Mahathir: Jangan Salahkan Saya Mundur dari PM Malaysia
📅 Minggu, 19 Feb 2023, 10:48 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: The Straits Times
PETALING JAYA - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada Sabtu (18/2) mengatakan dia tidak dapat disalahkan karena mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada 2020.
Mahathir mengatakan, saat itu dia mengundurkan diri karena kehilangan dukungan dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia yang dia dirikan dan pimpin saat itu, harian Melayu Sinar Harian melaporkan, Sabtu (18/2).
"Saya mengundurkan diri karena partai saya menolak saya, dan biasanya dalam demokrasi, ketika kami ditolak oleh partai, kami mengundurkan diri.
"Selain itu, saya juga menyadari bahwa pemerintahan Pakatan Harapan akan jatuh karena pencela dari Bersatu dan PKR (Partai Keadilan Rakyat)," ujarnya merujuk pada partai-partai koalisi PH.
"Saya tidak mengerti mengapa orang menyalahkan saya karena mengundurkan diri sebagai PM.Mereka seharusnya menyalahkan mereka yang tidak mendukung pendirian saya."
Sebaiknya Anda baca juga:
Mahathir menambahkan, bahwa saat itu dia telah meminta Bersatu untuk mengambil pendekatan wait and see alih-alih meninggalkan PH.
"Sebaliknya, mereka menggebrak meja dan menyuruh saya meninggalkan PH sekarang, dan sepertinya mereka menolak saya," ujarnya.
Mahathir mengatakan ini ketika dia diminta untuk menanggapi pidato Raja Malaysia saat pembukaan sesi parlemen pada 13 Februari.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam sambutannya, Sultan Abdullah Ahmad Shah mengatakan, kekacauan politik berkepanjangan yang melanda Malaysia selama empat tahun terakhir dapat dicegah jika anggota parlemen dan politisi mengesampingkan perbedaan mereka untuk melayani rakyat.
Tiga perdana menteri datang dan pergi di bawah pemerintahan Sultan Abdullah, karena serangkaian penggulingan dan pengunduran diri politik. Dimulai dari Mahathir Mohamad yang mengundurkan diri pada Februari 2020, diikuti Muhyiddin Yassin yang diangkat oleh Raja pada bulan berikutnya.
Setelah Muhyiddin mengundurkan diri pada Agustus 2021, Raja kembali dipaksa untuk memilih dan menunjuk perdana menteri baru, wakil presiden UMNO Ismail Sabri Yaakob.
Raja konstitusional yang memainkan sebagian besar peran seremonial dapat menunjuk siapa pun yang dia yakini akan memimpin mayoritas di Parlemen.
Pemilihan umum November lalu menghasilkan Parlemen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baik pemimpin oposisi Anwar Ibrahim maupun Muhyiddin tidak memenangkan mayoritas sederhana yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan. UMNO mengalami kekalahan terburuk dalam sejarah.
Setelah proposal Raja untuk Anwar dan Muhyiddin agar bekerja sama ditolak oleh Muhyiddin, dia kembali dipaksa untuk memilih perdana menteri berikutnya, Anwar. Demikian dilaporkan The Straits Times.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!