Hasil Panen Gandum Ukraina Turun Dua Kali Lipat

Senin, 01 Agu 2022, 00:00 WIB

ODESA - Perang Russia di Ukraina menyebabkan hasil panen gandum Ukraina turun dua kali lipat dari panen sebelumnya, ujar Presiden Volodymyr Zelensky. "Panen Ukraina tahun ini terancam turun menjadi dua kali lipat dari panen sebelumnya," ujar Presiden Volodymyr Zelensky dalam akun miliknya di Twitter.

"Tujuan utama kami yaitu untuk mencegah krisis pangan global yang disebabkan oleh invasi Russia. Kami mendapatkan jalan untuk mengirimkan gandum," kata dia. Ukraina, salah satu produsen gandum dan biji-bijian utama dunia, berjuang untuk mengakhiri blokade Russia di Pelabuhan Laut Hitam yang telah menghantam ekspor biji- bijian Ukraina.

Ket. Foto: Para petugas memadamkan api akibat penembakan oleh Russia di ladang gandum Donetsk, Ukraina, Minggu (31/7). — Sumber: AFP/LAYANAN DARURAT UKRAINIAN

Russia dan Ukraina di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Istanbul pada Jumat (22/7) menandatangani sebuah kesepakatan untuk melanjutkan pengiriman gandum, bahan pangan, dan pupuk Ukraina dengan aman ke pasar internasional.

Jalur Aman

Seperti dikutip dari Antara, perjanjian tersebut menyediakan jalur aman bagi kapal-kapal yang membawa biji-bijian dari tiga pelabuhan Ukraina selatan. Berbicara di salah satu pelabuhan itu pada Jumat, menteri infrastruktur Ukraina mengatakan Ukraina siap untuk memulai pengiriman gandum. Ia berharap kapal pertama akan berangkat pada akhir pekan ini.

Konflik antara Ukraina dan Russia yang berjalan sejak Februari 2022 belum menunjukkan titik temu dan masih menimbulkan ketidakpastian di perekonomian global. Perseteruan geopolitik yang berlarut-larut itu telah mengganggu rantai pasok dan menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dengan penawaran di tengah kondisi dunia yang belum sepenuhnya pulih.

Kondisi itu menyebabkan rangkaian efek yang panjang karena telah menyebabkan harga komoditas pangan maupun energi menjadi mahal dan tingkat inflasi melonjak tinggi.

Itulah salah satu pemicu Federal Reserve AS atau Bank Sentral AS pada Rabu (27/7) menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, mendekati level 2,25 persen dan 2,5 persen, karena peningkatan inflasi tidak menunjukkan tandatanda pelonggaran yang jelas.

Kenaikan ini langsung direspons bank-bank besar AS, JPMorgan Chase & Co, Citigroup, dan Wells Fargo untuk menaikkan suku bunga pinjaman utama sebesar 75 basis poin menjadi 5,5 persen. Saham-saham di Wall Street ikut menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Penguatan suku bunga paling tajam sejak 1994 ini jelas dilakukan untuk meredam inflasi AS yang tercatat 9,1 persen pada Juni 2022.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.