Siapkan SDM Andal Hadapi Ledakan 'Artificial Intelligence'
Rabu, 23 Agu 2023, 00:04 WIBJAKARTA - Pemerintah harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan andal dalam menghadapi ledakan minat pada Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Pentingnya memiliki SDM andal karena di satu sisi AI bisa mengambil alih beberapa pekerjaan, namun di sisi lain juga membuka lapangan kerja baru yang tentu membutuhkan skill (keahlian) yang mendukung AI tersebut.
Seorang analis pasar kerja dan penasihat bisnis, Eli Amdur, di Forbes menyatakan AI juga membutuhkan lebih banyak keterampilan dan penguasaan daripada yang lainnya. Setidaknya ada 17 keterampilan (skill) yang dibutuhkan oleh para teknisi AI (Koran Jakarta, 21/8).
Sebuah penelitian Organisasi Buruh Sedunia atau International Labour Organization (ILO) menyebutkan AI atau kecerdasan generatif mungkin tidak akan mengambil alih seluruh pekerjaan sebagian besar orang, melainkan akan mengotomatisasi sebagian tugas mereka, sehingga membebaskan para pekerja untuk melakukan tugas-tugas lain.
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa pekerjaan di bidang administrasi kemungkinan besar akan menjadi pihak yang paling terkena dampaknya, dan berpotensi memberikan dampak yang lebih besar terhadap lapangan kerja perempuan, mengingat keterwakilan perempuan yang berlebihan di sektor tersebut, terutama di negara-negara kaya.
Ledakan minat terhadap AI generatif dan aplikasi chatbot-nya telah memicu kekhawatiran akan hilangnya lapangan kerja, seperti kekhawatiran yang muncul ketika jalur perakitan bergerak diperkenalkan pada awal 1900-an dan setelah komputer mainframe pada 1950-an.
"Sebagian besar pekerjaan dan industri hanya terpapar pada otomatisasi, sehingga lebih mungkin melengkapi, bukan menggantikan AI. Dampak paling penting dari teknologi ini kemungkinan besar adalah peningkatan pekerjaan," kata ILO,
Adapun pekerjaan yang mungkin paling terpengaruh oleh GenAI yang mampu menghasilkan teks, gambar, suara, animasi, model 3D, dan data lainnya, adalah pekerjaan administrasi, di mana sekitar seperempat tugas sangat rentan terhadap potensi otomatisasi.
Laporan juga menyebutkan sebagian besar profesi lain, seperti manajer dan pekerja penjualan, hanya sedikit yang terdampak. Kendati demikian, laporan ILO memperingatkan dampak AI generatif terhadap pekerja yang terkena dampak masih bisa bersifat "brutal".
"Oleh karena itu, bagi para pembuat kebijakan, penelitian kami tidak boleh dibaca sebagai suara yang menenangkan, melainkan sebagai seruan untuk memanfaatkan kebijakan guna mengatasi perubahan teknologi yang sedang terjadi," katanya.
Pekerjaan Baru
Peneliti Ekonomi Indef, Nailul Huda yang diminta pendapatnya mengatakan kemungkinan besar tenaga kerja perempuan memang akan tergerus oleh teknologi AI. Akan tetapi, ada pekerjaan baru juga yang menunjang sistem AI itu sendiri. Bidang analis misalkan, mungkin akan digantikan oleh AI, tapi AI itu kan merangkum dengan algoritma, sedangkan fenomena itu tidak inline dengan algoritma saja," kata Nailul.
Menurut dia, yang pasti akan ada sesuatu yang menyimpang dari algoritma dan itu merupakan tugas manusia untuk menangani.
Terkait dengan woman worker, sebenarnya bukan cuman perempuan yang terancam pekerjaannya, tetapi juga laki-laki, meskipun laki-laki punya potensi lebih besar untuk bisa adaptif dengan AI.
Semua itu, ungkap Nailul Huda kuncinya pada kualitas SDM. ""Yang paling pasti adalah penyiapan SDM yang melek digital, bisa dimulai dari sekolah tingkat dasar. Terutama untuk yang perempuan. Pada dasarnya orang akan lebih maju daripada sistem, sehingga penting mempersempit ketimpangan digital. Bukan hanya soal wilayah, tetapi juga ketimpangan gender yang melek teknologi," katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya) Bambang Budiarto, mengatakan, potensi AI mengambil alih lahan kerja perempuan maupun laki-laki memang patut diwaspadai. Jika kekhawatiran itu menjadi kenyataan, akan berdampak pada stabilitas ekonomi. Namun bagaimanapun manusia memiliki sejumlah kelebihan yang tidak tergantikan dalam pengambilan keputusan.
"Kehadiran AI memang terasa tiba-tiba namun nyata, dan semua orang seolah pasang kuda-kuda guna menghadang berbagai kemampuan dan intelegensia-nya," kata Bambang.
Tidak terkecuali kaum wanita, dampak dari AI diyakini mampu meruntuhkan kecukupan jumlah ketenagakerjaan sungguh tidak dapat dipandang sebelah mata. Ketenagakerjaan, sebagai salah satu indikator makro ekonomi, jika sudah terdampak, otomatis guncangan ekonomi pasti juga terjadi.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Potensi Bambu RI Menggiurkan, Kemenperin Siapkan SDM Bersertifikat
-
PLN Jamin Pasokan Listrik di 15.000 Hunian Sementara bagi Korban Bencana Sumatra
-
Liga Inggris: Wolves Degradasi, West Ham Ambil Poin Krusial, Tekanan untuk Tottenham Meningkat
-
Hadapi Tantangan di Masa Depan, Ini Strategi OBI Ciptakan Anak Indonesia Tangguh
-
Bengkulu Diminta Fokus Ekonomi Biru dan Hijau, Sinyal Arah Baru Investasi Daerah?
-
Bupati Natuna Cen Sui Lan Serahkan Bantuan Pupuk dan Pestisida untuk Korban Karhutla di Bunguran Batubi
-
Bonus Demografi Bisa Jadi Boncos Demografi! Ini Bahayanya Jika SDM Digital Lemah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.