Secercah Harapan Rehabilitasi 300 Orangutan Menanti Kesiapan Pelepasliaran yang Aman
Rabu, 19 Agu 2026, 20:17 WIBPALANGKA RAYA - Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) saat ini merawat lebih dari 300 orangutan di dua pusat rehabilitasi, yakni di BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Samboja Lestari, Kalimantan Timur (Kaltim).
Ketua Pengurus Yayasan BOS, Jamartin Sihite dalam pernyataan yang diterima di Palangka Raya, Rabu (19/8) mengatakan pihaknya menyaksikan bahwa menyelamatkan satu individu orangutan bukan pekerjaan sehari atau setahun.
"Dibutuhkan bertahun-tahun untuk memulihkan mereka dari konflik dan mengembalikan mereka ke alam. Namun, pelepasliaran bukan lah akhir. Kita harus memastikan hutan tetap ada, tetap sehat, dan tetap menjadi rumah bagi mereka," katanya.
Menurut dia, saat melindungi hutan untuk orangutan, sesungguhnya manusia sedang melindungi masa depannya sendiri. "Saatnya tidak hanya peduli, Saatnya bertindak," katanya.
Pernyataan itu dikatakan Jamartin terkait peringatan Hari Orangutan sedunia 2026 yang bertema Act for Orangutans: Their Forest, Our Future.
Jamartin mengatakan tema itu adalah panggilan untuk bertindak, karena masa depan orangutan ditentukan oleh keputusan yang diambil hari ini. Setiap pohon yang tetap berdiri, setiap hutan yang kita lindungi, dan setiap orangutan yang kembali hidup bebas adalah hasil dari aksi nyata, ilmu pengetahuan, dedikasi, dan kolaborasi.
Melalui Hari Orangutan Sedunia 2026, Yayasan BOS mengajak seluruh masyarakat untuk mengambil aksi nyata sesuai dengan peran masing-masing.
Setiap keputusan yang mendukung kelestarian hutan dan perlindungan satwa liar dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk memastikan orangutan tetap memiliki rumah di alam. Karena, ketika kita menjaga hutan untuk orangutan, kita juga menjaga masa depan bersama.
Yayasan BOS menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh mitra yang terlibat dalam rehabilitas orangutan. Dukungan dari para mitra dan donor individu dari berbagai penjuru dunia telah berkontribusi besar dalam memungkinkan upaya penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran, serta perlindungan habitat orangutan di Indonesia terus berjalan.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah (BKSDA Kalteng) Andi Muhammad Kadhafi mengatakan Hari Orangutan Sedunia mengingatkan bahwa masa depan orangutan sangat ditentukan oleh tindakan yang diambil hari ini.
Dia mengatakan upaya penyelamatan, rehabilitasi, penanganan konflik manusia dan orangutan, serta penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar merupakan bagian dari tanggung jawab yang terus dijalankan bersama berbagai pihak.
"Namun, keberhasilan konservasi tidak akan tercapai tanpa dukungan masyarakat. Setiap langkah untuk menjaga hutan, menghentikan perdagangan satwa liar, dan menghormati keberadaan orangutan di habitat alaminya merupakan kontribusi nyata bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia," katanya.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto menambahkan bahwa orangutan hanya dapat bertahan apabila hutan tempat mereka hidup tetap terjaga. Oleh karena itu, perlindungan kawasan konservasi, pemulihan habitat, dan pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya konservasi.
"Tema Their Forest, Our Future mengingatkan bahwa ketika kita menjaga hutan sebagai rumah orangutan, pada saat yang sama kita juga menjaga fungsi ekologis yang menopang kehidupan manusia, baik hari ini maupun di masa mendatang," katanya. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Deri Henriawan
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.