Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Banjir Bandang di Libya, Bencana Alam atau Akibat Manusia?

📅 Jumat, 15 Sep 2023, 13:28 WIB | Oleh:
Banjir Bandang di Libya, Bencana Alam atau Akibat Manusia? Doc: Aljazeera/AP/Yousef Murad
Ket. Tim pencari menyisir jalan-jalan, reruntuhan bangunan, dan bahkan laut untuk mencari mayat di Derna, tempat runtuhnya dua bendungan yang memicu banjir bandang besar yang menewaskan ribuan orang.

JAKARTA - Proses evakuasi jenazah yang terdampar di pantai Derna terus berlanjut, seiring dengan bertambahnya jumlah korban tewas.

Dilaporkan Al Jazeera, menurut Bulan Sabit Merah Libya, lebih dari 11.300 orang kini dipastikan tewas setelah Badai Daniel menghantam kota Libya timur pada hari Minggu (10/9) dan Senin (11/9), yang menyebabkan runtuhnya dua bendungan yang jebol dan mengeluarkan aliran air melalui dasar sungai yang kering dan menuju ke sungai kota.

Walikota Derna mengatakan jumlah korban tewas bisa lebih tinggi - hingga 20.000 orang - setelah seluruh lingkungan hanyut ke laut.

Air yang mengalir ke Derna digambarkan seperti tsunami besar.

Namun meski banyak orang, khususnya politisi Libya, menggambarkan apa yang terjadi sebagai akibat bencana alam, para ahli mengatakan bahwa korupsi, buruknya pemeliharaan infrastruktur publik - dan pertikaian politik selama bertahun-tahun - Libya terpecah menjadi dua pemerintahan yang bersaing -membuat banyak orang menjadi tidak berdaya. Negara tidak siap menghadapi peristiwa seperti Badai Daniel.

"Keadaan gejolak secara umum juga berarti banyak perselisihan mengenai alokasi dana," kata Claudia Gazzzini, analis senior International Crisis Group untuk Libya.Selama tiga tahun terakhir tidak ada anggaran pembangunan, yang seharusnya juga dikucurkan untuk dana infrastruktur, dan tidak ada alokasi untuk proyek-proyek jangka panjang, kata Gazzini.

"Dan tidak satupun dari kedua pemerintahan yang cukup sah untuk membuat rencana besar, sesuatu yang membatasi fokus pada infrastruktur," tambahnya.

Pasukan militer yang mendukung pemerintah saingan Libya - yang diakui secara internasional berbasis di Tripoli di barat dan yang berbasis di Benghazi di timur didukung oleh parlemen negara tersebut - telah berperang beberapa kali sejak 2014. Pemerintahan tersebut gagal menyelenggarakan pemilihan presiden yang direncanakan pada 2021.

Contoh nyata dari kurangnya investasi publik adalah bendungan di Derna, yang mengalami kerusakan parah.

Berbicara kepada Al Jazeera pada Selasa (12/9), Wakil Walikota Derna Ahmed Madroud mengatakan bahwa bendungan tersebut tidak dirawat dengan baik sejak 2002. Hal ini berarti bahwa pemerintahan diktator lama Libya, Muammar Gaddafi, dan pemerintahan yang muncul setelah ia digulingkan dalam revolusi di Libya 2011, telah gagal menjamin pemeliharaan infrastruktur penting.

Tahun lalu, sebuah makalah dari para peneliti di Universitas Omar Al-Mukhtar memperingatkan kedua bendungan tersebut memerlukan perhatian segera, dan menunjukkan bahwa terdapat "potensi risiko banjir yang tinggi".Namun tidak ada tindakan yang diambil.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.