Pemetaan Sentra Produksi Diperlukan
Kamis, 15 Jun 2023, 08:52 WIBJAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan pemetaan sentra produksi dan neraca komoditas untuk pangan pokok strategis diperlukan untuk memahami potensi daerah dan melakukan pemerataan pasokan pangan.
"Jadi, kita sudah siapkan peta sentra produksi untuk beberapa produk pangan strategis beserta neracanya sehingga kita bisa mendapatkan gambaran komprehensif mengenai potensi produk pangan di wilayah tertentu. Yang mana yang surplus dan yang defisit," ujar Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, di Jakarta, Rabu (14/6).
Dia menerangkan adanya perbedaan tingkat produksi di masing-masing daerah menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi, di tengah ancaman penurunan produksi akibat dampak perubahan iklim dan El Nino.
Karena itu, dengan adanya pemetaan ini, pemerintah dapat mengambil berbagai langkah dan kebijakan untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan serta keterjangkauan pangan sehingga merata ke seluruh wilayah.
"Untuk komoditas beras, kita akan bersama dengan Kementerian Pertanian dan Perum Bulog berapa yang akan kita serap untuk di daerah-daerah surplus sesuai peta ini sehingga kita dapat memastikan produk dalam negeri dapat dioptimalkan untuk penguatan stok pangan nasional," ujar Arief.
Selain itu, Arief menambahkan pihaknya telah melakukan fasilitasi distribusi pangan dari daerah surplus ke daerah defisit yang bertujuan untuk pemerataan pasokan pangan sehingga di wilayah-wilayah defisit mendapat pasokan pangan untuk mencegah lonjakan inflasi dan menstabikan harga. Hal itu dilakukan selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk menjamin ketercukupan pangan hingga ke seluruh wilayah dengan menjaga kewajaran pada tiga aspek, yaitu di produsen, pedagang, dan konsumen.
Adapun berdasarkan pemetaan tersebut, untuk beras, total produksi nasional sebagian besar disumbang oleh 10 produsen beras terbesar nasional, di antaranya Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Banten, dan Aceh. Sementara Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan surplus beras terbanyak dan DKI Jakarta menjadi provinsi paling defisit beras.
Bergantung Impor
Adapun berdasarkan prognosa neraca pangan, kedelai dan bawang putih masih membutuhkan pasokan pengadaan dari luar mengingat produksi dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan. Produksi kedelai pada 2022 sebesar 301.518 ton dan kebutuhan nasional mencapai 2.829.439 ton, sehingga mengalami defisit sebesar 2.527.921 ton. Sedangkan untuk bawang putih produksi pada 2022 mencapai 30.582 ton dan kebutuhan 648.580 ton sehingga terdapat defisit mencapai 617.998 ton.
Anggota Komisi IV DPR RI, Alien Mus, menyampaikan dengan pemetaan sentra komoditas pangan ini penting bagi setiap daerah sehingga mampu mengoptimalkan komoditas andalan di masing-masing daerah.
"Saya mengapresiasi Kepala Badan Pangan Nasional apa yang kita minta untuk mapping komoditas andalan per provinsi ini penting dan bisa kita kolaborasikan dengan Kementerian Pertanian," ujar Alien dalam Raker Komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (13/6).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
Sampah Bikin Rontok Omzet Pedagang
-
Bawang Putih Bangkit! Penguatan Benih Jadi Senjata Utama
-
Pembuatan tahu tradisional di Pontianak
-
Pohon Tumbang Menimpa Dua Kendaraan di Pasar Atas Curup Rejang Lebong
-
Waspada Macet, 3 Stasiun KRL Ini Bakal Jadi Titik Paling Padat Saat Lebaran 2026
-
PAM Jaya Kembangkan Inovasi Ciptakan Air dari Udara dan Kurangi Plastik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.