7 Pasien Baru Positif Korona Tak Terdeteksi di Bandara

Kamis, 12 Mar 2020, 00:01 WIB

JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah RI untuk Penanganan Corona, Achmad Yurianto, mengumumkan tujuh kasus baru positif virus korona Covid-19 di Indonesia, Rabu (11/3). Tujuh pasien itu adalah warga negara Indonesia yang baru saja pulang dari luar negeri. Pemerintah menduga mereka tertular di luar negeri sehingga mengategorikan ketujuh kasus ini sebagai imported case.

Ket. Foto: DISEMPROT DISINFEKTAN I Petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan (KKP) Maumere, Nusa Tenggara Timur, menyemprotkan disinfektan ke tubuh satu dari enam pelajar yang mengikuti program pertukaran pelajar Asia Kakehashi Project selama delapan bulan di Jepang, saat tiba di bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (11/3). Enam pelajar dari Kabupaten Sikka itu selama 14 hari akan menjalani masa pemantauan untuk memastikan mereka dalam kondisi sehat atau bebas dari Covid-19 walaupun sudah melewati screening di Jepang saat berangkat, dan di Jakarta saat tiba di Bandara Soekarno Hatta. — Sumber: ANTARA/KORNELIS KAHA

Yurianto mengakui ketujuh pasien tersebut tak terdeteksi menunjukkan gejala korona saat tiba di bandara. Dia beralasan, tujuh pasien itu tidak mengalami demam tinggi sehingga lolos dari pemeriksaan thermal scanner.

"Beberapa waktu yang lalu sudah saya katakan bahwa dengan kemudian kondisi penyakit sebagian besar ringan sedang, maka dia masuk dalam kondisi tidak panas terlalu tinggi dan tidak akan terdeteksi oleh thermal scan," kata Yurianto, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/3).

Menurut Yurianto, para pasien hanya menerima health alert card saat tiba di bandar udara di Tanah Air. Kartu peringatan itu diberikan kepada para pendatang yang berasal dari negara positif korona.

"Maka pada saat mereka merasakan tidak enak badan, mereka mendatangi beberapa rumah sakit dan kemudian menunjukkan kartu itu. Itu menjadi upaya deteksi kita," ucap Yurianto.

Dengan penambahan tujuh kasus ini, maka sudah ada 34 orang yang dinyatakan pasien positif Covid-19. Dari 34 orang itu, dua orang yakni pasien 06 dan pasien 14 belakangan dinyatakan sembuh, sementara pasien 25 meninggal dunia di Denpasar, Bali.

Ketujuh WNI yang baru pulang dari luar negeri dan dinyatakan positif korona itu sempat beraktivitas beberapa hari sebelum masuk ke rumah sakit. Pemerintah kini menelusuri orang yang sempat melakukan kontak fisik dengan ketujuh pasien tersebut.

"Iya, karena itu tracing dilakukan," kata Yurianto.

Meninggal di Bali

Sementara itu, satu pasien positif Covid-19 meninggal dunia di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Rabu (11/3) dini hari. Pasien tersebut adalah pasien kasus nomor 25. "Tadi malam pukul 02.00 WIB lewat sedikit, pasien identitas nomor 25 meninggal dunia," kata Yurianto.

Pasien tersebut merupakan perempuan warga negara Inggris berusia 53 tahun. Menurut Yurianto, pasien itu masuk ke rumah sakit dalam keadaan sakit berat karena menderita hipertensi, hipertiroid, diabetes, dan Chronic Obstuctive Pulmonary Disease (COPD).

Di tempat terpisah, Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menambahkan WNA kasus 25 itu baru empat hari lalu masuk wilayah Indonesia. Dewa Made Indra bahkan mengaku tidak tahu bahwa RSUP Sanglah, Denpasar, telah merawat pasien nomor 25 virus korona itu. Dalam data Pemda Bali, pasien yang meninggal itu masih dalam status pengawasan di ruang isolasi RSUP Sanglah Denpasar, Bali.

Pasien kasus nomor 25 masuk ke RSUP Sanglah Denpasar pada Senin (9/3). Perempuan itu mengeluhkan gejala korona. WNA itu diperiksa tim RSUP Sanglah Denpasar sesuai prosedur yang telah ditetapkan.

Saat menjalani observasi di ruangan isolasi, tim medis menyebut pasien itu menderita diabetes, hipertensi, hiperteroid, dan penyakit paru obstruksi menahun. Tim RSUP Sanglah juga mengambil sampel dari pasien itu. Sampel lalu dikirimkan ke Litbangkes RI.

"Hingga pasien itu meninggal, RSUP Sanglah belum menerima hasil laboratorium itu. Tidak ada pemberitahuan dari pusat. Kami pun menghubungi Kementerian Kesehatan untuk menginformasikan hal itu," tegas Made.

Tetapi, Yurianto mengatakan dokter penanggung jawab pasien di RS Sanglah sudah mengetahui. "Dokter penanggung jawab pasien sudah tahu," kata Yurianto. n Ant/P-4

Redaktur: Khairil Huda

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.