Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Pemilu 2024 -- Wapres: Waspadai Potensi Gerakan Radikal Jelang Pemilu

Polri Atasi Teror di Tahun Politik dengan Dua Pendekatan

Foto : ANTARA/Fath Putra Mulya

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo (dua kanan) saat konferensi pers usai menghadiri Acara Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-13 BNPT RI di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (28/7).

A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam hal ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, terus melakukan pendekatan lunak (soft approach) hingga keras (hard approach) sebagai upaya untuk mengatasi teror pada tahun pemilihan umum (pemilu).

Hal tersebut dikatakan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo usai menghadiri Acara Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-13 Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (28/7).

"Tentunya terus melakukan kegiatan mulai yang sifatnya soft approach sampai dengan hard approach yang saat ini kami ubah menjadi langkah-langkah yang sifatnya pencegahan dan mengamankan atau biasa disebut dengan preventive strike," kata Sigit.

Dia menyebut strategi tersebut juga dilakukan dalam beberapa kegiatan internasional, seperti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dan KTT ASEAN yang digelar di dalam negeri beberapa waktu lalu. "Dan alhamdulillah bahwa di event-event besar tersebut, sesuai dengan arahan Bapak Presiden, tidak terjadi letupan sekecil apa pun," imbuhnya.

Oleh sebab itu, ia menyebut strategi tersebut juga diteruskan dalam menghadapi Pemilu 2024. Pasalnya, Polri memahami bahwa tahun politik berpotensi digunakan oleh kelompok-kelompok yang terafiliasi dengan terorisme. "Khususnya pada saat terjadi perbedaan pendapat atau konflik, apalagi kemudian itu menggunakan isu-isu SARA. Tentunya kami mengantisipasi ini," ucap Kapolri.

Selain itu, Kapolri menjelaskan bahwa pihaknya juga melakukan pembinaan terhadap mantan narapidana terorisme (napiter). "Bekerja sama dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dengan Kementerian Agama, dengan tokoh agama untuk terus melakukan langkah-langkah moderasi beragama, sehingga paham-paham tersebut bisa kita cegah," ucap Sigit.

Kemudian, terhadap aksi-aksi yang berpotensi menimbulkan dampak yang mengganggu dan membahayakan jalannya pemilu, maka akan dilakukan penangkapan.

"Dan tentunya seluruh anggota kita, didukung oleh Bapak Panglima TNI, terus waspada; khususnya di wilayah-wilayah yang menjadi basis dari kelompok-kelompok itu," kata Sigit.

Tumbuh Subur

Dalam kesempatan sama, Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin meminta BNPT mewaspadai potensi gerakan radikal terorisme tumbuh subur menjelang pemilu. "Gerakan radikal terorisme berpotensi tumbuh subur menjelang pemilu. Pahami segala bentuk risiko agar tidak dimanfaatkan oleh kaum intoleran untuk memengaruhi dan memecah belah umat Islam," ujar Wapres.

Ma'ruf Amin meminta BNPT dan pihak terkait ikut memonitor dan mengawasi media sosial, terutama menjelang berlangsungnya Pemilu 2024. "Monitor dan awasi media sosial, terutama menjelang Pemilu 2024. Cegah penyalahgunaan media sosial agar tidak menjadi tempat yang subur bagi narasi-narasi intoleran dan ujaran kebencian," katanya.

Wapres juga meminta BNPT tidak lengah karena organisasi teror akan selalu mencari jalan untuk menyebarkan paham-paham radikal, terutama kepada kelompok rentan, yaitu perempuan, pemuda, dan anak-anak. "Kita perlu terus mencermati dan mewaspadai kondisi di lapangan, seperti adanya indikasi peningkatan kategori di kalangan siswa atau generasi muda. Pertama, dari toleran menjadi intoleran pasif, kemudian intoleran pasif menjadi aktif, dan dari intoleran aktif menjadi terpapar," kata Wapres.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat menjadi berbahaya apabila tidak dilakukan tindakan yang tepat dan dan terukur.

Ma'ruf Amin menekankan bahwa terpaparnya remaja dan anak akan mengakibatkan hilangnya potensi generasi emas bangsa pada tahun 2045.

Kepala BNPT RI Rycko Amelza Dahniel posisi Indonesia dalam Global Terrorism Index semakin baik, yakni berada pada kategori terdampak sedang atau medium impacted. "Posisi Indonesia, kami laporkan, dalam Global Terrorism Index semakin baik, dalam kategori medium impacted," kata Rycko.

Rycko mengatakan penurunan ini sangat tajam sampai dengan 89 persen lebih, indeks potensi radikalisme dan indeks risiko terorisme juga terus menurun.


Redaktur : Sriyono
Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top