Tak Lagi Andalkan Catatan Manual, Nelayan Morotai Mulai Beralih ke Sistem Digital UI

Rabu, 04 Nov 2026, 00:02 WIB

Depok - Tim Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Kelompok Riset Innovation & Comparative Governance Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (ICG FIA UI) memperkuat tata kelola pencatatan hasil tangkapan dan administrasi koperasi nelayan di Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, melalui penerapan Sistem Informasi Petani Nelayan (SiPeNy).

Tim UI menyosialisasikan sekaligus menguji coba aplikasi tersebut bersama pengurus koperasi dan nelayan untuk mendukung pencatatan hasil tangkapan serta pengelolaan administrasi koperasi secara digital.

Ket. Foto: Tim UI perkuat tata kelola pencatatan tangkapan koperasi nelayan Morotai. — Sumber: Antara

Ketua Tim ICG FIA UI Prof. Teguh Kurniawan dalam keterangannya yang diterima di Depok, Selasa (3/11), mengatakan teknologi digital berperan penting dalam mendorong transformasi administrasi perdesaan, mulai dari pengelolaan informasi hingga penguatan tata kelola koperasi.

Dalam sesi praktik, pengurus koperasi langsung mengoperasikan SiPeNy melalui gawai masing-masing. Fitur yang diuji meliputi pencatatan hasil tangkapan secara real-time, pemeriksaan data oleh petugas, pengelolaan buku kas dan simpanan, serta pembuatan laporan otomatis dalam format PDF dan Excel.

Teguh mengatakan salah satu keunggulan aplikasi tersebut adalah fitur pencatatan luring (offline) melalui perangkat anggota. Data yang direkam di wilayah dengan keterbatasan sinyal akan tersinkronisasi secara otomatis ketika perangkat kembali terhubung ke internet.

Fitur tersebut dinilai dapat menjawab tantangan konektivitas di wilayah pulau terluar.

Bendahara Koperasi Nelayan Tuna Pasifik Morotai Iqbal mengatakan SiPeNy dapat mempercepat penyusunan laporan keuangan harian hingga laporan pertanggungjawaban untuk Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Selama ini, administrasi koperasi masih mengandalkan pencatatan manual. Meski telah menggunakan Microsoft Excel, data harus dimasukkan satu per satu sehingga membutuhkan waktu dan berisiko menimbulkan kesalahan penghitungan.

Dengan sistem digital terpusat, beban administrasi dapat dikurangi sekaligus meminimalkan perbedaan pencatatan. Integrasi data juga diharapkan memudahkan pihak berwenang mengakses informasi yang seragam dan mendukung transparansi pengelolaan koperasi.

Sementara itu, Pengurus Koperasi Nelayan Tuna Pasifik Morotai Ahmad menegaskan keberhasilan digitalisasi tidak cukup hanya dengan menyediakan aplikasi, tetapi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia.

“Pengurus dan anggota memerlukan pelatihan dan pendampingan berkelanjutan agar SiPeNy benar-benar menjadi bagian dari rutinitas harian koperasi, bukan sekadar proyek seremonial,” katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.