Intelijen Belanda Lakukan Penyiksaan Ekstrem Selama Perang Kemerdekaan
📅 Rabu, 25 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Penyiksaan terhadap tawanan perang dan lainnya secara resmi dilarang oleh pimpinan angkatan darat Belanda. Namun pada masa Perang Kemerdekaan, penyiksaan ekstrem dilakukan intelijen Belanda untuk mengorek informasi.
Badan intelijen militer Belanda mengirimkan regu pembunuh untuk melikuidasi lawan selama Perang Indonesia (1945-1950). Sejarawan Rémy Limpach dalam bukunyaGroping in the Dark(Meraba-raba dalam Gelap) melaporkan secara lengkap sepak terjang intelijen selama masa tersebut.
Peristiwa Perang Kemerdekaan yang terjadi antara tahun 1945 hingga 1949 masih terus menjadi perhatian menarik bagi para sejarawan Belanda. Perang yang disebut Belanda dengan namaIndonesië-Oorlogatau Perang Indonesia dibahas kembali oleh sejarawan Rémy Limpach dalam bukunya itu.
Perang Kemerdekaan sudah ada dalam buku ringkasanOver de Gren(Melewati Perbatasan) (2022). Buku ini berisi tentang penelitian besar sejarah di Indonesia yang dilakukan oleh tiga lembaga ilmiah. Di sini Limpach memberi gambaran yang tidak menarik tentang badan intelijen militer Belanda di Indonesia.
Ronald Frisart seorang jurnalis memaparkan secara sekilas isi buku tersebut di lamanHistoriek. Disimpulkan bahwa tentara Belanda merupakan pelaku kekerasan ekstrem yang sangat besar di Belanda. Penulis juga mendokumentasikan bahwa dalam memperlakukan orang-orang Indonesia mereka bahkan sering menggunakan penyiksaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam bukunya yang kini diterbitkan, yang merupakan seri kesebelas setelah penelitian ekstensif di Indonesia, Limpach mengeksplorasi permasalahan ini dengan lebih rinci. Temuannya mengenai regu pembunuh Belanda benar-benar baru, karena pada buku-buku sebelumnya oleh sebelumnya belum pernah disebut.
Menurut Frisart, ia menulis dengan cara yang lebih netral sebagai regu pembunuh karena tidak hanya membunuh pemimpin geng Indonesia namun juga juga berusaha mendapatkan informasi intelijen dan menangkap orang-orang yang dicurigai. Pemimpin geng di sini diartikan sebagai orang-orang Indonesia yang terlibat dalam spionase, sabotase, atau tindakan subversif lainnya atau dicurigai melakukan hal tersebut.
Regu pembunuh tersebut sebagian besar aktif di Jawa Barat dan Timur. Limpach menemukan indikasi bahwa mereka juga aktif di Jawa Tengah dan Sumatera Barat, walaupun kurang intensif. Namun, hanya ada sedikit bahan arsip mengenai hal ini sehingga hampir tidak ada yang dapat dikatakan dengan pasti mengenai dua wilayah terakhir ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Regu pembunuh dibentuk oleh Kelompok Intelijen dan Keamanan (IVG) tentara Belanda dan, di Jawa Timur, oleh Brigade Marinir Dinas Keamanan (VDMB). Kadang-kadang tentara Belanda yang berkulit putih, menjadi bagian dari kelompok tersebut. Namun mereka cukup mudah dikenali, sehingga tentara Indonesia (seperti orang Maluku) atau Indo-Eropa dan personel tambahan (seperti mata-mata) lebih banyak dipilih.
Kelompok penyerangan militer tidak hanya menyerang wilayah yang diduduki pasukan Belanda, namun juga di garis demarkasi sisi Indonesia. Hal ini sangat mengejutkan, karena pihak berwenang Belanda sering mengeluhkan pelanggaran yang dilakukan Indonesia terhadap garis gencatan senjata tersebut. Namun pelanggaran juga sering terjadi di pihak Belanda.
Regu pembunuh ini sebagian besar beroperasi sendiri. Mereka tidak menerima instruksi rinci dari atasan mereka, meskipun kadang-kadang diperintahkan untuk melakukan pembunuhan. Dalam sebagian besar kasus, para komandan mengetahui dan menyetujui aktivitas regu pembunuh ini.
Penyiksaan dilakukan oleh tentara intelijen. Pasukan lainnya juga menyadari hal ini, namun orang-orang intelijen sering kali bekerja secara terpisah dari unit mereka yang lain.
Penyiksaan terhadap tawanan perang dan lainnya secara resmi dilarang oleh pimpinan angkatan darat, namun tindakan tersebut ditutup-tutupi. Hampir tidak pernah ada hukuman apa pun.
Limpach menulis bahwa penyiksaan diterapkan secara sistematis. Penyiksaan bahkan sampai mati dilakukan dengan cara disetrum,waterboarding, pemukulan dan masih banyak lagi cara dan metode lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!