Perusahaan Listrik Jepang Minta G7 Dorong Transisi Energi
Minggu, 26 Mar 2023, 10:35 WIBPerusahaan-perusahaan listrik Jepang ingin agar Tokyo dalam pertemuan iklim G7 mendatang mendorong agar setiap negara dapat menentukan jalan mereka sendiri menuju transisi energi, kepala badan industri mereka mengatakan pada hari Jumat (17/3).
Sebagai ketua Kelompok Tujuh Negara (G7) tahun ini, Jepang akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri mengenai iklim, energi dan lingkungan di kota Sapporo, Jepang bagian utara, pada tanggal 15-16 April, sebelum pertemuan puncak G7 di Hiroshima pada tanggal 19-21 Mei, untuk mendorong apa yang disebut Jepang sebagai transisi energi yang realistis.
Ketua Federasi Perusahaan Listrik Jepang, Kazuhiro Ikebe mengatakan, krisis energi yang disebabkan oleh invasi Rusia ke Ukraina telah mengajarkan banyak negara, termasuk di Eropa.
"Kondisinya berbeda untuk setiap negara, dan setiap negara harus menemukan solusi yang realistis," kata Ikebe dalam sebuah konferensi pers,, dikutip dari Reuters, Minggu (19/3).
"Kami berharap diskusi ini akan menghasilkan pemahaman yang sama bahwa setiap negara harus mengambil langkah-langkah dekarbonisasi sesuai dengan situasi yang ada," lanjutnya.
Pemerintah Jepang juga menyerukan fleksibilitas, sementara beberapa anggota G7 menginginkan aturan yang lebih ketat mengenai bagaimana negara-negara harus bertransisi ke energi yang lebih bersih.
Ikebe, yang juga merupakan Presiden Kyushu Electric Power Co Inc (9508.T), mengatakan bahwa pembangkit listrik tenaga panas yang menggunakan bahan bakar fosil, termasuk batu bara, masih sangat penting bagi negara-negara Asia, termasuk Jepang.
"Penting untuk mengganti batu bara ke gas alam dan memajukan transisi energi, tetapi karena listrik mutlak diperlukan untuk kehidupan masyarakat dan kegiatan ekonomi, setiap negara harus mengambil jalur transisi energi sesuai dengan keadaan sebenarnya," ucapnya.
Jepang bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 46 persen pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat emisi pada tahun 2013 dengan meningkatkan energi terbarukan dalam bauran listriknya menjadi 36-38 persen, dua kali lipat dari tingkat emisi pada tahun 2019, dan tenaga nuklir menjadi 20-22 persen dari 6 persen pada tahun 2019.
Negara penghasil emisi terbesar kelima di dunia ini juga menargetkan untuk mengurangi porsi batu bara dalam bauran energi listriknya menjadi 19 persen pada tahun 2030, dari 32 persen pada tahun 2019, dan porsi gas menjadi 20 persen dari 37 persen.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi
Berita Terkait:
-
Kejari Bekasi Bantah Isu Dirut Tirta Bhagasasi Jadi Tersangka, Surat Penetapan yang Beredar Ternyata Dimodifikasi
-
ITS Ubah Limbah Peternakan dan Pertanian di Papua Barat Jadi Energi
-
Manufaktur Diperkuat, Keyakinan Konsumen Dibangun
-
17 Penerjun Kopassus Taklukkan Ketinggian 10.000 Kaki dalam Victory Jump di Monas.
-
Jangan Asal Bicara! Sandrica Sampaikan Pesan Adab Bertutur Lewat Lagu Berjudul Seribu Kata Positif
-
Dukung EBT Nasional, Barata Indonesia Kirim Reaktor B100 ke Kalsel
-
Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon, ESGIN dan ASPEBINDO Jalin Kolaborasi Strategis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.