Hambatan Ekspor ke Sesama Asean Harus Dihapus
Kamis, 03 Agu 2023, 00:03 WIBJAKARTA - Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan supaya hambatan dagang sesama negara-negara Asean dihapuskan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Gapmmi, Adhi S Lukman, menanggapi sikap pemerintah Malaysia yang masih menolak produk-produk makanan berbasis daging sapi asal Indonesia karena isu penyakit mulut dan kuku (PMK).
"Tadi saya baru dapat laporan produk kita masih belum diterima di Malaysia, yang berbasis sapi, karena PMK," katanya ditemui seusai konferensi pers Agri-Food Tech Expo Asia 2023 di Jakarta, Rabu (2/8).
Wabah PMK pertama kali dikonfirmasi masuk Indonesia pada 5 Mei 2022 di Jawa Timur. Namun, kondisi PMK saat ini sudah sangat jauh menurun dari masa puncak pada Juni 2022 setelah upaya pencegahan dan pengendalian oleh Satuan Tugas (Satgas) PMK yang diketuai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menurut Adhi, seharusnya produk olahan yang telah melalui sejumlah proses pengolahan sudah bisa dipastikan keamanannya.
"Padahal produk jadi itu harusnya aman. Dari sisi keamanan pangan, penyakit, semua aman karena sudah diproses dan sudah melewati berbagai uji. Tapi, sampai sekarang Malaysia masih menolak," katanya.
Penolakan, katanya, sebagai upaya untuk menghambat perdagangan dan melakukan proteksionisme yang kini banyak dilakukan banyak negara seperti Eropa lewat kebijakan hijaunya.
Langkah-langkah proteksionisme serta upaya saling hambat, khususnya di Asean, diharapkan bisa dibahas dalam KTT Asean pada September mendatang. Hal itu sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadikan kawasan tersebut menjadi pusat pertumbuhan global lewat kolaborasi.
"Kita berharap ini bisa menjadi pembahasan dan mencari solusi bersama. Karena kita mau tidak mau harus saling mendukung antar-Asean supaya bisa mengatasi masalah-masalah seperti kekurangan pangan dan climate change," katanya.
Harus Ditanggulangi
Peneliti Ekonomi Indef, Nailul Huda, mengatakan permasalahan PMK kan sudah bisa dikendalikan dari tahun lalu, tapi masih bisa berpotensi muncul kembali sehingga harus benar ditanggulangi dengan melakukan sinergi ke daerah.
Di sisi lain, papar Huda, harusnya Malaysia juga membuka impor daging sapinya karena tidak semua daerah terkena PMK sapi.
Sementara itu, pakar peternakan Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya, Emy Koestanti Sabdoningrum, mengungkapkan untuk mencegah penularan wabah PMK adalah dengan memvaksin sapi-sapi yang sehat, sedangkan yang sakit segera dirawat agar sembuh.
"Selain itu perlu ada tindakan pencegahan dalam mengurangi risiko penularan penyakit menular lewat pengendalian biosecurity dengan pembatasan lalu lintas bagi manusia dan hewan yang masuk ke kandang," kata Emy.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Myanmar Merasa Dikucilkan oleh Asean
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Hasil Liga Italia: Imbang tanpa Gol, AC Milan dan Juventus Tak Beranjak di Klasemen
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
Produksi olahan daging kurban dalam kemasan kaleng
-
Edukasi Gigi dan Mulut di Sekolah, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Sejak Dini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.