Antisipasi Hadapi El Nino Lemah
Senin, 10 Jul 2023, 08:38 WIBJAKARTA - Antisipasi menghadapi kemarau ekstrem atau El Nino masih lemah. Sejumlah pemerhati masalah pangan menilai sosialisasi terhadap masyarakat terkait dampak buruk El Nino minim, begitu juga dengan langkah antisipasi yang telah dilakukan. Dikhawatirkan El Nino menjadi alasan untuk menambah impor pangan.
"Sejauh ini eksekusi yang masih lemah dan baru sebatas peringatan saja tentang El Nino, kemudian jadi alasan untuk impor dan diinformasikan kalau ada ancaman kekurangan air," ungkap Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi, pada Minggu (9/7), merespons laporan Badan Meteorologi Dunia (Word Meteorological Organization, WMO) terkait El Nino.
Qomar menerangkan bahwa yang dibutuhkan masyarakat ialah peringatan dini daerah daerah yang berpotensi terdampak El Nino ini, kemudian mengidentifikasi dan menyiapkan kebutuhan kebutuhan untuk pengendalian dampaknya seperti sumber daya manusia (SDM) peralatan, logistik, dan operasional.
Hal lainnya juga ialah skema asuransi untuk usaha tani dan ternak juga perlu disiapkan. Begitu pula pengembangan teknologi teknologi baik di petani yang sudah terbukti mampu lebih tahan terhadap perubahan iklim, seperti benih dan pupuk.
Ia mencontohkan hasil dari pertanian agroekologi di Tuban yang sukses. Itu dikembangkan oleh anggota serikat petani Indonesia (SPI). Itu bisa mengimbangi pertanian konvensional dengan biaya yang lebih murah, dan lebih ramah lingkungan.
Antisipasi yang dihadapkan Qomar ialah seperti di Tuban, tanam lebih cepat dari pada biasanya juga untuk antisipasi kalau pertengahan tahun, terjadi kekeringan karena El Nino.
Dia mengakui, dari lapangan, memang ada beberapa laporan kekeringan, bahkan ada yang sampai gagal panen, tetapi banyak juga tempat yang gagal panen karena kebanjiran.
Peneliti Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, secara khusus menyoroti masalah pangan.
Menurut dia, dampak El Nino akan sangat terasa di Indonesia di mana bisa menjadi kekeringan. Maka, penyediaan stok oleh Bulog menjadi penting, salah satunya melalui penyerapan dari dalam negeri.
"Penyerapan dalam negeri Bulog sangat buruk sekali pada dua tahun ini, makanya stok jadi rendah. Pada akhirnya impor lagi, impor lagi," ucapnya.
"Bagi Petani tentu menjadi sebuah kerugian, sudah mereka akan kehilangan produktivitas, ditambah lagi harga akan tertekan impor. Sudah kepleset tertimpa tangga pula," ujar Huda.
Minim Sosialiasi
Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, berharap jangan sampai bencana pangan sebab bisa mengakibatkan kerusakan parah sehingga rakyat kekurangan bahan pangan atau terserang wabah penyakit mematikan akibat El Nino.
Namun, antisipasi harus dilakukan oleh seluruh masyarakat. "Pemerintah perlu melakukan sosialisasi agar masyarakat waspada terhadap bencana tersebut," tegasnya.
Hanya yang disayangkan, papar Eugenia, sampai hari ini belum pernah ada sosialisasi dari pemerintah, dari tingkat pusat sampai RT mengenai antisipasi bencana.
"Ancaman El Nino seharusnya menggerakkan pemerintah untuk membuat sistem tanggap bencana yang disosialisasikan kepada seluruh masyarakat sebab cuaca ekstrem ini erat kaitannya dengan masalah pangan," tandasnya.
Redaktur: andes
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Pemerintah Genjot Riset Cip lewat Insentif Pajak
-
Puncak Arus Mudik pada H-4 Lebaran 2026 di Terminal Leuwipanjang Bandung
-
Sampah Bikin Rontok Omzet Pedagang
-
Waspada Macet, 3 Stasiun KRL Ini Bakal Jadi Titik Paling Padat Saat Lebaran 2026
-
Perdagangan Satwa Dilindungi Terbongkar. 2 Pelaku Penjual Tapir Ditangkap di Pasaman.
-
Pohon Tumbang Menimpa Dua Kendaraan di Pasar Atas Curup Rejang Lebong
-
PAM Jaya Kembangkan Inovasi Ciptakan Air dari Udara dan Kurangi Plastik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.