Pengembangan Kendaran Listrik Masih Lamban
Selasa, 07 Feb 2023, 11:18 WIBJAKARTA - Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai pengembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia saat ini belum sesuai dengan arah bisnis dari para pemain di industri otomotif.
Hal itu sebagaimana laporan IEEFA yang menganalisis perusahaan yang menguasai mayoritas pasar Indonesia dan bagaimana langkah bisnis mereka dapat mempengaruhi ekspansi EV di dalam negeri. Laporan IEEFA juga menyoroti lima produsen yang menguasai 92 persen pasar kendaraan roda empat ringan (4W), yaitu Honda, Mitsubishi, Suzuki, Toyota, dan anak perusahaan Daihatsu.
"Rencana elektrifikasi dari pemain industri yang lamban dikombinasikan dengan dominasi pasar mereka dapat menjadi hambatan besar bagi ambisi Indonesia. Para pemain otomotif banyak menekankan pentingnya memberi pilihan kendaraan bagi konsumen, namun opsi all-electric dari mereka hampir tidak bisa ditemukan," kata analis energi IEEFA sekaligus penulis laporan tersebut Putra Adhiguna saat peluncuran laporan Electrifying Indonesia's Road Transport di Jakarta, Senin (6/2).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan konsentrasi pasar kendaraan roda dua (2W) saat ini bahkan lebih kuat di mana dua merek masing-masing Honda dan Yamaha menguasai 96 persen pasar. Namun, rencana elektrifikasi kendaraan mereka juga sangat jauh dari potensi perusahaan-perusahaan tersebut.
Laporan IEEFA juga merujuk pada target agresif yang ditetapkan Indonesia dengan 13 juta motor listrik dan 2,2 juta mobil listrik pada 2030. Namun, realisasi itu masih tertinggal di belakang beberapa negara tetangga ASEAN lainnya.
Persaiangan Ketat
Dia menilai kompetisi dengan Thailand dalam mobil listrik semakin ketat sementara Vietnam telah lebih sukses mendorong penggunaan motor listrik di depan Indonesia. Menurut dia, dengan kenaikan impor minyak dan subsidi BBM yang kerap fluktuatif, EV dapat membantu menahan laju peningkatan konsumsi BBM dan menurunkan emisi life-cycle, bahkan dalam sistem kelistrikan yang didominasi batu bara seperti Indonesia saat ini.
"Hal tersebut tentunya harus dibarengi dengan komitmen kuat Indonesia untuk menghijaukan sektor kelistrikannya," ujar Putra.
Dia mengatakan para pemangku kepentingan harus meminta industri otomotif untuk menyelaraskan arah bisnis mereka dengan kepentingan nasional untuk kendaraan yang lebih efisien, rendah emisi, dan bergerak menuju ke industri EV masa depan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Simulasi Biaya Mobil Listrik Ini Lebih Hemat 9 Kali dari Bensin
-
Terganggu Oknum Minta THR, Polri Imbau Masyarakat Lapor ke 110
-
Lewati 70 Gol Pelé, Lionel Messi Sah Jadi Eksekutor Bola Mati Tersubur Kedua dalam Sejarah
-
Libur Lebaran, Warga Serbu Blok M Naik MRT Jakarta dengan Tarif Rp1
-
BKSDA Bali Evakuasi Elang Tikus dan bayi Lutung Jawa dari Warga
-
Harga Emas di Pegadaian Jumat Pagi: UBS Rp2.859.000, Antam Rp2.918.000, Galeri24 Rp2.813.000 per Gram
-
Pemerintah Keluarkan Paket Ekonomi untuk Tekan Harga dan Produk Plastik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.