Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Negara Maritim, tapi Kekurangan Peneliti Laut Dalam

📅 Selasa, 23 Mei 2023, 13:28 WIB | Oleh: Tim Penulis
Indonesia Negara Maritim, tapi Kekurangan Peneliti Laut Dalam Doc: The Conversation/KKP
Ket. Ilustrasi peneliti kelautan.

Yosmina Tapilatu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Meski berstatus negara maritim, Indonesia masih kekurangan ilmuwan terampil yang berfokus pada penelitian laut dalam. Kawasan ini masih amat jarang diteliti.

Data Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), per 2023 hanya ada sekitar 20 peneliti aktif dalam pusat riset ini. Dari jumlah tersebut, ada tiga yang sudah mendekati atau masuk masa pensiun.

Selain jumlah peneliti, publikasi riset laut dalam dari Indonesia pun tak banyak yang sudah terbit sejak 5-10 tahun terakhir, jika dibandingkan dengan publikasi terkait riset di wilayah pesisir.

Kondisi ini amat disayangkan. Seharusnya Indonesia memiliki lebih banyak peneliti yang melakukan kajian ilmiah mengenai laut dalam. Masalah yang sama juga dihadapi oleh negara-negara berkembang lainnya yang memiliki wilayah laut dalam.

Kawasan laut dalam memiliki karakter kedalaman 200 meter atau lebih, bertekanan air (hidrostatis) tinggi, tak tertembus cahaya, dan bersuhu amat dingin -4°C (kecuali di Laut Mediterania yang bersuhu 13°C sepanjang tahun dan ada yang bersuhu tinggi 60-464°C di lokasi tertentu).

Kawasan laut dalam layak diteliti karena memiliki beraneka manfaat jasa ekosistem yang menopang kehidupan di Bumi seperti penyerapan karbon, sumber pangan, obat-obatan, hingga bahan mineral. Keberadaan makhluk hidup di laut dalam juga layak ditelusuri agar kita mendapatkan pengetahuan seputar adaptasi mereka di lingkungan ekstrem.

Sekitar 70% dari total wilayah laut Indonesia tergolong laut dalam (analisa data batimetri Indonesia, Badan Informasi Geospasial). Lebih dari separuhnya berada di kawasan timur, meliputi Laut Banda, Laut Arafura, Laut Seram, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Sawu, Laut Timor, dan Samudera Pasifik di bagian utara Papua. Dua wilayah laut dalam lainnya berlokasi di bagian barat Indonesia, yakni Samudera Hindia di sebelah barat Pulau Sumatra dan di selatan pulau Jawa.

Sebagai ilmuwan yang berkiprah di penelitian laut dalam, saya mengusulkan beberapa solusi: perbaikan di institusi pendidikan tinggi, kolaborasi penelitian, dan edukasi publik. Langkah ini bisa dilakukan pemerintah, perguruan tinggi, dan institusi riset untuk memperbaiki persoalan jumlah dan iklim riset laut dalam di Indonesia.

Peningkatan intensitas dan kualitas riset diperlukan untuk lebih memahami ekosistem laut dalam. Pemahaman yang lebih baik merupakan dasar pengambilan keputusan berbasis sains yang holistik terkait manajemen sumber daya laut dalam.

1. Memupuk minat ilmuwan laut dalam sejak dini

Sektor pendidikan tinggi Indonesia mesti berkontribusi mengenalkan laut dalam Indonesia dan segala potensinya sejak pendidikan sarjana. Saat ini, pengenalan laut dalam kepada mahasiswa, khususnya di jurusan ilmu kelautan, amatlah kurang.

Hal ini merupakan refleksi dari pengalaman saya sendiri sebagai mahasiswa sarjana program studi ilmu kelautan salah satu universitas negeri tertua di Provinsi Maluku.

Selama empat tahun pendidikan (1995-1999), saya tidak ingat pernah belajar tentang laut dalam, atau bahkan mengetahui informasi terkait Palung Weber, palung terdalam di Indonesia yang ada di Laut Banda, Maluku.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.