Efektivitas AI Kurangi Kemacetan Diragukan

Selasa, 04 Jul 2023, 05:23 WIB

JAKARTA - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan Pemprov DKI untuk mengatur lalu lintas diragukan efektivitasnya sehingga didorong untuk dievaluasi. Sebab, kemacetan masih terjadi di mana-mana. Desakan evaluasi ini disampaikan anggota DPRD DKI, Gembong Warsono, Senin (3/7).

"Perlu dievaluasi karena tingkat kemacetan Jakarta hingga saat ini tidak berkurang," jelas Gembong. Menurut dia, evaluasi perlu dilakukan agar anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) DKI dampaknya benar-benar maksimal bagi warga Jakarta.

Ket. Foto: Kepadatan kendaraan bermotor terjadi di Jalan Benyamin Sueb ke arah arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) JIExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (25/6/2023). — Sumber: ANTARA/Aditya Pradana Putra/pras

Menurut Gembong, evaluasi penerapan AI diperlukan untuk membandingkan kemacetan sebelum dan sesudah penerapan program tersebut. Jika dapat mengurangi macet, kebijakan tersebut bisa ditingkatkan sebagai regulasi permanen untuk mengatur lalu lintas.

Namun jika tidak, Dinas Perhubungan harus kembali berinovasi dan bekerja sama dengan instansi terkait guna mengatasi kemacetan.Gembong juga minta Dishub terbuka dengan data kemacetan Jakarta pascapemberlakuan program tersebut. Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa mengetahui tingkat keberhasilan penerapan sistem AI.

Sebelumnya, Dishub DKI Jakarta menyebut sebanyak 20 simpang sudah menggunakan teknologi AI untuk membantu mengurangi kemacetan. "Jadi, ada dua puluh simpang yang sudah menerapkan prinsip AI dengan intelligent transport system di lampu lalu lintas," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo.

Menurut Syafrin, penerapan kecerdasan buatan cukup berpengaruh dalam memantau dan melakukan pengaturan waktu di lampu lalu lintas (traffic light) berdasarkan informasi basis data internal Google. Selain itu, penerapan AI juga dapat memperkuat fungsi sistem manajemen lalu lintas (adaptif forces) yang dijalankan dan menghitung secara aktual volume lalu lintas di simpang.

Dengan teknologi tersebut, Dishub dapat mengetahui perbandingan antara kapasitas jalan dan kepadatan lalu lintas di jalan tersebut (vc ratio). Jadi, traffic light tersebut dapat melihat kaki simpang mana yang padat. Maka, di titik itulah yang akan diberikan prioritas lampu hijau lebih banyak atau lama.

Kemudian, dengan penerapan teknologi AI ini Dishub juga memberikan prioritas terhadap rute angkutan umum seperti Transjakarta. Tahun ini, Syafrin akan menambah 40 simpang lagi untuk dipasangi AI sebagai upaya mengurangi kemacetan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.