KBRI: Perayaan Hubungan Diplomatik Indonesia-Vatikan Diabadikan lewat Perangko

Sabtu, 15 Nov 2025, 19:25 WIB

KOTA VATIKAN - Di Museum Vatikan, Mgr Paul Richard Gallagher dan Mgr Emilio Nappa meluncurkan perangko baru bersama Dubes RI untuk Takhta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono. Perangko ini menjadi penanda ulang tahun ke-75 hubungan diplomatik Indonesia dan Takhta Suci.

Hadir sejumlah duta besar dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Belanda, dalam acara tersebut. Sejumlah pejabat Vatikan, pejabat Museum Vatikan, serta Ketua dan Anggota Dewan Pengawas TVRI juga hadir.

Ket. Foto: — Sumber: KBRI Takhta Suci Vatikan    

Perangko rancangan Patrizio Daniele menampilkan Lambang Takhta Suci dan Lambang Negara Indonesia. Lambang Takhta Suci digambarkan melalui dua kunci bersilang dan mahkota tiara tiga tingkat.

Kedua unsur lambang itu dilengkapi salib emas di puncak tiara. Simbol tersebut merepresentasikan kekuasaan spiritual Paus dan makna ketiga fungsi kepausan.

Di tengah kedua lambang terdapat gambar burung merpati yang mengepakkan sayap. Di bawahnya tercantum tahun 1950–2025 sebagai penanda usia hubungan kedua negara.

Kedua lambang negara dihubungkan pita merah putih serta pita kuning putih. Menurut Dubes Trias, desain ini menggambarkan misi bersama mengenai keilahian dan kemanusiaan.

Di bagian atas tertera tulisan ‘CITTA DEL VATICANO’ sebagai penanda Negara Kota Vatikan. Di bawahnya tertera tulisan ’75 Relazioni Diplomatiche Santa Sede – Indonesia’ dengan nilai perangko 3,35 euro atau sekitar Rp65 ribu.

Dalam sambutannya, Mgr Gallagher menjelaskan latar belakang pengakuan Takhta Suci terhadap kemerdekaan Indonesia. Ia menyebut dukungan itu berakar pada prinsip hak menentukan nasib sendiri.

Mgr Gallagher menegaskan tujuan diplomasi Takhta Suci tidak berorientasi ekonomi atau militer. Diplomasi tersebut fokus mendorong perdamaian dan kebebasan beragama melalui dialog.

Ia menjelaskan diplomasi Vatikan berakar pada sejarah panjang dialog dan kerendahan hati. Pendekatan ini memprioritaskan tindakan nyata demi kebaikan bersama umat manusia.

Diplomasi Takhta Suci berfokus pada penerjemahan harapan menjadi tindakan diplomatik. Mgr Gallagher menekankan pentingnya “menjadi tetangga” demi melayani kebaikan bersama.

Ia menyampaikan kebanggaannya karena umat Kristiani di Indonesia tetap aktif dalam pendidikan. Umat juga bergerak dalam bidang kesehatan serta kegiatan sosial kemasyarakatan.

Indonesia, kata Mgr Gallagher, dapat menjadi mitra dalam mencapai tujuan bersama. Ia menyebut nilai Pancasila selaras dengan nilai kemanusiaan yang dijunjung Takhta Suci.

Ketika membahas Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, ia mengingat pesan Paus Fransiskus. Saat itu Paus mengatakan kerukunan keberagaman menuntut semangat persaudaraan bagi kebaikan bersama.

“Keseimbangan yang bijaksana dan peka ini harus dijaga dari ketidakseimbangan,” kata Paus Fransiskus ketika itu. Ia menekankan pentingnya memelihara persatuan tanpa menghilangkan keragaman budaya.

Karya seni seperti perangko ini melibatkan seluruh rakyat Indonesia. Karya itu mengajak masyarakat berjuang bagi kerukunan, kesetaraan, dan perdamaian.

Penanda Sejarah

Dubes Trias Kuncahyono berterima kasih karena Takhta Suci mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947. Ia juga menyampaikan apresiasi atas penerbitan perangko untuk menandai hubungan ke-75 tahun.

Menurut Dubes Trias, perangko bukan sekadar alat bayar surat menyurat. Perangko turut menjadi penanda sejarah hubungan dua negara yang memiliki visi sama.

Ia menyebut perangko dapat menjadi media visual nilai keberagaman dan identitas nasional. Perangko juga dapat berfungsi sebagai alat diplomasi di kancah internasional.

“Perangko, juga bagian dari identitas, bagian dari second track diplomacy,” kata Dubes Trias. Ia menegaskan nilai simbolik perangko sebagai media representasi bangsa.

Mgr Emilio Nappa mengagumi prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia menilai perangko sebagai hasil budaya bernilai tinggi dan penuh makna.

Menurut Mgr Nappa, Pancasila selaras dengan nilai Kristiani seperti persaudaraan. Ia memandang Pancasila sebagai cara membangun masyarakat yang damai dan adil. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.