Cahaya di Bukit Menoreh, Bawa Perubahan dengan Cara yang Berbeda
Selasa, 11 Agu 2026, 21:14 WIBKULON PROGO, YOGYAKARTA - Pembangunan infrastruktur di Kulon Progo, Yogyakarta, melaju pesat sejak awal 2000-an. Kawasan hortikultura di pantai selatan, Pelabuhan Tanjung Adikarto, Bandara Internasional Yogyakarta, hingga Gerbang Samudra Raksa telah mengubah wajah kabupaten itu. Namun, di Bukit Menoreh, perubahan datang dengan cara yang berbeda.
Di kawasan pegunungan tersebut, perubahan bukan berupa jalan atau bangunan baru, tetapi muncul dari aliran Irigasi Kalibawang. Air Sungai Progo yang dialirkan lewat saluran itu sekarang tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga menghasilkan energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Kedungrong.
Ide untuk memanfaatkan aliran Irigasi Kalibawang sebagai sumber listrik terbersit pada 2009. Saat itu, sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Kedungrong melihat potensi perbedaan ketinggian jatuh air di saluran air itu untuk menggerakkan turbin.
Mereka lalu memasang turbin yang hanya mampu menghasilkan listrik skala kecil. Percobaan sederhana itulah yang kemudian menjadi cikal bakal PLTMH Kedungrong.
"Pada waktu itu hanya untuk penerangan jalan," kata Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini kepada ANTARA, Juni lalu.
Keberhasilan percobaan itu mendorong warga menggandeng kalangan akademisi dan melobi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM). Upaya tersebut membuahkan hasil ketika pembangunan fisik PLTMH Kedungrong dimulai pada awal 2012.
Pada November 2012, pembangkit mulai beroperasi. Listrik yang semula hanya digunakan untuk menerangi jalan kini mengalir ke rumah-rumah warga dan menjadi sumber energi bagi berbagai kegiatan ekonomi di Dusun Kedungrong.
"Seiring berjalannya waktu, akhirnya sampai 2026 ini semua warga di Padukuhan Kedungrong menggunakan PLTMH," kata Sumberini.
Suara turbin yang berputar nyaris tak pernah berhenti di rumah pembangkit kecil di tepi Irigasi Kalibawang. Sejak 2014, suara itu menjadi bagian dari keseharian Rejo Handoyo, operator PLTMH Kedungrong.
Tantangan terbesar Rejo bukan menjaga turbin tetap berputar, tetapi menghadapi sampah yang terbawa arus dari hulu Sungai Progo. Saat musim hujan, kayu, ranting, rumput, hingga limbah plastik kerap menyumbat saringan dan mengganggu putaran turbin.
"Kalau musim penghujan itu bisa mati empat sampai lima kali dalam satu hari satu malam," kenang Rejo.
Menjaga PLTMH tetap beroperasi nyaris tak mengenal libur. Rejo mengoperasikan dua unit generator secara bergantian setiap 24 jam, mengganti sekitar empat liter oli setiap bulan, serta memeriksa v-belt secara berkala agar pasokan listrik berkapasitas 18 kilowatt tetap stabil. Turbin yang terus berputar berarti lampu-lampu rumah warga tetap menyala.
Sekarang, Rejo mulai menyiapkan generasi penerus. Bersama para pemuda dusun, dia berbagi pengetahuan tentang cara merawat turbin, mengenali karakter mesin, hingga membersihkan saringan agar PLTMH Kedungrong tetap beroperasi ketika generasi perintis tak lagi bertugas.
Listrik dari PLTMH kini memasok kebutuhan 50 kepala keluarga di Dusun Kedungrong, termasuk 33 lampu penerangan jalan umum. Bagi warga, keberadaan pembangkit itu bukan hanya menghadirkan pasokan listrik yang lebih terjangkau, tetapi juga memberi kepastian bahwa aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
"Masyarakat sangat senang dan sangat berterima kasih sekali. Adanya hidro ini membuat biaya-biaya yang harus ditanggung di PLN diringankan," kata Kepala Dukuh Kedungrong Suprihatin.
Berbeda dengan pelanggan listrik pada umumnya, warga Kedungrong tidak membayar tagihan listrik setiap bulan. Mereka membayar iuran Rp12.000 setiap selapan â siklus 35 hari dalam penanggalan Jawa â bertepatan dengan musyawarah RT. Dana itu digunakan untuk operasional pembangkit sekaligus perawatan lampu penerangan jalan.
Menurut Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong Sumberini, sistem itu selama ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga. Namun, pengurus mulai menyiapkan skema baru bagi pelaku usaha yang menggunakan daya lebih besar.
Saat ini, listrik dari PLTMH juga menggerakkan sedikitnya lima usaha mikro di dusun tersebut, mulai dari bengkel, pertukangan kayu, salon kecantikan, usaha es teh kemasan, hingga penetasan telur.
"UMKM tentu membutuhkan daya watt yang lebih tinggi. Ke depan, kami di kepengurusan akan merembuk kembali untuk menyesuaikan tarif iuran bagi sektor usaha agar tetap proporsional," kata Sumberini.
Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kulon Progo Aris Nugroho, PLTMH Kedungrong lahir dari upaya masyarakat memanfaatkan potensi lokal setelah bencana longsor pada 2001. Bersama kalangan akademisi dan pemerintah daerah, gagasan tersebut berkembang hingga pembangkit mulai beroperasi 11 tahun kemudian.
Sejak itu, listrik yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan puluhan rumah tangga dan penerangan jalan, tetapi juga menopang tumbuhnya berbagai usaha mikro di dusun tersebut.
Lebih dari satu dekade setelah turbin pertama berputar, aliran Irigasi Kalibawang masih terus menggerakkan pembangkit kecil di Kedungrong. Air yang selama puluhan tahun menghidupi sawah kini juga menerangi rumah dan jalan serta menggerakkan usaha warga.
Di Bukit Menoreh, cahaya itu datang dari aliran air yang dirawat bersama, dari iuran yang disepakati warga, dan dari gotong royong yang menjaga turbin tetap berputar. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.