Riset: Mikroplastik Ada di Mana-mana, Bahkan pada Napas Lumba-lumba
📅 Sabtu, 16 Nov 2024, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Wired/Getty
Leslie Hart, College of Charleston dan Miranda Dziobak, College of Charleston
Lumba-lumba hidung botol di Teluk Sarasota, Florida, dan Teluk Barataria, Louisiana, ditemukan mengembuskan napas yang mengandung serat mikroplastik. Temuan ini berdasarkan penelitian terbaru kami yang dipublikasikan di jurnal PLOS One.
Mikroplastik, atau potongan plastik yang berukuran sangat kecil, kini telah menyebar ke seluruh penjuru planet ini–tidak hanya di daratan, tetapi juga di udara, bahkan di awan.
Di lautan saja, diperkirakan ada sekitar 170 triliun partikel mikroplastik. Di seluruh dunia, penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik masuk ke tubuh manusia dan satwa liar terutama lewat makanan dan minuman, serta melalui udara yang kita hirup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi kami menemukan bahwa partikel mikroplastik yang diembuskan oleh lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) memiliki komposisi kimia serupa dengan yang ditemukan di paru-paru manusia. Namun, belum diketahui apakah lumba-lumba terpapar lebih banyak mikroplastik dibandingkan manusia.
Mengapa ini penting?
Pada manusia, menghirup mikroplastik dapat menyebabkan peradangan paru-paru, yang berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kerusakan jaringan, produksi lendir berlebihan, pneumonia, bronkitis, jaringan parut, dan bahkan kemungkinan kanker. Karena lumba-lumba juga menghirup partikel plastik yang sama, mereka mungkin menghadapi risiko masalah paru-paru yang serupa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa bahan kimia pada plastik diketahui dapat memengaruhi kesehatan manusia, misalnya mengganggu fungsi reproduksi, kesehatan jantung dan fungsi sistem saraf. Sebagai sesama mamalia, lumba-lumba mungkin juga menghadapi risiko kesehatan yang sama akibat mikroplastik.
Sebagai predator teratas dengan rentang hidup puluhan tahun, lumba-lumba hidung botol menjadi ‘indikator alami’ yang dapat membantu para ilmuwan memahami dampak polutan terhadap ekosistem laut dan risiko kesehatan terkait bagi orang-orang yang tinggal di dekat pesisir pantai. Temuan ini penting karena lebih dari 41% populasi manusia di dunia tinggal dalam jarak 62 mil atau 100 kilometer dari garis pantai.
Apa yang masih belum diketahui
Para ilmuwan memperkirakan lautan mengandung triliunan partikel plastik yang masuk ke laut melalui limpasan, air limbah, atau bahkan terbawa angin. Ombak yang berdebur dapat membawa partikel-partikel mikroplastik ini ke udara.
Bayangkan gelembung yang pecah di permukaan laut; partikel mikroplastik yang menempel di buih itu terlempar ke udara ketika gelembung pecah. Angin kemudian dapat membawanya ke lokasi yang jauh. Ombak lautan diperkirakan dapat melepaskan 100.000 metrik ton mikroplastik ke atmosfer setiap tahunnya. Lumba-lumba dan mamalia laut lainnya yang bernapas di permukaan sangat rentan terhadap paparan ini.
Di wilayah dengan populasi manusia yang lebih tinggi, biasanya akan ditemukan lebih banyak plastik. Namun, hubungan sebab-akibat ini tidak berlaku pada partikel-partikel plastik kecil yang melayang di udara. Mikroplastik di udara tidak terbatas pada area yang padat penduduk saja; mereka juga ditemukan mencemari daerah yang belum berkembang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!