Olahraga Hanya di Akhir Pekan Tetap Bagus untuk Kesehatan Jantung
Minggu, 23 Jul 2023, 13:00 WIBOlahraga menjadi aktivitas penting untuk menjaga kesehatan tubuh, terutama jantung. Pedoman aktivitas dari banyak kelompok medis terkemuka termasuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Asosiasi Jantung Amerika telah lama merekomendasikan agar orang berolahraga setidaknya 150 menit per minggu untuk kesehatan jantung yang optimal.
Namun, pedoman tersebut masih simpang siur mengenai kapan orang harus berolahraga dan apakah penting bagi mereka untuk membagi waktu berolahraga secara merata dalam beberapa hari dalam seminggu atau melakukan sebagian besar olahraga pada hari Sabtu dan Minggu.
Sekarang sebuah studi baru, yang diterbitkan pada di JAMA, menunjukkan bahwa dalam hal kesehatan jantung, waktu berolahraga mungkin tidak sepenting jumlah aktivitasnya. Para ilmuwan memeriksa data hampir 90 ribu orang yang mengenakan akselerometer untuk mengukur tingkat aktivitas mereka secara obyektif dan menemukan penurunan yang sama dalam risiko kejadian seperti serangan jantung dan stroke baik untuk pejuang akhir pekan maupun orang yang melakukan beberapa latihan selama seminggu penuh.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kemungkinan besar durasi total dari aktivitas sedang hingga berat, bukan polanya, yang paling penting untuk risiko kardiovaskular," kata penulis utama studi ini, Shaan Khurshid, seorang ahli elektrofisiologi di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan seorang instruktur di Harvard Medical School di Boston, dikutip dari Everyday Health, dikutip Kamis (20/7).
"Hasilnya, aktivitas yang lebih terkonsentrasi tampaknya menghasilkan pengurangan risiko yang sama dengan aktivitas yang lebih merata," lanjutnya.
Untuk penelitian ini, para peneliti meminta partisipan mengenakan akselerometer selama satu minggu untuk melihat seberapa banyak aktivitas fisik yang mereka lakukan dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat atau bersepeda di tanah datar atau intensitas berat, seperti lari atau bersepeda di bukit.
Hampir 38 ribu orang disebut sebagai pejuang akhir pekan yang aktif, yang berarti mereka melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat (MVPA) dan melakukan setidaknya setengah dari olahraga mereka di akhir pekan. Sekitar 21 ribu orang lainnya yang aktif melakukan setidaknya 150 menit MVPA dengan kurang dari setengah olahraga mereka di akhir pekan. Dan sekitar 30 ribu peserta dianggap tidak aktif karena mereka melakukan aktivitas fisik kurang dari 150 menit.
Setelah sekitar enam tahun masa tindak lanjut, baik pejuang akhir pekan maupun orang yang aktif secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kejadian penyakit kardiovaskular daripada peserta yang tidak aktif, menurut hasil penelitian.
Pejuang akhir pekan 27 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami serangan jantung, 38 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gagal jantung, 22 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami gangguan irama jantung yang dikenal sebagai fibrilasi atrium, dan 21 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stroke, demikian hasil penelitian tersebut.
Demikian pula, orang yang aktif yang menyebarkan latihan mereka secara lebih merata selama seminggu memiliki kemungkinan 35 persen lebih kecil untuk mengalami serangan jantung, 36 persen lebih kecil untuk mengalami gagal jantung, 19 persen lebih kecil untuk mengalami fibrilasi atrium, dan 17 persen lebih kecil untuk mengalami stroke.
Salah satu keterbatasan dari penelitian ini adalah bahwa para peneliti hanya mengukur tingkat aktivitas selama satu minggu, dan ada kemungkinan bahwa kebiasaan berolahraga kemudian berubah dengan cara yang mungkin mempengaruhi hasil.
Meski begitu, hasil penelitian ini memberikan bukti baru bahwa masuk akal jika pedoman olahraga menekankan pada jumlah total aktivitas yang dilakukan seseorang daripada durasi latihan individu, kata Peter Katzmarzyk, salah satu penulis editorial yang menyertai penelitian di JAMA dan direktur eksekutif asosiasi untuk populasi dan ilmu kesehatan masyarakat di Pusat Penelitian Biomedis Pennington di Baton Rouge, Louisiana.
"Inilah sebabnya mengapa rekomendasi kesehatan masyarakat telah bergeser dari 30 menit sehari menjadi 150 menit per minggu," ucapnya.
"Tidak ada bukti kuat bahwa aktivitas fisik harus dilakukan setiap hari untuk mendapatkan manfaat kesehatan - dan penelitian ini benar-benar menunjukkan bahwa mengumpulkan jumlah aktivitas yang sama selama beberapa hari dalam seminggu, dibandingkan dengan menyebarkannya, memiliki manfaat yang sama," lanjutnya.
Gregory Katz seorang ahli jantung dan asisten profesor di NYU Grossman School of Medicine di New York City, yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan, orang-orang yang kesulitan untuk mencapai 150 menit aktivitas fisik dalam seminggu harus diyakinkan bahwa setiap latihan kecil yang mereka lakukan dapat membantu, bahkan jika mereka tidak melakukan latihan yang lama dan intens.
Menurut dia yang paling penting adalah mulai bergerak dan tidak perlu banyak atau intensitas tinggi.
"Beranjak dari tidak sama sekali menjadi sedikit demi sedikit memiliki manfaat terbesar dari semua jenis perubahan dalam berolahraga. Bagi orang yang kelebihan berat badan, atau lebih tua dan takut akan risiko cedera saat berolahraga, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah berjalan kaki dan aktif bergerak," tuturnya.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi
Berita Terkait:
-
Presiden Prabowo Kunjungi Banyumas dan Cilacap Usai dari RSUD Bekasi
-
Perang Iran: Apa Saja yang Terjadi pada Hari ke-48
-
Chelsea Akhiri Era Singkat Rosenior Usai Lima Kekalahan Beruntun
-
Line Up Synchronize Fest 2026 Fase 1: Daftar 17 Musisi dan Jadwal Festival
-
Wajib Tahu! Kurang Tidur di Usia 40-an dan 50-an Bisa Meningkatkan Risiko Alzheimer di Kemudian Hari
-
Trump Ingin Capai Kesepakatan Besar dengan Iran
-
Perut Anda Buncit? Jalan Kaki 10 Menit Sehabis Makan Solusinya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.