Jurang Ketimpangan Negara Maju dan Miskin Semakin Melebar

Senin, 04 Apr 2022, 00:03 WIB

JAKARTA - Perekonomian global seperti belum lepas dari berbagai tantangan meskipun sudah memasuki tahap pemulihan. Justru pada pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 menimbulkan tantangan baru yang harus dipikirkan bersama oleh semua negara.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam sebuah diskusi secara daring di Jakarta, akhir pekan lalu, mengatakan pemulihan ekonomi global tersebut berlangsung tidak seimbang antara negara-negara maju dengan negara-negara miskin dan berkembang.

Ket. Foto: SRI MULYANI INDRAWATI Menteri Keuangan - Pemulihan ekonomi global tersebut berlangsung tidak seimbang antara negara-negara maju dengan negaranegara miskin dan berkembang. — Sumber: ISTIMEWA

Negara-negara maju dengan kemampuan finansialnya yang kuat sebagai bantalan untuk mengatasi krisis sudah mulai melakukan normalisasi kebijakan sehingga memunculkan persoalan baru.

Meningkatnya permintaan karena mulai dilakukan pelonggaran aktivitas menyebabkan inflasi bahkan tercatat sebagai yang terburuk dalam 40 tahun terakhir. Sementara di negara-negara miskin, mereka masih berkutat dengan kebutuhan mencari pembiayaan melalui utang untuk memvaksinasi penduduknya.

Inflasi itu juga menjadi risiko, terutama ke negara-negara berkembang. Tambahan tekanan pada inflasi juga terjadi pada sisi suplai karena perang Russia dan Ukraina yang membuat harga beberapa komoditas global melonjak seperti minyak dan gas (migas) serta gandum.

Melonjaknya harga energi dan pangan global memuculkan situasi pemulihan ekonomi global yang tidak merata, karena negara kaya mampu mengamankan kebutuhannya meskipun harga-harga melonjak. Sedangkan negara miskin sangat tercekik dengan kenaikan harga komoditas global tersebut. Hal itu yang menyebabkan jurang ketimpangan semakin melebar.

Perekonomian negara-negara miskin maupun negara dengan tingkat utang tinggi dikhawatirkan bakal mengalami tekanan.

Selain risiko inflasi, Menkeu juga melihat ketimpangan pemulihan ekonomi juga bisa datang dari tidak meratanya kemampuan negara-negara dalam menghadapi masalah kesehatan, berkaitan dengan pandemi Covid-19.

"Tidak merata karena akses vaksin tidak sama dan negara-negara yang belum dapat vaksin tidak mampu vaksinasi. Ini harus dibantu agar jangan ada negara atau masyarakat yang tertinggal," kata Menkeu.

Depresiasi Rupiah

Menanggapi ancaman tersebut, pakar ekonomi dari Universitas Katolik (Unika) Atmajaya Jakarta, Yohanes B. Suhartoko, mengatakan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19, akan menimbulkan persoalan baru, yaitu pemulihan yang lebih cepat di negara maju dibandingkan dengan negara berkembang dan miskin.

Ketika perekonomian negara maju pulih yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, selanjutnya akan diikuti kebijakan pengendalian inflasi dengan meningkatkan suku bunga.

"Kebijakan ini akan berdampak terjadinya aliran modal ke negara maju dan mendorong terjadinya depresiasi rupiah," kata Suhartoko.

Persoalan lain, jelas Suhartoko, adalah negara-negara miskin perlu meningkatkan penerimaan negara dan melakukan emisi obligasi dengan biaya yang lebih mahal agar menarik bagi investor.

"Rasanya akan lebih adil pemulihan ekonomi bukan saja persoalan individual negara, tetapi persoalan global. Tepat sekali moto yang digaungkan Indonesia sebagai Presidensi G 20, yaitu Recovery Together, Strongest Together," tutup Suhartoko.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat di Cirebon Bantu Pemerataan Pendidikan, Anak dari Keluarga Rentan Dapat Akses Belajar dan Pembinaan Karakter

Hasil SPMB SMP Negeri Tangsel Jalur Domisili Diumumkan Malam Ini, Cek Kelulusan Mulai Pukul 21.00 WIB di Situs Resmi

Sasar Sektor Produktif, Kredit Bank Mandiri Tumbuh 20,6 Persen, Capai Rp1.580 T per Mei 2026

Realisasi Retribusi Persampahan Baru 30 Persen, Dinas LH Semarang Minta Pelaku Usaha Taati Retribusi Sampah

Lewat Kajian Ilmiah, Pemkab Cirebon Perkuat Posisi Kesenian Topeng sebagai Ikon Budaya Daerah

Pemerintah Bantah Tuduhan 'Pintu Uang Kotor', Tegaskan Indonesia Tetap Terikat Standar FATF

Bloomberg Soroti Danantara, Aturan Baru Indonesia Dinilai Berpotensi Tarik Dana 'Bermasalah'

JAFF Market 2026 Gandeng Amar Bank, Perkuat Ekosistem dan Pembiayaan Industri Film Indonesia

Apple Resmi Naikkan Harga iPad dan MacBook Mulai 25 Juni 2026, Ini Penyebab Utamanya

Hasil OSN-K 2026 SD dan SMP Diumumkan Hari Ini, Cek Jadwal Lengkap Tahapan OSN-P

Siaga Hadapi Korea Utara, Korea Selatan Bentuk 500 Ribu 'Prajurit Drone'

Ekosistem Blockchain SHOW Token Siap Danai Lebih dari 30 Film Indonesia Sepanjang 2026

Kabel Menjuntai Telan Korban Jiwa, DPRD DKI Desak Penertiban dan Implementasi Perda Utilitas

Gandeng Gulkarmat, DPRD DKI Jakarta Latih 40 Petugas Pengelola Gedung Tangani Kebakaran

Dosen ITS Kembangkan 'Lift' Pohon Kelapa untuk Bantu Petani Panen Lebih Efisien

Harga Minyak Dunia Turun, Pertamina Diminta Segera Lakukan Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

Jangan Anggap Sepele! Kesepian Bisa Mempengaruhi Kesehatan Otak, Berdampak pada Kesejahteraan Mental

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.