Lonjakan Harga Energi dan Pangan Dorong BI Revisi Turun Proyeksi Ekonomi
Rabu, 20 Apr 2022, 00:02 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 dari sebelumnya di rentang 4,7-5,5 persen menjadi 4,5-5,3 persen. Revisi itu dengan memperhitungkan faktor geopolitik yaitu dampak perang Russia dan Ukraina.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan edisi April 2022 di Jakarta, Selasa (19/4), mengatakan perbaikan kinerja ekonomi domestik dipengaruhi volume ekspor yang tertahan seiring dengan lebih rendahnya pertumbuhan ekonomi global dan perdagangan dunia karena ketegangan geopolitik Russia dan Ukraina.
Selain itu, perbaikan permintaan domestik ke depan juga akan terpengaruh, baik karena tertahannya volume ekspor maupun kenaikan harga energi dan pangan global.
Ia menjelaskan tertahannya volume ekspor disebabkan oleh adanya gangguan mata rantai global.
Hingga triwulan I-2022, perbaikan ekonomi domestik terus berlanjut karena didukung oleh peningkatan konsumsi, investasi nonbangunan, dan kinerja ekspor, sejalan dengan mobilitas penduduk dan aktivitas ekonomi yang membaik.
"Pertumbuhan ekonomi juga ditopang kinerja positif berbagai lapangan usaha, seperti industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta informasi dan komunikasi," jelas Perry.
Secara spasial, perbaikan ekonomi Indonesia ditopang terutama oleh akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa dan Balinusra, disertai tetap baiknya kinerja ekonomi Sulawesi- Maluku-Papua (Sulampua), Sumatera, dan Kalimantan.
Bank Sentral, tambah Perry, juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dari sebelumnya 4,4 persen menjadi 3,5 persen karena berbagai tekanan masih berlanjut.
"Pemulihan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut meski lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi," kata Perry.
Berlanjutnya ketegangan geopolitik Russia dan Ukraina berdampak pada pelemahan transaksi perdagangan, kenaikan harga komoditas, dan ketidakpastian pasar keuangan global, meskipun penyebaran Covid-19 mulai melandai.
Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
"Harga komoditas global mengalami peningkatan, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam sehingga memberikan tekanan pada inflasi global," kata Perry.
Menjalar ke Perdagangan
Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Imron Mawardi, yang diminta pendapatnya mengatakan revisi pertumbuhan oleh bank sentral cukup beralasan.
"Untuk tahun ini, karena ada fenomena pemulihan pandemi tentu akan ada peningkatan dari tahun sebelumnya. Tapi, perbaikan ini akan terpengaruh oleh konflik Russia-Ukraina. Itu dampaknya luar biasa karena sampai menjalar perdagangan global," kata Imron.
Sanksi-sanksi yang dijatuhkan membuat ketidakpastian meningkat. Apalagi, Russia dan Ukraina sebagai produsen gandum dunia sehingga pasokan terganggu.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Persija Jakarta Tundukkan Persijap Jepara
-
Lampung Resmi Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 2027
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
-
Buntut Insiden Lift Mati, DPRD DKI Minta MRT Jakarta Pasang Cadangan Listrik di Seluruh Stasiun
-
Jorge Martin Menangi MotoGP Prancis, Ai Ogura Cetak Sejarah jadi Pembalap Jepang Raih Podium Perdana Sejak 2012
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.