Kinerja Industri Furnitur Terkendala Masalah Klasik

Sabtu, 11 Mar 2023, 08:41 WIB

JAKARTA - Pemerintah menargetkan nilai ekspor industri furnitur nasional sebesar lima milliar dollar AS atau setara 77,43 triliun rupiah (kurs 15.485,56 rupiah/ dollar AS) pada 2024. Meski demikian, realisasi target tersebut bakal menghadapi tantangan cukup berat mulai kendala bahan baku hingga pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. Permasalahan tersebut membuat produk furnitur Indonesia kalah bersaing dengan Tiongkok dan Vietnam.

"Untuk hambatan bahan baku, hal ini (masalah) klasik yang harus diselesaikan karena itu dibutuhkan UMKM. Kita rapatkan lagi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)," papar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam Opening Ceremony Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2023 di Jakarta, Kamis (9/3).

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Dia menjelaskan, Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) diminta Uni Eropa, apalagi sekarang berdasarkan aturan yang berlaku di Eropa untuk seluruh produk berbasis hutan, baik kelapa sawit, furnitur, kopi, dan lain-lain, semuanya dikejar jejaknya bahwa mereka tidak ingin ini berasal dari hutan ilegal.

Seperti diketahui, industri furnitur merupakan salah satu sektor padat karya yang menjadi penopang kemajuan ekspor Indonesia. Saat ini, industri furnitur mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 143 ribu orang dan jumlah perusahaan yang tergabung sebanyak 1.114 ribu unit usaha.

Pertumbuhan PDB industri furnitur memiliki pencapaian gemilang pada 2021 sebesar 8,16 persen dan di 2022 sebesar 0,21 persen diiringi dengan rata rata utilisasi yang cenderung stabil. Data terakhir pada Desember 2022 mencatatkan utilisasi industri furnitur berada di angka 74,16 persen.

Potensi Pasar

Industri furnitur memiliki potensi pasar mencapai sekirar 500 miliar dollar AS, sedangkan proyeksi potensinya berdasarkan World Furniture Account Federation mencapai kurang lebih 700 miliar dollar AS dengan pertumbuhan berkisar 6-10 persen.

Sepanjang lima tahun terakhir, kinerja ekspor industri furnitur Indonesia terus meningkat hingga 77,9 persen. Nilai ekspor furnitur pada 2021 mencapai 2,8 miliar dollar AS atau naik sebesar 33 persen dibandingkan 2020. Sedangkan pada 2022, ekspor industri furnitur kayu dan rotan terpantau cukup stabil di angka 2,9 miliar dollar AS.

Adapun Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan pertumbuhan industri furnitur pada tahun ini mencapai delapan persen. Ketua Presidium HIMKI, Abdul Sobur mengungkapkan untuk pasar Amerika Serikat maupun Benua Amerika yang selama ini masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia, produk furnitur ditargetkan bertumbuh enam persen.

"Sementara itu, untuk wilayah Eropa, HIMKI menilai dampak perang yang masih berpotensi berlanjut bakal memberikan dampak bagi industri mebel dan kerajinan," ucapnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.