Apa Gunanya Naik Kelas kalau Daya Beli Merosot

Selasa, 04 Jul 2023, 00:04 WIB

» Presiden mengingatkan situasi yang dihadapi Indonesia tidak mudah pada semester II-2023.

» Kurs rupiah jangan sampai melemah tidak terkendali dan harga pangan melambung.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: Worldbank - KJ/ONES

JAKARTA - Indonesia diminta tidak cepat merasa puas setelah Bank Dunia memasukkan kembali ke dalam klasifikasi negara berpendapatan menengah atas atau upper middle income countries. RI kembali ke posisi tersebut terhitung per 1 Juli 2023 berdasarkan pendapatan nasional bruto (gross national income/ GNI) per kapita dalam dollar AS terkini.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/7), mengatakan proses pemulihan yang cepat menyebabkan RI kembali ke upper middle income countries, setelah turun ke kelompok lower middle income countries pada 2020 karena pandemi Covid-19.

Meski demikian, Presiden mengingatkan situasi yang dihadapi Indonesia tidak akan mudah pada semester II-2023 karena instabilitas lingkungan global dan ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.

"Ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan yang melemah, kelihatan ekspor kita juga menurun, kemudian berbagai lembaga internasional memprediksi perlambatan ekonomi global, ini juga harus betul-betul kita lihat," kata Jokowi.

Presiden juga mewanti-wanti mengenai pergerakan tingkat suku bunga dan inflasi global yang masih relatif tinggi. Selain itu, terdapat fragmentasi perdagangan global yang menghambat kerja sama multilateral.

Bank Dunia membagi perekonomian menjadi empat kelompok berdasarkan pendapatan, yakni berpendapatan rendah (low) dengan pendapatan GNI per kapita kurang dari 1.135 dollar AS, negara berpendapatan menengah rendah (lower-middle) dengan GNI per kapita 1.136 hingga 4.465 dollar AS, negara berpendapatan menengah tinggi (upper-middle) dengan GNI per kapita 4.446 hingga 13.845 dollar AS dan berpendapatan tinggi (high income) dengan pendapatan di atas 13.845 dollar AS.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, yang diminta pendapatnya mengatakan ketika naik kembali ke posisi upper middle income countries, memang Indonesia akan memperoleh manfaat berupa bunga pinjaman yang lebih rendah di pasar karena rating utangnya lebih baik, sehingga lebih dipercaya investor dan mitra dagang.

"Tetapi, jangan senang dulu, Indonesia juga akan lebih banyak meminjam dari skema pasar bukan menggunakan skema hibah dan skema pinjaman lunak (soft loan) yang bersifat bilateral-multilateral," kata Bhima.

Selain itu, fasilitas perdagangan seperti Generalized System of Preferences (GSP) yang merupakan fasilitas ekspor ke AS, bisa dievaluasi karena Indonesia dianggap sudah tidak layak mendapat fasilitas penurunan tarif dan bea masuk ke negara maju.

Sementara itu, peneliti ekonomi, Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendi Manilet, mengatakan Indonesia saat ini menghadapi tantangan bagaimana menumbuhkan perekonomian yang lebih tinggi dalam jangka menengah panjang agar bisa keluar dari middle income trap.

Bangun Desa

Dari Surabaya, pakar pertanian UPN Veteran Jawa Timur, Zainal Abidin, mengatakan untuk mempertahankan posisi Indonesia dalam upper middle income countries di tengah ketidakpastian global, pemerintah perlu membangun korporatisasi pertanian yang kuat terutama di perdesaan agar terjadi pemerataan.

"Dengan pertanian yang maju, kemandirian pangan bisa kita rintis dan capai sehingga menghemat devisa. Kuncinya adalah konsep agropolitan dilakukan oleh petani di perdesaan, bukan pemilik modal, supaya mereka bisa menjual produk bernilai tambah dan petani bisa mendapat keuntungan yang adil sehingga terjadi pemerataan pendapatan di desa," kata Zainal.

Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan semua pengambil kebijakan, baik menteri, kepala daerah, maupun Gubernur BI harus menerjemahkan kerisauan Presiden Jokowi.

"Inflasi dan suku bunga global jadi perhatian utama Presiden, bahkan meminta kepala daerah tidak segan-segan mengeluarkan dana tambahan untuk stabilitas harga pangan," kata Susilo.

Bank Indonesia, jelasnya, juga harus benar-benar mengantisipasi melemahnya rupiah dengan kebijakan suku bunga. Jangan sampai rupiah melemah tidak terkendali dan harga pangan melambung.

"Apa gunanya jadi negara pendapatan menengah atas, tapi daya beli merosot, rakyat jadi miskin" pungkas Susilo.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.