Penanganan Krisis Pangan dan Energi Makin Rumit

Senin, 11 Jul 2022, 00:04 WIB

» Jika tidak ditangani, krisis global akan berubah menjadi bencana kemanusiaan bagi negara-negara berkembang.

» Multilateralisme adalah cara penyelesaian krisis terbaik saat ini terutama krisis pangan dan energi.

Ket. Foto: ESTHER SRI ASTUTI Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip, Semarang - Jadi, solusinya adalah kemandirian pangan dan energi. Indonesia punya potensi untuk mewujudkan kemandirian pangan dan energi. — Sumber: ISTIMEWA

JAKARTA - Penanganan krisis global akibat lonjakan harga pangan dan energi dinilai semakin rumit karena masalahnya makin kompleks akibat sumber krisisnya terjadi di negara lain seperti di Russia dan Ukraina.

Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Minggu (10/7), mengatakan ekonomi juga semuanya terkoneksi dengan apa yang terjadi di negara lain sehingga ada potensi saling kebergantungan.

"Pertahanan dan kedaulatan pangan dan energi dalam negeri memang akan menjadi kunci, tetapi kerja sama internasional dan multilateral akan bisa menjadi salah satu jalan ikhtiar preventif dan pengurai masalah yang timbul dan berasal dari luar negeri dan kawasan internasional," kata Surokim.

Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan multilateralisme atau kerja sama dengan beberapa negara adalah cara terbaik penyelesaian krisis.

Namun demikian, perlu diingat pula ada contagious effects yang harus dipertimbangkan jika multilateralisme semakin tinggi.

Bila kerja sama antarnegara makin erat, ada kemungkinan satu negara bisa tertular krisis dari negara lain karena mereka saling berhubungan, terutama dalam bidang perdagangan.

"Jadi, solusinya adalah kemandirian pangan dan energi. Indonesia punya potensi untuk mewujudkan kemandirian pangan dan energi," tegasnya.

Indonesia, papar Esther, kaya dengan sumber daya alam (SDA) dan mineral. Kondisi tersebut didukung dengan iklim tropis yang cocok untuk pertanian dan kelautan. Begitu juga sumber minyak, batu bara, mineral, lainnya melimpah.

Pesan Penting

Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, pada Minggu (10/7), mengatakan multilateralisme masih menjadi cara penyelesaian krisis yang terbaik saat ini, terutama krisis pangan dan energi.

Retno saat berpidato pada pembukaan pertemuan kedua Sherpa G20, di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, mengatakan dua isu yang menjadi fokus diskusi secara garis besar pada pertemuan antar-Menteri Luar Negeri G20 yang berlangsung di Bali, beberapa waktu lalu, salah satunya adalah multilateralisme. Kedua, mengenai krisis pangan energi yang saat ini sedang melanda.

Dia mengaku senang melihat antusiasme para peserta pertemuan tersebut untuk memperkuat multilateralisme.

"Dari banyaknya pernyataan yang dibuat, saya melihat adanya pesan penting, yakni bahwa multilateralisme kian diuji oleh situasi global," kata Retno.

Meski demikian, dia mengatakan bahwa semua pihak tampak menyetujui bahwa multilateralisme tetap menjadi cara terbaik untuk menangani berbagai tantangan global.

"Multilateralisme telah menunjukkan kekuatannya dengan menumbuhkan kolaborasi dan memastikan kita tetap bertahan pada masa pandemi," kata Retno.

Pada kesempatan itu, dia mengingatkan perlunya penanganan yang cepat. Jika tidak ditangani, krisis tersebut akan berubah menjadi bencana kemanusiaan dan negara-negara berkembang akan menjadi yang paling terdampak.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam sambutannya pada pembukaan 2nd Sherpa Meeting di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengatakan Indonesia menawarkan tiga proposal untuk bekerja bersama dalam mencari solusi menghadapi tantangan global yang multidimensi.

Airlangga menguraikan tiga proposal itu adalah pertama, kepercayaan dan saling menghormati di antara anggota G20 sebagai kunci untuk memajukan dialog dan konsensus.

Kedua, negara G20, kata Airlangga, harus melihat ke depan untuk memberikan pertumbuhan dan ketahanan ekonomi global. Pada saat yang bersamaan berusaha menemukan solusi mengatasi tantangan yang mendesak.

Dengan niat baik dan tekad yang kuat, G20 akan memajukan prioritas Kepresidenan RI dan juga mengatasi krisis yang muncul.

Ketiga adalah agenda 2030 dengan menjadikan sustainable development goal's (SDG's) harus menjadi pedoman G20, terutama dalam membantu meningkatkan kehidupan di negara-negara berkembang yang dianggap rentan.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

Satu Dekade EMOS Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Pemkot Kembali Gelar Bandung Great Sale 2026

Bank Mandiri Perkuat Sinergi dengan Garuda Indonesia lewat GATF 2026, Bidik Transaksi Travel Nasabah

Pemkot Bandung Upayakan Akses Air Bersih bagi Warga Cihanja

Bareskrim Polri Ungkap 5 Kasus Perdagangan Orang dengan Modus Pengantin Pesanan

Pemkot Bandung Segera Tanam Kembali Pohon di Jalan RE Martadinata

Sequis Life Dorong Perempuan Wirausaha Perkuat Fondasi Finansial dan Jaringan Bisnis

MPR Tegaskan Hari Konstitusi Bukan Sekadar Seremonial

Pendakian Arjuno-Welirang Ditutup Imbas Kebakaran Tahura Raden Soerjo, Begini Tata Cara Reschedule Tiket!

Alun-alun Bandung Resmi Dibuka Lagi! Walkot Farhan: Jam Operasionalnya Pukul 08.00-16.00 WIB

Kabar Gembira! Anggota DPR Desak Pemerintah Realisasikan Sekolah SD-SMP Gratis Sesuai Amanat Putusan MK

Bimo/Arlya Tersingkir di Kejuaraan Dunia BWF 2026, Fokus dan Mental Jadi Evaluasi Utama

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.