- Home
-
- Perspektif
-
- Berjualan Buku Demi Menyel...
Berjualan Buku Demi Menyelesaikan SMA
Sabtu, 21 Des 2019, 05:00 WIBPada era digital sekarang ini, internet tidak hanya memangkas jarak dan waktu. Kehadirannya banyak memberi kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam penjualan buku. Cara baru berjualan ini memudahkan penjual dan pembeli. Bagi penjual, dia tidak harus memiliki toko secara fisik untuk memajang bukunya. Juga tidak perlu memikirkan sewa tempat sebagaimana toko buku pada umumnya.
Penjual hanya perlu mengunggah foto buku yang dijualnya, lalu memberikan keterangan, harga dan jasa pengiriman yang digunakan. Pengiriman dilakukan setelah pembeli melakukan pembayaran yang dilakukan secara transfer. Namun, berjualan dengan cara online ini juga ada suka dukanya.
Bagi Hana Asmara, seorang remaja yang tengah duduk di bangku SMA, berjualan buku secara online merupakan cara untuk membantu orangtuanya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi (hal 108). Ia mengajukan diri untuk menjadi bagian dari tim penjualan buku yang bergerak secara online. Permasalahan timbul ketika Hana tak memiliki laptop atau pun ponsel android.
Belum lagi ilmu berjualan online yang tak dimilikinya sama sekali. Namun, ia tak patah semangat. Sebagai bentuk keseriusan dalam berjualan, maka setiap pulang sekolah, ia akan mampir ke warnet untuk mengunduh buku, lalu mempromosikannya ke akun media sosial. Ia juga melakukan berbagai usaha untuk menarik minat pembeli.
Perjuangan yang tanpa henti itu membuat Hana berhasil membeli dua ponsel dan mampu membiayai sekolahnya hingga tamat SMA. Bagi Re Tiapian berdagang bukanlah hal baru. Sejak kecil ia terbiasa melihat ibunya berjualan. Sebelum berjualan buku, Re telah menjual berbagai jenis barang, mulai dari pakaian, aksesoris, hingga makanan (hal 119).
Sayangnya, Re tetap harus memiliki pengalaman buruk saat menjual buku. Semua bermula ketika Re tidak memiliki pengetahuan tentang dunia buku. Harga murah dan banyaknya buku yang didapat ketika membeli, membuatnya tergiur untuk menjualnya lagi. Tanpa melakukan pengecekan, Re lalu mempromosikannya.
Semula Re senang mendapati buku-bukunya laris terjual. Hingga salah satu sahabatnya yang juga membeli buku, mengajukan protes dan menyatakan jika ia tidak menjual buku asli. Meski temannya tidak meminta ganti rugi, hal ini membuat Re lebih berhati-hati memilih buku yang akan dijualnya kembali. Berbeda halnya dengan Erdittya Ekanovie.
Baginya buku termasuk salah satu barang mewah. Minimnya pendapatan, sedangkan begitu banyak kebutuhan, membuatnya harus jeli mengatur keuangan. Di sisi lain, ia memiliki minat baca yang tinggi. Untuk memenuhi hasrat membaca, di hari libur Erdittya sering mengajak suaminya pergi ke perpustakaan (hal 150).
Sesekali ia juga menabung untuk membeli buku diskon. Suatu hari, salah seorang teman memberitahunya tentang perekrutan tim penjualan buku. Karena cara berjualannya bisa dilakukan sambil tetap melakukan kegiatan rumah tangga, Erdittya pun mencobanya. Hingga akhirnya ia mampu menjual dalam omset yang sangat besar.
Tentu saja hal ini membuatnya meraup banyak keuntungan. Dari keuntungan itu akhirnya Erdittya bisa memenuhi keinginan memiliki buku-buku impiannya. Buku ini bersisi 33 tulisan dari para pedagang buku online.
Mereka tak hanya mengisahkan tentang bagaimana berjualan, atau meraih keuntungan. Namun juga menceritakan kisah-kisah lain yang berkaitan dengan dunia buku.
Peresensi, Suratmi, pencinta buku. Karyanya pernah dimuat di Femina, Kompas, Koran Jakarta, Solopos, Kedaulatan Rakyat.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.