Fenomena yang Ciptakan Badai dan Hujan Lebat
Kamis, 27 Jul 2023, 06:25 WIBTemperatur lautan yang lebih tinggi, yang terkait dengan gelombang panas laut (marine heat wave/MHW) dapat menciptakan beberapa hal negatif. Panas di lautan bisa menciptakan badai seperti angin topan dan siklon tropis menjadi lebih kuat.
Dengan suhu yang lebih hangat, laju penguapan meningkat dan begitu pula perpindahan panas dari lautan ke udara. Saat badai melintasi lautan panas, mereka mengumpulkan lebih banyak uap air dan panas. Ini menghasilkan angin yang lebih kuat, curah hujan yang lebih lebat, dan lebih banyak banjir ketika badai mencapai daratan yang berarti kehancuran yang meningkat bagi umat manusia.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), setengah miliar orang bergantung pada terumbu karang untuk makanan, pendapatan, dan perlindungan. Jadi ketika gelombang panas laur menghancurkan terumbu ini, umat manusia yang mengandalkannya juga menanggung bebannya.
Laporan IUCN menunjukkan bahwa gelombang panas laut memiliki dampak sosial-ekonomi yang mendalam bagi masyarakat pesisir. Misalnya, pada 2012, gelombang panas laut di atas Samudra Atlantik barat laut menyebabkan spesies laut yang menyukai air hangat bergerak ke utara dan bermigrasi lebih awal dari biasanya.
Dampaknya mempengaruhi ekonomi perikanan yang menargetkan spesies tersebut di Amerika Serikat. Semua konsekuensi bencana ini akan menjadi lebih buruk karena dunia terus menjadi lebih hangat, membuat gelombang panas laut lebih intens dan lebih lama.
Gelombang panas laut dipengaruhi oleh pemanasan global. Sebuah studi pada tahun 2018 berjudulGelombang Panas Laut di Bawah Pemanasan Globalyang diterbitkan dalam jurnalNaturemenyatakan bahwa dengan suhu global yang melonjak, gelombang panas laut menjadi lebih tahan lama, lebih sering dan intens dalam beberapa dekade terakhir.
"Antara tahun 1982 dan 2016, kami mendeteksi dua kali lipat jumlah hari MHW, dan angka ini diproyeksikan akan meningkat lebih lanjut rata-rata dengan faktor 16 untuk pemanasan global 1,5 derajat Celsius relatif terhadap tingkat pra industri dan dengan faktor 23 untuk pemanasan global 2,0 derajat Celsius," kata studi tersebut seperti dilaporkanIndian Express.
Lebih penting lagi, disebutkan bahwa 87 persen gelombang panas laut disebabkan oleh pemanasan yang disebabkan oleh umat manusia. Penelitian menunjukkan bahwa lautan telah menyerap 90 persen panas tambahan yang disebabkan oleh pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer dari pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan dalam beberapa dekade terakhir. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Kerajinan Sokung Jelang Imlek di Tulungagung
-
Terbongkar! Peserta UTBK di Universitas Tidar Diduga Curang Pakai Alat Bantu Dengar Elektronik
-
Warga Malang Selatan Geger, Dikira Rudal Balistik BMKG Ungkap Ternyata Sampah Antariksa
-
Lestari Moerdijat: Ketidaksesuaian antara Kebutuhan Pasar Kerja dan Kualitas Pencari Kerja Berpendidikan Tinggi Harus Segera Diatasi
-
Duel Guard Maut: Archibald vs Branch, Siapa Raja Baru di Lapangan GMSB Jakarta
-
Fokus dan Efektivitas Modal Aldila/Janice ke Semifinal
-
Rupiah Masih Rentan, 30 April 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.