dan omega 3, ikan lele juga kaya protein," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Jakarta, kemarin.
Hasto menjelaskan, konsumsi telur dan ikan lele menjadi bagian yang terus dikampanyekan oleh BKKBN karena mudah didapatkan, mengingat tidak semua masyarakat tinggal di dekat laut dan mudah mendapatkan protein dari ikan laut.
"Meskipun kandungan telur kalah dengan ikan tuna, itu menjadi bagian yang terus kita sosialisasikan karena mudah diakses, begitu juga ikan lele karena memang disediakan di lokal dan memang mengandung protein hewani, itu yang kemudian kita kampanyekan terus menerus," ujar Hasto.
Selain mengandung protein tinggi, harga telur dan ikan lele juga lebih murah, sejalan dengan misi BKKBN untuk terus mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat untuk mengutamakan produk lokal ketimbang impor.
Daun Kelor
Selain protein hewani, BKKBN juga mengkampanyekan daun kelor (moringa) yang mengandung protein esensial asam amino. Hasto juga mengatakan, BKKBN terbuka untuk bekerjasama dengan para mitra demi mengubah pola pikir masyarakat tentang makanan tinggi gizi tersebut.
"Memang BKKBN fungsinya sebagai lembaga user, bahwa itu bagus dan kemudian kita kampanyekan. BKKBN juga perlu mengubah pola pikir masyarakat terkait dengan makanan, reproduksi dan lingkungan," ucapnya
Sementara itu, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia bersama BKKBN menjalin kerja sama untuk meningkatkan literasi tentang stunting bagi masyarakat.
Hal ini diwujudkan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Perpusnas dan BKKBN yang digelar dalam acara "Peer Learning Meeting National 2023" di Yogyakarta. "Faktor keterbatasan informasi yang dapat dijangkau oleh masyarakat, utamanya informasi terkait upaya penanggulangan stunting menjadi salah satu penyebab tingginya angka stunting di Indonesia," kata Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando dalam keterangan resmi di Jakarta, kemarin.
Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan dengan penandatanganan nota kesepahaman ini, diharapkan ada langkah yang sangat masif, sehingga angka stunting nasional yang saat ini 21,6 persen (berdasarkan Survei Status Gizi Nasional) bisa turun 3,8 persen menjadi 17,8 persen, dan sesuai target Presiden Joko Widodo di akhir Tahun 2024 angka 14,9 persen bisa tercapai.
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Basarnas Sulut Tingkatkan Kapasitas Personel Hadapi Bencana
-
5 Rekomendasi HP Gaming Terbaik untuk Pemula hingga Pro!
-
Ada Faktor Budaya di Balik Tingginya Angka Stunting di Jateng, Begini Penjelasannya!
-
Lemahnya Regulasi, Iklan dan Kental Manis Yang Mengancam Kesehatan Anak Indonesia
-
Mengganggu dan Diduga Tidak Berizin, Wali Kota Bekasi Setop Proyek Galian Pemasangan Kabel Optik
-
Hindari Sanksi, BUMN Pertambangan Diminta Serahkan Laporan Tahunan Tepat Waktu. Jangan Telat!
-
Kemenekraf Berharap Industri Kreatif Mampu Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.