1.185 WNI Jadi Korban 'Online Scam'

Senin, 13 Feb 2023, 00:00 WIB

JAKARTA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mencatat jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban perekrutan perusahaan penipuan berbasis daring (online scam) di luar negeri terus meningkat. Pada 2022, tercatat 1.185 WNI yang menjadi korban perusahaan daring.

"Dari angka tersebut kami melihat peningkatan tajam. Misalnya di Kamboja saja pada 2021 ada 116 kasus, kemudian bertambah menjadi 864 kasus. Ini perlu menjadi concern kita bersama," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Judha Nugraha, di Jakarta, pekan lalu.

Ket. Foto: Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Judha Nugraha — Sumber: ANTARA/YASHINTA DIFA

Seperti dikutip dari Antara, Judha mengatakan para korban itu tercatat tersebar sebanyak 864 orang di Kamboja, 81 orang di Myanmar, 107 orang di Filipina, 102 orang di Laos, dan 31 orang di Thailand.

Judha menegaskan langkah-langkah komprehensif dan terkoordinasi di antara pemangku kepentingan terkait di Indonesia dan di negara tujuan diperlukan untuk menangani kasus tersebut. Langkah-langkah yang mencakup penanganan kasus serta aspek pencegahan penting dilakukan.

Kemlu mencatat dari sekitar 1.000-an WNI korban yang dipulangkan ke Indonesia, ada yang kembali berangkat ke luar negeri dan bekerja di jenis perusahaan yang sama.

"Ini yang perlu kita atasi bersama, terutama memberikan awareness kepada masyarakat agar jangan mudah tertipu dengan lowongan pekerjaan di media sosial yang menawarkan gaji besar, tetapi tidak minta kualifikasi dan tidak mensyaratkan visa kerja," kata Judha.

Motif Ekonomi

Judha mengatakan jika masyarakat tahu ada yang janggal atau merasa ada yang salah, ya jangan memaksakan diri. Memang dipahami di sini ada motif ekonomi untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang bagus. Tetapi, kalau sudah tahu dan mendeteksi ini akan jadi masalah, ya jangan berangkat.

Dia memaparkan ada perbedaan antara para korban online scam dengan kalangan WNI yang mengincar pekerjaan informal secara ilegal di Malaysia --yang hanya dengan berbekal keahlian rendah, misalnya sebagai penata laksana rumah tangga (PLRT).

Para korban perusahaan penipuan daring umumnya memiliki latar belakang pendidikan yang bagus dan dari kalangan ekonomi berada. Mereka juga berasal dari kota-kota besar, seperti Jakarta dan kota-kota di Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara.

"Yang berangkat ini adalah anak-anak muda berpendidikan, lulus SMA atau kuliah, dan bukan dari keluarga yang tidak mampu. Hanya memang mereka tergiur tawaran kerja yang gajinya berkisar 1.000-1.200 dollar AS," kata Judha.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.