• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Drakor The Glory dan Sulit...

Drakor The Glory dan Sulitnya Korea Selatan Atasi Kasus Bullying di Sekolah

Rabu, 08 Mar 2023, 19:14 WIB

Penindasan atau bullying di sekolah menjadi salah satu masalah paling menonjol yang dihadapi remaja di Korea Selatan. Melalui komunitas online, korban bully silih berganti membagikan cerita mengenaskan yang mereka alami semasa sekolah.

Parahnya, cerita yang mereka bagikan tidak hanya perihal pelecehan fisik dan mental yang dilakukan oleh sesama siswa, tetapi juga kelalaian otoritas sekolah dalam menanggapi masalah bullying di instansi mereka.

Ket. Foto: Cuplikan serial "The Glory". — Sumber: Netflix

Bullying yang dilakukan oleh anak Chung Sun Sin, yang pernah menjabat sebagai kepala Kantor Investigasi Nasional negara itu.

Melansir Koreaboo, Chung yang baru menjabat terseret kasus bully yang dilakukan anaknya terhadap teman sekamarnya pada tahun 2017. Meski akhirnya mundur dari posisinya, Chung diketahui terlibat membantu putranya menghindari hukuman.

Di Korea Selatan, bullying juga menjadi alur cerita yang banyak diangkat pada layar kaca. Baru-baru ini, "The Glory" yang mengisahkan bullying menjadi salah satu acara yang paling banyak ditonton di Netflix.

Serial "The Glory" menggambarkan kisah seorang guru sekolah dasar yang berusaha membalas dendam terhadap sekelompok mantan perundungnya, yang telah melecehkannya secara fisik dan mental ketika dia masih muda.

Popularitas acara dan peringkat yang luar biasa, sebagian, dapat dikaitkan dengan caranya menyoroti tidak hanya kengerian bullying, tetapi juga kisah sang tokoh utama yang diabaikan ketika meminta bantuan.

Tidak hanya gagal menghukum pelaku bully, karakter Moon Dong Eun yang diperankan Song Hye-Kyo juga menderita pelecehan fisik dari gurunya. Hal ini menggambarkan gagalnya sistem komite pencegahan intimidasi di Korea Selatan.

Mungkin masalah terbesar di balik kegagalan itu adalah sebagian besar anggota komite tidak memiliki keahlian hukum. Dalam kebanyakan kasus, komite itu terdiri dari para orang tua siswa itu sendiri, dan terkadang guru sekolah tersebut.

"Banyak profesional hukum bahkan tidak sering menghadiri rapat komite karena itu adalah posisi yang tidak dibayar. Mereka biasanya sibuk dengan pekerjaan harian mereka. Belum lagi jumlah mereka yang sangat sedikit di setiap panitia," jelas Park Keun Byeong, Presiden Persatuan Guru Sekolah Seoul.

Isu lain yang berkembang adalah relokasi komite-komite tersebut. Pada tahun 2021, Kementerian Pendidikan Korea Selatan memutuskan untuk memindahkan komite tersebut di bawah cabang dinas pendidikan setempat.

Alhasil, para korban sekarang seharusnya melaporkan tindakan intimidasi ke sekolah mereka dan mengizinkan sekolah untuk menanganinya secara internal, dengan opsi sekolah melaporkannya ke komite jika kasusnya terbukti terlalu sulit untuk ditangani.

Sekalipun panitia terbukti berhasil dan mengambil keputusan terhadap mereka yang melakukan tindakan intimidasi sekolah, para pelaku bully dapat menentang keputusan tersebut dan membawa masalah tersebut ke pengadilan.

Jika perselisihan berlangsung cukup lama, sistem seperti itu justru akan membuat para pelaku bully tidak akan mendapatkan catatan sekolah terkait tuduhan intimidasi. Dengan begitu, pelaku bully dapat terus kuliah dan menjalani sisa hidup mereka dengan konsekuensi minimal, itupun jika ada.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

Berita Terbaru

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM Lewat Bazar

Dukung Penanganan Karhutla, Kemenhub Fasilitasi Penggunaan Pesawat Registrasi Asing

Kemenag Targetkan Keterlibatan 1.781.945 Peserta dalam Gema Selawat Sambut Maulid Nabi

Coba Lerai Perkelahian, Dua Polisi Dikeroyok Masa saat Karnaval di Blora

Gubernur Pramono Sebut Keluarga Kuat dan Masyarakat Peduli Jadi Kunci Kerukunan Jakarta

Dua Anggota Polisi Jadi Korban Pengeroyokan saat Karnaval HUT RI di Blora

BNPB Perkuat OMC-Armada Pemadaman Karhutla di Kalimantan

Panen Durian dan Manggis di Lebak Serap Ribuan Tenaga Kerja

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.