Keren, untuk Pertama Kalinya Penggunaan PLTS Lampaui Batu Bara di Uni Eropa pada 2024
📅 Jumat, 24 Jan 2025, 01:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
PARIS - Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dilaporkan telah melampau batu bara dalam produksi listrik Uni Eropa pada tahun 2024, dengan pangsa energi terbarukan meningkat hingga hampir setengah dari sektor listrik blok tersebut.
"Sementara itu, pembangkitan gas mengalami penurunan selama lima tahun berturut-turut dan tenaga berbahan bakar fosil merosot ke titik terendah dalam sejarah," kata lembaga pemikir iklim Ember dalam Tinjauan Listrik Eropa 2025, Kamis (23/1).
Menurut lembaga pemikir tersebut, kesepakatan hijau Eropa telah menghasilkan transformasi yang mendalam dan cepat pada sektor energi Uni Eropa.
"Tenaga surya tetap menjadi sumber daya listrik dengan pertumbuhan tercepat di Uni Eropa pada tahun 2024, melampaui batu bara untuk pertama kalinya. Tenaga angin tetap menjadi sumber daya listrik terbesar kedua di Uni Eropa, di atas gas dan di bawah nuklir."
Dikutip dari Bangkok Post, secara keseluruhan, pertumbuhan yang kuat dalam tenaga surya dan angin telah meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 47 persen, naik dari 34 persen pada tahun 2019. Bahan bakar fosil telah turun dari 39 menjadi 29 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Peningkatan produksi tenaga angin dan surya merupakan alasan utama menurunnya produksi bahan bakar fosil. Tanpa penambahan kapasitas tenaga angin dan surya sejak 2019, UE akan mengimpor 92 miliar meter kubik gas fosil dan 55 juta ton batu bara keras, yang menelan biaya 59 miliar, euro" kata laporan itu.
Terus Berkembang
Menurut Ember, tren ini tersebar luas di seluruh Eropa, dengan tenaga surya terus berkembang di semua negara Uni Eropa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih dari separuh negara kini telah menghilangkan batu bara, bahan bakar fosil yang paling berpolusi, atau mengurangi porsinya hingga kurang dari lima persen dari bauran energi mereka.
"Bahan bakar fosil kehilangan cengkeramannya pada energi UE," kata Chris Rosslowe, penulis utama laporan tersebut.
"Pada awal kesepakatan hijau Eropa tahun 2019, hanya sedikit yang mengira transisi energi Uni Eropa akan seperti sekarang. Tenaga angin dan tenaga surya menggeser batu bara ke pinggiran dan mendorong gas ke jurang kemunduran."
Namun Rosslowe memperingatkan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. "Kita perlu mempercepat upaya kita, terutama di sektor tenaga angin," katanya.
Menurut Rosslowe, sistem kelistrikan Eropa juga perlu meningkatkan kapasitas penyimpanannya untuk memanfaatkan energi terbarukan, yang menurut definisinya bersifat terputus-putus.
Pada tahun 2024, energi matahari yang melimpah membantu menekan harga di tengah hari, bahkan terkadang mengakibatkan "jam-jam harga negatif atau nol" karena pasokan yang melimpah dibandingkan dengan permintaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!