• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Manusia sebagai Pengorbana...

Manusia sebagai Pengorbanan Paling Bernilai

Selasa, 14 Feb 2023, 06:55 WIB

Bagi penduduk asli Amerika, pengorbanan manusia telah menjadi bagian dari ritual suku Suku Inca, Maya dan juga. Aztec sendiri merupakan kelompok budaya yang mendiami wilayah yang disebut Mexica, cikal bakal bagi Meksiko City. Mereka mengorbankan manusia untuk disimpan dalam tengkorak sebagai persembahan, untuk memastikan kelangsungan hidup umat manusia.

Pada peradaban Aztec, termasuk Maya, dan banyak budaya yang mendiami kawasan Amerika Tengah atau Mesoamerika, pengorbanan manusia bertujuan memberi makan para dewa. Tanpanya, matahari akan berhenti terbit dan dunia akan berakhir. Bagi orang-orang uang dikorbankan mereka akan mendapatkan tempat yang istimewa dan terhormat di akhirat.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Persembahan manusia merupakan tanda kehidupan dan regenerasi, seperti bunga pertama musim semi. Tetapi penjajah Spanyol yang hadir di Tenochtitlan pada 1519 melihat orang Astec secara berbeda. Bagi mereka, tengkorak dan seluruh praktik pengorbanan manusia membuktikan barbarisme Mexica dan membenarkan penghancuran kota pada 1521.

Spanyol merobohkan Ibu Kota Templo dan tzompantli, nama untuk rak penyimpanan tengkorak di sana, lalu menutup dengan aspal. Di atasnya Spanyol membangun kota yang kini disebut Mexico City. Itulah mengapa rak besar serta menara tengkorak masuk ke ranah misteri sejarah.

Sebuah kodeks yang ditulis setelah penaklukan oleh seorang pendeta Spanyol menggambarkan rak tengkorak Tenochtitlan yang sangat besar atau tzompantli. Beberapa penakluk (conquistador) menulis tentang tzompantli dan menaranya, memperkirakan bahwa rak itu sendiri berisi 130.000 tengkorak.

Tetapi sejarawan dan arkeolog tahu bahwa para conquistador itu cenderung membesar-besarkan kengerian pengorbanan manusia demi menjelekkan budaya Mexica. Berabad-abad berlalu, para sarjana mulai bertanya-tanya apakah tzompantli pernah ada.

Untuk membuktikannya pada 2018, para arkeolog di Institut Antropologi dan Sejarah Nasional (INAH) pada 2015, menemukan dan menggali sisa-sisa rak tengkorak dan salah satu menara di bawah rumah zaman kolonial di jalan yang membentang di belakang katedral Mexico City. Menara lainnya, mereka menduga, terletak di bawah halaman belakang katedral.

Skala rak dan menara menunjukkan bahwa mereka menyimpan ribuan tengkorak, kesaksian industri pengorbanan manusia yang tidak ada duanya di dunia. Para arkeolog mulai mempelajari tengkorak secara rinci, berharap untuk mempelajari lebih lanjut tentang ritual Mexica dan perawatan postmortem dari tubuh yang dikorbankan.

Para peneliti juga bertanya-tanya siapa para korban, di mana mereka tinggal, dan seperti apa kehidupan mereka sebelum mereka berakhir dengan kematian brutal di Ibukota Templo.

"Ini adalah dunia informasi," kata arkeolog Raùl Barrera Rodríguez, Direktur Program Arkeologi Perkotaan INAH dan pemimpin tim yang menemukan tzompantli, seperti dilaporkan science.org.

"Ini adalah hal yang luar biasa, dan penemuan seperti yang diharapkan oleh banyak dari kita," kata John Verano, ahli bioarkeologi di Universitas Tulane di New Orleans, Louisiana, yang mempelajari pengorbanan manusia.

Dia dan peneliti lain berharap tengkorak itu akan mengklarifikasi peran pengorbanan manusia dalam skala besar dalam agama dan budaya Mexica. Seperti yang diduga oleh para sarjana, pengorbanan memainkan peran penting dalam membangun kerajaan mereka.

Para peneliti juga menemukan tengkorak yang tampaknya saling menempel dengan mortar sisa-sisa salah satu menara yang mengapit tzompantli, tempat sebagian besar tengkorak yang pernah dipamerkan di tiangnya mengakhiri perjalanan postmortem mereka.

Temuan pengorbanan paling besar, berupa berdiameter hampir 5 meter dan tingginya setidaknya 1,7 meter. Menggabungkan dua menara yang didokumentasikan secara historis dan rak, para arkeolog INAH memperkirakan bahwa beberapa ribu tengkorak pasti telah ditampilkan pada satu waktu.

Budaya Mesoamerika lainnya juga terlibat dalam pengorbanan manusia dan membangun tzompantli. Tapi, "Mexica pasti membawa ini ke titik ekstrem," kata Vera Tiesler, ahli bioarkeologi di Autonomous University of Yucatán di Mérida, Meksiko. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.